Wow, Lamongan Raih Top Regency in Agro-Maritime Food Hub di National Governance Award 2026

▪︎ LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Kembali mencatatkan prestasi di tingkat nasional dengan meraih penghargaan Economic Growth kategori Top Regency in Agro-Maritime Food Hub, dalam ajang National Governance Award 2026 yang diselenggarakan oleh Metro TV di Jakarta pada Jumat (24/4), Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menerima secara langsung penghargaan yang diserahkan oleh Menteri Koperasi Republik Indonesia, Feri Juliantono. Melalui proses seleksi ketat oleh tim panelis nasional yang melibatkan Kementerian Dalam Negeri, Ombudsman Republik Indonesia, serta unsur perguruan tinggi, penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas keberhasilan Kabupaten Lamongan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, yang terus diimplementasikan secara konsisten dalam berbagai kebijakan dan program strategis.
Sektor agro-maritim sebagai tulang punggung utama perekonomian daerah, menunjukkan penguatan yang signifikan, dimana sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang kontribusi sebesar 30,18 persen, diikuti industri pengolahan sebesar 12,84 persen. Pada tahun 2025, produksi padi Lamongan mencapai 1,33 juta ton dan menjadi yang terbesar di Jawa Timur, jagung sebesar 536 ribu ton, serta perkembangan sektor peternakan yang terus menunjukkan tren positif. Dari sisi kemaritiman, produksi perikanan budidaya mencapai 46 ribu ton dengan nilai Rp1,44 triliun, sementara perikanan tangkap mencapai 82 ribu ton. Potensi besar tersebut tidak hanya bertumpu pada peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan pada integrasi sistem dan penguatan hilirisasi guna menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.
Kinerja pembangunan di tahun 2025 juga menunjukkan tren yang semakin positif, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,40 persen, meningkat dari 4,81 persen pada tahun sebelumnya dan berada di atas rata-rata provinsi maupun nasional. Stabilitas sosial ekonomi turut tercermin dari gini ratio sebesar 0,30, tingkat kemiskinan 12,03 persen, tingkat pengangguran terbuka 4,29 persen, serta Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 124,97 yang menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat, khususnya petani.
Di sisi lain, penguatan ekonomi kerakyatan terus didorong melalui berbagai program pemberdayaan. Program Young Entrepreneur Success dan UMKM Naik Kelas berhasil membuka 1.945 lapangan kerja, sekaligus mendukung 466 wirausaha muda melalui skema Megpreneur. Upaya ini juga mendorong 42 produk UMKM menembus pasar modern dan 49 produk berhasil masuk pasar ekspor, sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing produk lokal.
Semua ini tidak terlepas dari dukungan infrastruktur dan konektivitas wilayah yang semakin kuat. Kehadiran layanan transportasi Trans Jatim juga memberikan kemudahan mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi. Operasional Jalur Lingkar Utara turut mengurai kepadatan lalu lintas sekaligus membuka peluang tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru. Sementara itu, melalui program Jalan Mantap dan Alus Lamongan (JAMULA), tingkat kemantapan jalan telah mencapai 60,21 persen dengan pembangunan 58 ruas jalan sepanjang 24,7 kilometer pada tahun 2025.
Tidak hanya itu dengan garis pantai sepanjang 47 kilometer, Lamongan memiliki keunggulan strategis dalam pengembangan ekonomi pesisir dan konsep blue economy. Letak geografis yang dekat dengan Bandara Juanda dan kawasan industri JIIPE, didukung jaringan konektivitas Pantura, jalur kereta api, dan tol Surabaya–Tuban, menempatkan Lamongan sebagai bagian penting dalam rantai pasok regional. Keberadaan pelabuhan, kawasan industri, serta pengembangan kawasan seperti I-Sentra Jaka Mitra semakin memperkuat arah industrialisasi berbasis hilirisasi agro-maritim.
Di tahun 2025, capaian progres Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Lamongan mendapat apresiasi secara langsung dari Menko Pangan Zulkifli Hasan karena tercatat 95 KDKMP telah menjalankan progres bisnis secara aktif khususnya di sektor pangan dan Perdagangan. Sedangkan di bidang ekspor-impor, Lamongan berhasil meningkatkan nilai ekspor dari Rp. 20 triliun di tahun 2024 menjadi Rp. 22 triliun di tahun 2025, dan menurunkan nilai impor dari Rp. 449 miliar menjadi Rp. 330 miliar pada 2025.
“Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan berbasis potensi lokal yang terintegrasi, didukung oleh penguatan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan arah kebijakan yang berkelanjutan, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif sekaligus memperkuat daya saing Kabupaten Lamongan di tingkat nasional,” ucap Pak Yes.▪︎[DANAR SP]
