Mitos Tuyul, Ekploitasi & Penipuan Spiritual
▪︎Heboh Pesugihan Tuyul di Lamongan Kota (3-Habis)
▪︎LAMONGAN-POSMONEWS.COM,-
Terhadap timbul dan tenggelamnya fenomena pesugihan tuyul atau yang lain di Lamongan menurut kalangan spiritualis tidaklah mengherankan. Karena di wilayah lokalnya konon juga terdapat banyak dukun legendaris yang juga memiliki keilmuan pesugihan.
Disamping mendatangi para dukun lokal itu, para pencari pesugihan juga mencari guru spiritual di wilayah lain di Jawa Timur, bahkan Jawa Tengah.
Dara yang dihimpun media ini wilayah Jawa Tengah, banyak tempat untuk melakukan ritual pesugihan tuyul, seperti : Sendang Pepeh, Gunung Suru, Pohon Ketos Klaten, dll. Sedangkan di Jawa Timur juga banyak tempat yang diyakini pusat ritual pesugihan tuyul.
Konon Gunung Sorowiti, Gresik, Jatim juga disebut tempat mencari pesugihan itu.
Namun, kembali lagi, hal-hal ini tidak memiliki dasar fakta yang dapat diandalkan.
Menurut pemerhati sosial, Arie Sutikno menyebut dalam banyak kasus, pesugihan tuyul sebenarnya merupakan bentuk penipuan atau penipuan spiritual yang bertujuan untuk mengeksploitasi orang-orang yang mencari solusi atau kekayaan cepat.
“Orang-orang yang terlibat dalam pesugihan semacam itu seringkali diperintahkan untuk memberikan sejumlah uang kepada “dukun” atau praktisi spiritual yang menyediakan jasa pesugihan. Namun, hasil yang dijanjikan seringkali tidak terpenuhi, dan orang-orang tersebut kehilangan uang mereka tanpa mendapatkan manfaat apa pun,” kata pria Karanggeneng yang juga menyenangi dunia spiritual ini.
Dalam menghadapi hal-hal seperti pesugihan tuyul, penting untuk menjaga kewaspadaan dan menggunakan akal sehat.
Lebih baik memilih jalur yang jelas, seperti belajar dan bekerja keras, untuk mencapai tujuan keuangan dan kesuksesan daripada terjerat dalam praktik-praktik yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan berpotensi merugikan.
Sesuai dengan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pesugihan tuyul lebih merupakan mitos atau kepercayaan yang tidak memiliki dasar fakta kuat.
“Sebaiknya, kita mengarahkan upaya dan energi kita pada hal-hal yang lebih produktif dan berdasarkan logika dan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” tukasnya.▪︎[DANAR/ARIFIN]


