Berita Utama

Jatim Kemarau, tapi “Udan Salah Mongso”

Istilah ”udan salah mongso” diambil dari pengungkapan orang-orang di pedesaan di Jawa. Ini biasa diutarakan ketika menyikapi perubahan musim tanam atau panen di tengah musim yang tidak menentu.

Ketika mendengar kata “udan salah mongso” (hujan salah musim) jangan ditafsirkan sebagai sikap menyalahkan Tuhan. Karena kalaupun ada “udan salah mongso”, sungai-sungai yang mulai mengering kini penuh kembali.

“Udan salah mongso” hanyalah ungkapan untuk menyebut hujan yang tidak semestinya turun pada saat tersebut. Sebenarnya ada banyak “mongso” bagi orang desa. “Mongso” selalu dikaitkan dengan siklus alam yang perlu diadaptasi untuk bercocok tanam dll.

Secara sederhana, “mongso” di Indonesia hanya ada 2, yaitu “rendeng” (musim hujan) dan “ketigo” (musim kemarau). Musim hujan terjadi pada bulan Oktober – April, sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan April – Oktober.

Untuk memudahkan ingatan, dahulu anak-anak sekolah dikenalkan istilah Oase – singkatan Oktober April Selatan Equator. Pada bulan tersebut terjadi angin dari arah benua Asia yang bersifat basah dan membawa hujan.

Sekarang agaknya istilah tersebut tidak lagi berlaku. Pasalnya, musim hujan dan kemarau tidak lagi teratur seperti dahulu. Seperti saat ini di bulan Juni, mestinya yang terjadi adalah musim kemarau. Akan tetapi turun hujan cukup deras (bahkan cukup sering), itulah yang diungkapkan sebagai “udan salah mongso”.

Jatim Memasuki Kemarau
Jawa Timur telah memasuki kemarau. Namun, hujan masih mengguyur sejumlah wilayah. Potensi hujan ini disebut masih berlangsung hingga sepekan ke depan.

Kasi Data dan Informasi BMKG Klas I Juanda Surabaya, Teguh Tri Susanto, mengatakan hal ini terjadi karena beberapa hal.

“Potensi hujan untuk saat ini di wilayah Jatim dipengaruhi oleh penjalaran gelombang atmosfer ekuator dari barat ke timur berupa gelombang MJO atau Madden Julian Oscillation,” kata Teguh di Surabaya, Kamis (17/6/2021).

Tak hanya itu, Teguh menyebut suhu muka laut perairan Jatim yang cukup hangat juga masih menjadi faktor terjadinya hujan di beberapa wilayah Jatim.

“Ditambah juga suhu muka laut di perairan Jatim yang masih cukup hangat diperkirakan potensi hujan akan masih berlangsung hingga sepekan ke depan,” imbuhnya.

Sementara itu, dari data yang diterima detikcom dari BMKG Stasiun Klimatologi Malang, menyebut berdasarkan monitoring hujan dasarian 10 Juni, secara umum sebagian besar wilayah di Jatim sudah masuk musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, memprediksi musim kemarau masih akan berlangsung hingga September 2021. Meskipun sering terjadi hujan ringan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

“Sudah masuk musim kemarau, biasanya sampai bulan September,” ujar Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Esti Kristantri saat di konfirmasi, Rabu (16/6/2021).

Menurutnya, walaupun sering terjadi hujan dengan intensitas ringan, bukan berarti petanda musim kemarau. Sebab, musim kemarau sudah masuk sejak April-Mei 2021. Hal itu dipengaruhi pada dasarian II dan III.

“Tanda musim kemarau bukan karena terjadi hujan. Tapi, curah hujan terukur di bawah 50 milimeter per dasarian selama tiga dasarian. Salah satu tanda itu masuknya musim kemarau,” katanya.

Musim kemarau telah masuk pada April 2021 terlihat dari dasarian II dan III. Untuk menentukan musim hujan dan musim kemarau, BMKG menggunakan kriteria banyaknya curah hujan setiap dasarian atau sudah mencapai 10 dasarian.

Data yang dilansir dari situs bmkg.go.id, menyebutkan, prakiraan musim kemarau 2021 pada 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami awal musim kemarau pada kisaran bulan Mei dan Juni sebanyak 198 ZOM atau 57,9 persen, dari 342 ZOM.

Bila dibandingkan rata-ratanya selama 30 tahun (1981-2010), awal musim kemarau tahun ini pada sebagian besar daerah yaitu 197 ZOM atau dengan presentase 57,6 persen, diperkirakan mundur terhadap rata-ratanya.

Sedangkan wilayah lainnya diprakirakan sama terhadap rata-ratanya, 97 ZOM (28,4 persen) dan maju terhadap rata-ratanya sebanyak 48 ZOM (14,0 persen). Sifat hujan selama musim kemarau tahun 2021 pada sebagian daerah yakni sebanyak 182 ZOM (53 persen) diperkirakan normal.

Di wilayah lainnya atas normal sebanyak 119 ZOM (34,8 persen) dan diprakirakan bawah normal sebanyak 41 ZOM (12,0 persen). Puncak musim kemarau tahun 2021, pada sebagian besar ZOM diperkirakan terjadi pada Agustus di 230 ZOM (67,3 persen).

Untuk wilayah yang sedang menghadapi musim kemarau meliputi, Aceh, sebagian Sumatera Utara, sebagian Jambi, Lampung bagian selatan, sebagian Banten, sebagian DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, DIY, dan sebagian besar Jawa Timur.

Wilayah lain yang mengalami musim serupa pada sebagian besar wilayah Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, Kalimantan Selatan bagian timur dan barat, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah bagian utara, sebagian kecil Sulawesi Utara dan Papua Barat bagian timur.**(zubi)

Related Articles

Back to top button