Ditemukan Keris Pusaka Diduga Milik Raja Majapahit

735 dibaca

▪︎Ditemukan di dalam Sungai Brantas Jawa Timur
 
▪︎JATIM-POSMONEWS.COM,-
Kolektor benda-benda kuno atau bersejarah terus melakukan perburuan pusaka pemilik raja-raja di nusantara. Jali ini keris pusaka ditemukan di dalam Sungai Brantas, Jawa Timur. Diduga keris pusaka tersebut milik dari Raja Pertama Kerajaan Majapahit.

Keris ini terlihat masih sangat bagus. Bahkan masih ada batu permata yang tertinggal. Lantas bagaimana potret keris pusaka yang ditemukan di dalam Sungai Brantas diduga milik Raja Pertama Majapahit tersebut?

Melansir dari akun YouTube Kokka The Ancient, Jumat (30/12/2022), dan merdeka.com bahwa di dalam sungai tersebut, banyak ditemukan peninggalan dari kerajaan-kerajaan kuno. Mulai dari Majapahit, Kahuripan hingga Singasari.

“Di tempat ini banyak peninggalan dari Majapahit, Kahuripan, Singasari dan kerajaan-kerajaan lain,” ujar pemburu benda kuno, Abdul Azis.

“Banyak tantangan di sungai ini, di dalamnya banyak ikan-ikan sangat besar sekali, juga ada beberapa jenis binatang yang memang gawat di sini,” jelasnya.

“Di sini banyak terowongan-terowongan yang zaman dulu mungkin ditempati oleh jenis satwa yang purba. Nah mereka membuat terowongan-terowongan bahkan sampai berapa meter tembus, di dalam sungai,” tambahnya.

“Tampak terbawa arus Pak Azis,” kata pria yang merekam.

“Memang arus Brantas sangat kencang hari ini dan dingin sekali airnya kata beliau,” lanjutnya sembari menunggu Abdul Azis menyelam ke dasar sungai.

“Ini Majapahit awal,” jelas Abdul Azis.

“Ini yang dimiliki seorang raja besar yaitu Raden Wijaya, Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya. Beliau orang yang besar,” sambungnya.

▪︎Ada Batu Permatanya

Keris ini terlihat masih sangat bagus. Bahkan masih ada batu permata yang tertinggal.

“Ada batunya Masya Allah,” ujarnya terkejut.

“Ada batu-batunya, ini sebagian hilang ya. Masih ada batu permatanya,” tutupnya.

▪︎Sejarah Sungai Brantas 

Sungai Brantas sebuah sungai yang mengalir di Provinsi Jawa Timur. Sungai ini merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa, setelah Bengawan Solo. Penduduk yang tinggal di wilayah Sungai Brantas mencapai 15,2 juta orang (1999) atau 43 % dari penduduk Jatim, dan mempunyai kepadatan rata-rata 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jatim.

Adapun Sungai Brantas mempunyai peran cukup besar dalam menunjang Provinsi Jatim sebagai lumbung pangan nasional. Antara tahun 1994–1997, Provinsi Jatim rata-rata berkontribusi 470.000 ton beras/tahun atau sebesar 25 % dari stok pangan nasional.

Sejak abad ke-8, di DAS Brantas telah berdiri sebuah kerajaan dengan corak agraris, bernama Kanjuruhan. Kerajaan ini meninggalkan Candi Badut dan prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M sebagai bukti keberadaannya.

Wilayah hulu DAS Brantas di mana kerajaan ini berpusat memang cocok untuk pengembangan sistem pertanian sawah dengan irigasi yang teratur sehingga tidak mengherankan daerah itu menjadi salah satu pusat kekuasaan di Jawa Timur (Tanudirdjo, 1997).

Sungai Brantas maupun anak-anak sungainya menjadi sumber air memadai. Bukti terkuat tentang adanya budaya pertanian ditunjang pengembangan prasarana pengairan (irigasi) yang intensif ditemukan di DAS Brantas, lewat Prasasti Harinjing di Pare.

Ada tiga bagian prasasti ditemukan, yang tertua berangka tahun 726 S atau 804 M dan yang termuda bertarikh 849 S atau 927 M. Dalam prasasti ini, disebutkan pembangunan sistem irigasi (terdiri atas saluran dan bendung atau tanggul) disebut dawuhan pada anak Sungai Konto, yakni Sungai Harinjing (Lombard, 2000).

Sungai Brantas memiliki fungsi sangat penting bagi Jawa Timur mengingat 60% produksi padi berasal dari areal persawahan di sepanjang aliran sungai ini. Akibat pendangkalan dan debit air yang terus menurun sungai ini tidak bisa dilayari lagi.

Fungsinya kini beralih sebagai irigasi dan bahan baku air minum bagi sejumlah kota disepanjang alirannya. Adanya beberapa gunung berapi yang aktif di bagian hulu sungai, yaitu Gunung Kelud dan Gunung Semeru menyebabkan banyak material vulkanik mengalir ke sungai tersebut. Hal ini menyebabkan tingkat sedimentasi bendungan-bendungan di aliran sungai ini sangat tinggi.

Dalam sumpahnya, Lembu Sora  menyatakan “Blitar dadi latar, Tulungagung dadi kedung, Kediri dadi kali” (bahasa Jawa: Blitar menjadi lautan pasir, Tulungagung menjadi kubangan air, Kediri menjadi sungai), kemungkinan terinspirasi dari kondisi Sungai Brantas pada saat itu.▪︎[AHM/MDK]