Jejak Wali

Haul Mbah Karomah dan Mbah Demang “Wali Jadzab”

▪︎Sosok Sakti, Penolong dan Masih Misterius

▪︎GRESIK-POSMONEWS.COM,-
Setiap tahun sosok sang “Wali Jadzab” Mbah Karomah dan Mbah Demang kisahnya memang masih misterius. Menurut literasi sejarah disebutkan Mbah Karomah mendapat julukan Mbah Cinde Amoh. Lantas siapa sebenarnya

Warga Desa Ngampel, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, memperingati Haul Mbah Karomah, Mbah Demang dan KH. KH. Adnan Kasrib, digelar selama dua hari berturut-turut.

Acara Haul dimulai sejak Minggu (20/7/2025) malam, majelis zikir Al Khidmah, sedangkan Senin (21/7/2025) malam, puncak acara Haul sosok waliullah sakti dari Kemantren, Kranji, Paciran, Lamongan.

Makam keramat Mbah Karomah,  hampir setiap hari tidak pernah sepi dari peziarah. Memang kisah keberadaan makam Mbah Karomah dan Mbah Demang masih simpang siur.

Lantas siapa sebenarnya sosok Mbah Karomah dan Mbah Demang? Benarkah kedua sosok yang dimakamkan di wilayah Desa Ngampel, Manyar, Gresik, ini merupakan wali jadzab?

Kisah Mbah Karomah memang cukup menarik. Diceritakan beliau merupakan sosok waliullah jadzab. Benarkah? Begitu juga keberadaan makam Mbah Demang, sesepuh warga Desa Ngampel, sampai sekarang belum ditemukan keberadaan makamnya.

Di kompleks makam tersebut hanya ada makam Mbah Karomah, dan KH. Adnan Kasrib, sedangkan makam Mbah Demang sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Masyarakat Desa Ngampel, mempercai bahwa Makam Mbah Demang juga tidak jauh dari lokasi keberadaan makam keramat tersebut.

Lantas apa yang dimaksud sang “wali jadzab”? Dalam istilah tasawuf “jadzab” suatu maqom atau keadaan di luar kesadaran seseorang, sudah tidak tertaklif secara syariat. Sedangkan JADZAB berasal dari jadzaba-yajdzibu-jadzban- berarti mempunyai makna “menarik”.

Sementara “maf’ul”-nya adalah majdzub berarti mengandung makna tertarik, di dalam istilah sufi, jadzab digunakan terhadap situasi bagi seseorang yang sedang mengalami (khoriqul adat) seperti “nyeleneh”, keluar dari adat kebiasaan umum, bisa dikategorikan orang gila “berkeramat”.

Mbah Karomah merupakan satu dari sekian ulama diberi pangkat kewalian oleh Allah SWT. Kisah hidupnya sampai sekarang terus dibicarakan banyak orang.

Dikisahkan oleh masyarakat Desa Ngampel bahwa Mbah Karomah sosok ulama memiliki karomah cukup tinggi. Mengapa dikatakan gila? Sebab munculnya pemahaman bahwa jadzab adalah hilangnya keumuman secara manusia, tentu beda dengan arti dari gila sendiri. Sebab gila didalam bahasa Arabnya: junna-junuunan (gila) atau, janna-yajunnu-jannan (menutup).

Secara etimologis, jadzab bentuk mubalaghah dari kata jadzaba artinya “menarik”, dan dalam format mubalaghah (superlatif) dapat diartikan “sangat menarik”.

Dalam terminologi pesantren, sering digunakan dalam konteks pengalaman batin dan pemahaman seseorang dimanifestasikan dalam perbuatan serta kata kurang dapat dipahami publik.

Perilaku jadzab Mbah Karomah menjadi cerita yang tak pernah habis. Bahkan jasadnya pun masih bisa diperintah membasmi sekelompok perampok.

▪︎Mbah Cinde Amoh

Kisah Mbah Karomah benar-benar misterius. Menurut literasi sejarah disebutkan bahwa Mbah Karomah mendapat julukan Mbah Cinde Amoh. Beliau adalah sosok sakti dari Kemantren, Kranji, Paciran, Lamongan.

Dikisahkan, saat itu di sungai Bengawan Solo, ada jasad mengambang di permukaan air Bengawan Solo. Kemudian jasad itu menepi di Desa Ngampel.

Anehnya, jasad itu berpindah-pindah lokasi bergerak ke utara, selatan, barat dan timur. Namun lokasinya hanya berputar di sekitar wilayah Desa Ngampel. Kabar adanya jasad aneh tersebut, sampai terdengar Kiai Gede Bungah. Akhirnya, Kiai Gede, mendatangi jasad di tepi Bengawan Solo itu.

“Wahai Cinde Amoh, kalau kamu benar-benar sakti, hiduplah kembali,” perintah Kiai Gede pada jasad itu.

Dikisahkan, setelah diperintah Kiai Gede (sekarang makamnya di belakang Masjid Kiai Gede Sampurnan, Bungah, Gresik. Kemudian jasad tersebut bangkit lantas hidup kembali. Ketika hidup, Cinde Amoh disuruh Kiai Gede memberantas sekelompok bandit sakti mandraguna yang selalu bikin onar di masyarakat.

Mbah Cinde Amoh pun mampu menjalankan tugas dari Kiai Gede dengan sempurna. Akhirnya, Kiai Gede mendengar Mbah Cinde Amoh telah selesai menjalankan amanah tersebut.

“Wahai Cinde Amoh asalmu dari bangkai berubahlah seperti sediakalah,” perintah Kiai Gede.

Seketika itu Cinde Amoh berubah lagi menjadi mayat dan dimakamkan di Desa Ngampel tidak jauh dari tepian sungai Bengawan Solo. Saat itulah kemudian warga menyebutnya dengan “Mbah Karomah” karena mempunyai banyak karomah sebagai waliullah.

Sementara itu Pjs. Kepala Desa Ngampel, Manyar, Gresik, Mahfudin, memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap terselenggaranya Haul Mbah Karomah, Mbah Demang serta KH. Adnan Kasrib.

“Terus terang saya belum faham betul keberadaan makam di sini. Apalagi saya bukan asli warga Ngampel, namun saya sangat terkesan dengan acara Haul di Desa Ngampel,” ujar Mahfudin.

Pjs Kades Mahfudin, berharap agar acara Haul tetap terselenggara setiap tahun. Menurut cerita tokoh masyarakat, sejak tahun 1998 peringatan Haul Mbah Karomah dan Mbah Demang dibikin lebih hikmat.

Mahfudin merasa yakin bahwa sosok tokoh yang dimakamkan di kompleks pemakaman Mbah Karomah bukan orang sembarangan.

Dia juga merasa takjub pada masyarakat Ngampel yang tetap nguri-nguri sejarah keberadaan pendiri desa. Dengan adanya haul Mbah Karomah dan Mbah Demang mampu membikin warga tetap guyub.

“Saya yakin Mbak Karomah sosok waliullah, beliau sosok priyayi memiliki kesaktian luar biasa. Begitu juga dengan Mbah Demang,” pungkas Mahfudin.▪︎(SYIL/ZUB)

Related Articles

Back to top button