Dewi Andongsari “Bukan” Tribhuwaneswari

▪︎Sarasehan Sejarah Gajah Mada, Kebangkitan Nusantara dari Bumi Lamongan (3)
▪︎LAMONGAN-POSMONEWS.COM,-
Dalam Sarasehan Gajah Mada – Kebangkitan Nusantara dari Bumi Lamongan di Pendopo Lokatantra, Lamongan terdapat perbedaan pandangan dengan para ahli bab jatidiri Dewi Andongsari sebagai ibunda Gajahmada.
Namun demikian harus dihormati dan sebagai referensi yang makin memperkaya literasi sejarah. Apalagi hal tersebut disusun dalam sebuah pakem cerita tutur Dewi Andongsari, Sosok Ibunda Gajah Mada dalam Cerita Rakyat Lamongan.
Perbedaan yang bisa dicermati oleh media ini adalah bab jatidiri Dewi Andongsari yang disebut oleh di pakem tutur itu sevagai Tribhuwaneswari.
Adapun runutan data yang dihimpun media ini, jika diurutkan dari pendahulunya, bahwa Raden Wijaya diketahui memiliki empat isteri yang masih ada kaitannya dengan keturunan Kertanegara dari Singasari.
Kisah cinta dan asmara Raden Wijaya dimulai saat ia menikahi Tribhuwaneswari yang akhirnya dijadikan permaisuri Majapahit.
Tribhuwaneswari yang memiliki nama lengkap Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari pada kitab Negarakertagama sering disingkat menjadi Tribhuwana.
Ia adalah putri sulung Kertanegara raja terakhir Kerajaan Singasari sebelum runtuh diserang Jayakatwang, dari Kediri pada 1292.
Menurut buku ‘Sandyakala di Timur Jawa 1042 – 1527 M Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan Hindu dari Mataram Kuno II hingga Majapahit’, karya Prasetya Ramadhan, saat penyerangan Jayakatwang, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwaneswari.
Saat Gayatri ditahan musuh, rombongan Raden Wijaya pun kemudian menyeberang ke Sumenep meminta perlindungan Arya Wiraraja.
Pada perjalanan menuju Sumenep inilah, Tribhuwaneswari sering dibantu oleh Lembu Sora, abdi setia Raden Wijaya.
Jika pasangan suami istri itu lelah, konon Lembu Sora-lah yang menyediakan perutnya sebagai alas duduk. Jika menyeberang rawa-rawa Lembu Sora menyediakan dirinya untuk menggendong Tribhuwaneswari.
Tak ayal saat Kerajaan Majapahit berdiri dan menetapkan Raden Wijaya sebagai raja pertama, Tribhuwaneswari tentu saja menjadi permaisuri utama.
Ditinjau dari gelarnya sang istri Raden Wijaya ini memiliki Tribhuwana – iswari. Namun demikian di kitab Pararaton, istri tertua Raden Wijaya dituakan di istana justru bernama Dara Petak, putri Kerajaan Dharmasraya, yang melahirkan Jayanagara, sang putra mahkota.
Menurut prasasti Kertarajasa, Tribhuwaneswari disebut sebagai ibu Jayanagara. Dari berita tersebut dapat diperkirakan Jayanagara adalah anak kandung Dara Petak, yang kemudian menjadi anak angkat Tribhuwaneswari sang permaisuri utama.
Hal ini menyebabkan Jayanagara mendapat hak atas tahta sehingga kemudian menjadi raja kedua Majapahit.
Ia memerintah di Majapahit tahun 1309 – 1328 Masehi. Setelah wafat Tribhuwaneswari dimuliakan di Candi Rimbi, di sebelah barat daya Mojokerto, yang diwujudkan sebagai Parwati.(Bersambung)
▪︎[DANAR/ARIFIN]


