Jejak Wali

Dakwah Islam Lewat Budaya, Wayang dan Tembang Pangkur

▪︎ Sejarah Kewalian Mbah Sunan Mayang Madu (1)

▪︎ LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Ketertarikan media ini terhadap sejarah dan muasal Wayang Songsong di kediaman Ki Dalang Suko Edi Puspito, Miru, Kec. Sekaran, Kab. Lamongan, Jawa Timur yang legendaris di Lamongan ternyata mempunyai keterikatan dengan ketokohan dan karomah kewalian Mbah Sunan Mayang Madu di wilayah Paciran.

Meski ada dua versi yang menyangkut ketokohan dan jatidiri, namun beliau diakui sebagai penyebar Islam penting di pesisir utara Lamongan, Jawa Timur. Beliau sering dikaitkan dengan Raden Qasim (Sunan Drajat) karena gelar Sunan Mayang Madu itu konon diberikan oleh Raden Patah (Sultan Demak) sekitar tahun 1520 M.

Mayang Madu diartikan sebagai tokoh pesohor yang memiliki berpengaruh kuat, serta menciptakan kemakmuran dan menggunakan seni budaya luhur untuk berdakwah.   Makna lain adalah sosok yang memiliki kelembutan hati dan bisa memberi kemanisan (madu) dalam hal ini kesejahteraan umat yang dipimpinnya.

Beliau bersama Mbah Banjar, adalah tokoh kunci yang menyebarkan Islam di wilayah pesisir utara Lamongan. Salah satu media dakwahnya adalah dengan wayang dan tetembangan (Tembang Pangkur).

Dari penggalian data yang dihimpun media ini, ada dualisme pendapat mengenai identitas Mbah Mayang Madu. Beberapa sumber menyebutkan Mbah Mayang Madu adalah mertua dari Sunan Drajat, sementara sumber lain terkadang mencampurkan atau menyebut nama Sunan Mayang Madu sebagai salah satu nama lain dari Sunan Drajat itu sendiri. Namun, terlepas dari perdebatan tersebut, perananan beliau sangat lah penting sebagai penghubung dakwah antara Champa, Jawa, dan Wali Songo.

Di masa lampau, Mbah Mayang Madu oleh masyarakat Banjarwati dan sekitarnya hanya dikenal sebagai leluhur sepuh yang berkuasa di kawasan Banjarwati, bahkan karena di anggap sepuh; dahulu kala ada tradisi setiap ada hajat khususnya nikah, pengantin dan keluarganya ziarah ke makam Mbah Mayang Madu baru kemudian berjalan arak arakan ke makam Sunan Drajat.

Pemahaman versi lain tentang Mbah Mayang Madu secara ilmiah baru muncul pada saat peresmian situs sejarah bangunan makam beliau pada tanggal 9 bulan 9 tahun 2015.

Adalah Prof Agus Sunyoto (penulis buku ATLAS WALI SONGO, ahli sejarah, dan pembicara dalam forum tersebut, menyampaikan bahwa; dalam naskah DEMAK disebutkan :

SUNAN MAYANG MADU adalah gelar resmi penganugerahan dari RADEN FATAH selaku Sultan Demak yang diberikan kepada seorang penguasa di Jellag.

Penganugerahan gelar tersebut karena dianggap Mbah Mayang Madu berjasa besar dan berperan penting dalam proses penyebaran Islam di Nusantara pada masa itu.

Bersamaan dengan pemberian gelar tersebut (SUNAN MAYANG MADU) juga di berikan wilayah perdikan JELLAG sebagai wilayah kekuasaan otonom, karena JELLAG sebagai pusat pengkaderan dan penggemblengan pejuang-pejuang agama Islam.

Selain itu, Prof Agus Sunyoto menyampaikan bahwa dalam catatan MAHUAN (juru tulis Laksamana CHENG HO) pada saat melakukan ekspedisi ke pulau Jawa. Saat singgah di laut TUBAN, Mahuan mencatat ada ribuan China muslim di Tuban (dahulu laut Lamongan di sebut Tuban) dan daerah tersebut dipimpin oleh adipati muslim.

Sepertinya; Catatan MAHUAN tersebut di perkuat dengan Fakta yang tersisa saat ini, Pertama, di laut tidak jauh dari makam SUNAN MAYANG MADU Ada pecahan keramik tercecer luas berhektar hektar, yang konon keramik tersebut masa DINASTI MING (masa Laksamana CHENG HO Melakukan ekspedisi), masyarakat Bajarwati dan sekitarnya menyebut hamparan pecahan keramik tersebut dengan nama karang beling, menurut masyarakat setempat, konon dahulu ada rombongan kapal pecah di daerah tesebut.

Kedua, masyarakat Banjarwati dan sekitarnya juga menamai gunung di timur parkiran SUNAN DERAJAT sebagai gunung Dampu Awang atau Sam Po Kong (CHENG HO) bahkan lengkap dengan watu gong, watu balai, jangkar kapal dll.(bersambung)▪︎[DANAR SP]

Related Articles

Back to top button