Memilih Calon Pemimpin Ideal

* Perang Metafisik Pilkada Jatim (9)
Hampir disetiap daerah yang kini dilanda euforia Pilkada, warganya mulai gemar membicarakan suksesi atau peralihan generasi kepemimpinan. Disetiap kesempatan maupun kegiatan keseharian, pasti tidak luput dengan pembicaraan pesta demokrasi yang akan memilih calon gubernur, walikota dan bupati yang gongnya dilaksanakan tanggal 9 Desember 2020 nanti. Saking gayengnya, pembicaraan mereka kemudian berkembang tentang siapa tokoh-tokoh yang akan menjadi pemimpin terpilih di Pilkada mendatang.
Tahapan Pilkada serentak yang diemban KPUD sudah menapak pada hasil test kesehatan, dan akan segera dilanjut dengan penetapan bapaslon tanggal 23 Desember 2020. Lalu esok harinya, tanggal 24 September 2020 akan dilakukan undian nomor urut. Namun bagi paslon yang tidak lolos test kesehatan maka KPUD memberi deadline maksimal tanggal 22 September nama yang menggantikan harus memenuhi syarat. Agar tanggal 23 bisa ditetapkan menjadi pasangan calon dan tanggal 24 September pengundian nomor urut.
Tentang syarat fisik ini akan gampang terpenuhi, karena setiap paslon memang sudah mempersiapkan diri dengan matang, termasuk segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Setiap paslon ibaratnya punya skenario A sampai Z untuk menghadapi situask darurat dalam perjalanan mengikuti gelaran Pilkada ini.
Jika syarat fisik sudah jangkep dan sempurna, sebenarnya masih ada syarat lain setiap paslon itu sebagai pendukung kesuksesannya. Syarat itu disebut non fisik, dalam bahasa lain bisa disebut religi, spiritual, metafisik, dll. Salah satunya adalah tentang citra dan kreteria seorang pemimpin yang ideal. Dalam konsep universal yang dikutip posmonews. com, pemimpin yang ideal adalah sebagai berikut.
Pertama, seorang pemimpin yang ideal haruslah seorang yang memiliki tingkat intelektualitas yang memadai. Apa yang dimaksud bukan soal jumlah atau tingginya gelar formal, namunbyang dimaksud adalah keluasan, kedalaman, dan kepekaan wawasan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan di wilayahnya.
Pemimpin yang cerdas, akan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang cerdas yang tentu saja setelah melalui analisa-analisa mendalam. Dengan kecerdaan yang dimilikinya, dia tentu saja tidak akan mengalami kesulitan ketika menganalisa segala macam persoalan yang sangat rumit sekalipun, untuk kemudian menemukan strategi yang tepat untuk menyelesaikannya.
Kedua, memiliki dan menjalankan prinsip keadilan. Konsep keadilan menempati titik sentral dalam pembicaraan mengenai pemimpin ideal. Secara definitif keadilan adalah “memenuhi hak-hak orang lain”, keadilan dapat juga didefinisikan sebagai “menjalankan tugas masing-masing dan tidak campur tangan dalam tugas selainnya”.
Secara praktis, seorang pemimpin yang adil adalah dia yang selalu menetapkan keputusan berdasarkan undang-undang ataupun hukum yang berlaku dan selalu berpihak dan membela kaum yang lemah. Kemudian, seorang pemimpin dapat dikatakan adil, ketika dia menyadari dirinya sebagai pelayan rakyat, yang diangkat berdasarkan prosedur demokratis dan konstitusional, hanya utuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada rakyatnya. Karena, sesuai dengan prinsip demokrasi, kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat.
Ketiga, pemimpin ideal haruslah memiliki kedewasaan dalam pandangan. Kedewasaan, dalam pandangan Andreas Harsono dalam bukunya Menjadi Manusia Pembelajar, tidak ditentukan oleh faktor fisik ataupun usia. Kedewasaan tidak sama sekali terkait dengan usia seseorang, kedewasaan lebih terkait dengan kemampuan (ability).
Dalam buku “More About Beyond Leadership” tulisan Dr. Djokosusanto Moeljono yang salah satu bagiannya membahas juga tentang kepemimpinan Jawa yang sangat terkenal dan menjadi nilai penting dalam kepemimpinan yakni ajaran Hasta-Brata (atau Hasto-Broto).
Arti “Hasta” adalah delapan dan “Brata” artinya langkah, sehingga Hasta-Brata arinya delapan langkah yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin dalam memimpin. Langkah-langkah kepemimpinan itu mengambil delapan nilai (atau watak) dari benda yang ada di alam ini yaitu tanah, api, angin, air, angkasa, bulan, matahari, bintang.
Pertama, tanah yang menggambarkan sifat teguh, sabar, kuat, menerima segalanya, tidak pernah mengeluh, tidak membeda-bedakan, dan menerima apa adanya yaitu apa yang jatuh di atasnya baik yang baik maupun buruk. Gambaran tanah adalah sepatutnya menjadi watak pemimpin yang memiliki ketangguhan dan tidak mudah cengeng.
Kedua, api menggambarkan panas sekaligus suci, di mana berani membakar segala kekurangan dan memperbaiki kembali sehingga menjadi lebih baik. Pemimpin harus tampil berani dalam penegakan hukum, tegas dan tuntas tanpa memandang bulu.
Ketiga, angin menggambarkan keberadaannya di segala tempat, di mana saja ada. Ini menyatakan pemimpin harus ada di di segala lapisan masyarakatnya dan dekat dengan mereka tanpa membedakan berdasarkan status sosialnya. Pemimpin yang berlaku demikian akan membuat mereka tahu apa yang dikehendaki rakyatnya.
Keempat, air dilambangkan dengan mengalir ke mana-mana dan seimbang dirasakan semua. Maka di sini pemimpin harus mengusahakan kemakmuran dan kesejahteraan secara merata dan sama-sama memiliki derajat yang mulia.
Kelima, angkasa adalah berbicara tentang keluasan dalam menampung apa saja. Pemimpin sepatutnya memiliki keluasan hati dan mempunyai hati yang luas sehingga dapat menerima masukan dari bawahannya. Ia juga harus mampu mengendalikan diri terhadap masukan yang pisitif dan negatif dengan penuh kesabaran.
Keenam, bulan menggambarkan sinar terang yang diberikan pada waktu malam. Pemimpin patut menjadi orang yang memberikan terang yaitu semangat, rasa aman, dan kepercayaan kepada rakyat ketika sedang mengalami krisis dan berbagai kegelapan yang dihadapinya termasuk mengangkat dari kebodohan.
Ketujuh, matahari lambang dari sumber energi yang menopang kehidupan semesta dan segala yang ada di bumi. Seorang pemimpin adalah mereka yang mampu membangun daya hidup dan mendorong bawahan atau rakyatnya untuk dapat berkarya.
Kedelapan, bintang menggambarkan suatu benda alam yang menjadi pedoman atau kompas. Di sini pemimpin harus menjadi teladan bagi bawahan atau rakyatnya, dan tidak mudah dipengaruhi untuk berubah-ubah pikirannya.
(DANAR SP)



