Tosan Aji

Diabaikan, Pusaka Lambang Lamongan, Keris Mbah Jimat Menggugat

▪︎ LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Di Kabupaten Lamongan terdapat sebuah keris pusaka legendaris bernama Mbah Kiai Jimat yang dijadikan lambang (simbol) kota tersebut. Sayang dekade ini keberadaan keris yang bersejarah yang konon diyakini berasal dari Kasunanan Giri dan menjadi ageman tokoh-tokoh leluhur, adipati sampai era bupati, nasibnya terbaikan dan marginal.

Sangat kontras, dengan upaya pemerintah pusat yang berupaya ngleluri karya agung warisan budaya yang sangat dihargai karena eksistensinya. Bukti bahwa keris   di negeri ini telah diakui dunia sebagai  “Masterpiece of The Oral And Intengible Heritage of Humanity” oleh badan dunia Unesco pada tahun 2005.

Benda ini juga memiliki nilai sejarah, artistik dan estetika, bahkan juga mengandung nilai metafisik yang sarat makna simbolik

Termasuk keris Mbah Jimat yang kini tersimpan di  Griya Pusaka Mbah Jimat (GPMJ) di Jl. Sunan Giri, Gg. Pusaka, Groyok, Kel. Sukomulyo, Lamongan tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sebagai  pusaka lambang di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur setiap  tahun  dilestarikan melalui ritual sakral—seperti jamasan (pembersihan/penyucian) dan sangat dijunjung tinggi.

Ritual jamasan keris pusaka mbah Jimat juga baru saja digelar pada hari Rabu (27/5/2026) atau
10 Dzulhijah bakda salat Idul Adha 1447 yang lalu. Ritual Jamasan ini dihadiri keluarga juru kunci, masyarakat, Lurah, pegiat serta pemerhati sejarah, dan budaya Lamongan.

Kepada media ini Ketua Pelaksana Jamasan Pusaka Mbah Jimat, Asto, S.Pd menuturkan, meski tidak dihadiri oleh dinas terkait yakni Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar), dan pemangku wilayah (camat, red) namun jamasan tetap rutin digelar oleh keluarga juru kunci dengan biaya swadaya dan donasi warga yang peduli dengan pelestarian benda bersejarah.

“Alhamdulillah, untuk ritual jamasan keris pusaka Mbah Jimat kita gelar setiap tahun bertepatan dengan Idul Adha. Kebetulan tahun ini juga masih dalam, momen HJL ke 457,” tuturnya.

Meski acara Jamasan berlangsung lancar, namun Asto, mewakili juru kunci GPMJ, tokoh masyarakat dan pegiat budaya menyayangkan Dinas  Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) kurang peduli dengan kegiatan Jamasan ini.

” Bisa tergelar dengan biaya swadaya dan hasil donasi  untuk menyiapkan tempat, penjamas, uborampe, bahkan konsumsi untuk undangan yang hadir.

Untuk tumpeng, setiap tahun selalu disumbang oleh Bapak Bupati Yes. Hanya pemangku dinas terkait yakni Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) dan wilayah kecamatan yang selama ini belum tergerak hatinya dan menunjukkan kepeduliaanya. Kami berharap mereka bisa mendukung pelestarian budaya yang ditinggalkan tokoh leluhur Lamongan,” urainya.

Sejauh ini Dinas Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) yang juga mengetahui keberadaan GPMJ dan Ritual Jamasan ini seakan tidak peduli dengan kegiatan tersebut.

“Kita sudah rutin menggelar acara Jamasan keris pusaka Mbah Jimat. Setiap tahun dan selalu beriringan dengan kegiatan HJL. Maka cukup aneh jika dinas yang membawahi tidak berniat, misalnya memasukannya di sisi-sisi lain agenda HJL. Seperti dikolaborasikan dengan kegiatan ziarah tokoh keluhur dan tabur bunda, dll itu,” kata Asto mewakili curahan hati Wahyu Widowati, juru kunci GPMJ.

Dari pantauan media ini, disamping kegiatan Jamasan yang terkesan diabaikan,  juga
kondisi Griya Pusaka Mbah Jimat (GPMJ), pasca terbakar di tahun 2022 sudah butuh perbaikan. Perlu direnovasi karena  disana-sini sudah aus. Bagian depan dan ruang tengah, tampak kayu-kayunya yang lapuk. Bahkan pintu di ruang khusus penyimpanan pusaka itupun sudah dimakan rayap. Sungguh memprihatinkan.

Pegiat sejarah dan budaya dari Lesbumi, Bung Yon menuturkan, prihatin dengan kondisi situs Mbah Jimat dan GPMJ tersebut. Karena sangat bertolak belakang dengan moncernya sejarah, jatidiri dan simbol Lamongan, ternyata terpinggirkan.

“Sejarah keris Mbah Jimat disebut memiliki benang merah dengan Kasunanan Giri, dan Tumenggung Surajaya. Keris ini  disebut Manggala (memimpin), ketika mengawal Tumenggung Surajaya naik kereta atau berjalan. Pusaka ini konon merupakan hadiah dari Raden Haryo Jimat untuk Tumenggung Lamong I sebagai sahabat karib beliau,” katanya.

Dengan eksistensi tersebut, masih menurut Bung Yon, tentu tidak ada alasan otoritas Lamongan melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) untuk segera melihat GPMJ dan aktifitas di dalamnya. Mengingat konsistensi dukungan dari pemerintah daerah setempat dan dinas terkait harus maksimal, dan tidaklah setengah hati. Karena dari tugas para petinggi dinas terkait itulah yang bisa menguatkan para pegiat dan pelaku pelestari warisan budaya dan sejarah Lamongan itu tetap  bersemangat, berjuang dalam filosofi Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe.▪︎[DANAR SP]

Related Articles

Back to top button