Kelangenan

Menjaga Seni Tradisi dan Syukuran, Desa Waru Ngering Selalu Gelar Kesenian Langen Tayub

▪︎LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Menjadi ironi jika di jaman modern serta era generasi millenial  dan gen Z, keberadaan kesenian tradisional makin terpinggirkan. Karena itulah peran tokoh, kelompok, komunitas, otoritas pemerintahan dari tingkatan desa hingga dinas di pemerintahan daerah terus mendukung keberadaannya. Bukan sekedar seremonial dan hangat-hangat tahi ayam semata.

Sangat berbeda dengan konsisensi dilakukan oleh Pemdes Waru Ngering, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan ini. Mereka selalu menjadi kawasan yang bisa menjaga serta nguri-uri seni tradisional di wilayah Lamongan Selatan.

Dari penelusuran media ini,  Pemerintah Desa Warung Ngering dan desa-desa lain di sekitar kecamatan Kedungpring, sampai saat ini masih tetap melestarikan tradisi baik dalam bentuk ritual maupun keseniannya.

Dari para pendahulunya, hingga era pemerintahan desa yang memiliki balai desa yang viral karena bergaya unik dan eksotik, kini dipimpin Kades Medianto, ini masih tetap menjaga upacara tradisi, seperti sedekah bumi yang rutin dilaksanakan setiap selesai masa panen, biasanya di sekitar  bulan Agustus.

Nah uniknya, di setiap acara sedekah bumi yang digelar di halaman balai desa ini pasti menampilkan kesenian langen tayub.

“Kesenian tradisi langen tayub ini tetal kita gelar, untuk menandai puncak sedekah bumi. Sebelumnya juga diadakan selamatan. Kadang juga dibarengi dengan berbagai keramaian seperti prnek jambe (panjat pinang, red). Semua kegiatan tersebut sebagai wujud rasa syukur atas berkah panen yang diperoleh para petani di desa Waru Ngering,” tuturnya.

Kades Mediyanto saat di temui di balai desa menyampaikan, khusus untuk kegiatan gelar Langen Tayub  ini merupakan tradisi para pendahulu, karena kesenian ink merupakan warisan leluhur yang tidak bisa ditinggalkan. Tayub dari kata  “ditata ben guyup” (Ditata agar hidup rukun, sejahtera), bertujuan, untuk menyejahterakan dan menjaga kerukunan antarwarga desa.

“Untuk gelar kesenian langen tayub ini, merupakan upaya kita ngleluri (meletarikan, red) seni tradisi yang sudah mengalami pergeseran atau ditinggalkan. Kami tetap bersama masyarakat Waru Ngering atau lainnya berupaya dan menjaga keberadaanya, agar kesenian tradisi seperti tayub ini tidak hilang ditelan oleh jaman dan waktu, ” lanjut pria yang mencintai seni tayub sehingga memiliki akun tiktok khusus Ud. Sumber Galang ini.

Khusus acara langen tayub di Waru Ngering ini masih disebut sebagai acara yang luar biasa dan sangat meriah. Karena selain warga lokal yang datang juga dihadiri para penayub (bujang, red) yang datang dari berbagai daerah seperti, Surabaya, Gresik, Mojokerto, Tuban, Bojonegoro, dll.

Tokoh budayawan dan seniman tradisional Lamongan, Sumantri saat dikonfirmasi media ini membenarkan bahwa Desa Waru Ngering adalah salah satu desa yang tetap menjaga pelestarian seni tayub di wilayah Lamongan Selatan. Menjadi contoh termasuk di desa-desa atau kecamatan lain seperti Mantup, Sugio, Ngimbang, Modo, Bluluk, Sukorame, dll yang konsisten mau melestarikan seni  warisan leluhur ini.

“Kesenian langen tayub ini di Desa Waru Ngering pasti digelar saat sedekah bumi. Namun ada juga di acara hajatan yang nanggap tayub. Ini membuktikan di wilayah Lamongan selatan masih konsisten sebagai penyangga atau penjaga kesenian tadisi ini tetap eksis dan lestari.

Karenanya pemerintah daerah khususnya dinas terkait harus membarengi dan ada memiliki greget kepedulian untuk mendukung, agar kesenian tradisi di Lamongan tidak menjadi punah” kata pria yang juga seorang pramugari tayub terkenal di Lamongan ini.

Seperti yang kita ketahui bahwa kesenian langen tayub khas Lamongan memiliki ciri khas dalam pementasan, tari, dan kelompok seninya sendiri.

Di Lamongan, sempat ada festival tayub Lamongan dan berjalan hingga 5 tahunan, namun kini sudah mati suri. Kini justru pelestariannya ada di tingkat desa sehingga tayub di Lamongan berhasil bertahan di tengah modernisasi.

Pada era 2000-an, tayub tetap menjadi selera kultural masyarakat desa, dari generasi tua hingga generasi muda yang benar-benar mencintai kesenian khas ini . Pada hajatan keluarga, ritual desa, maupun peringatan 17-an, pertunjukan tayub masih mudah dijumpai pada beberapa desa dan kecamatan di wilayah Lamongan Selatan tersebut. ▪︎[DANAR SP]

Related Articles

Back to top button