Ismail atau Ishak yang Dikurbankan? Ini Jawaban Gus Baha dan Gus Dur

35 views

• Oleh: Agung Purnama

Dalam sebuah pengajian yang menerangkan kontroversi seputar siapa sebenarnya anak Nabi Ibrahim yang akan dikorbankan, Gus Baha (KH Bahaudin Nursalim) pernah guyon atau berkelakar, dengan melontarkan sebuah pertanyaan pilihan kepada jamaahnya.

Sembari terkekeh, Gus Baha berkata. “Ayo, sekarang Ismail atau Ishak?”

Para jamaah turut terkekeh. “Ismail,” mereka menjawab serentak.

Gus Baha tanya lagi. “Ismail atau Ishak, Ishak atau Ismail?”

Jamaah mulai ragu. “Ismail,” mereka menjawab tidak serentak,
Lagi-lagi Gus Baha bertanya. “Is…?”

“…Hak,” ada yang menjawab demikian.

“…Mail,” sebagian dari jamaah menjawab lain.

“Ismail, oke, Ismail,” sambung Gus Baha diiringi tawa khasnya.

Kemudian, beliau melanjutkan perkataannya. “Yang jelas, Ismail atau Ishaq itu qoulani, ada dua pendapat. Ya sudah, kalau bukan Ismail ya Ishak.”

Dari sini, jamaah diam. Namun tiba-tiba Gus Baha menggoda jamaahnya dengan berkata, “tapi banyak kitab (tafsir) yang mengarah ke Ishak.”

Geerrr, jamaah dan Gus Baha kembali tertawa. “Ya sudah. Pokoknya qoulani, ada dua pendapat yaitu Ismail atau Ishak,” kata Gus Baha.

Apa yang disampaikan oleh Gus Baha tersebut tentu bukan guyonan semata. Beliau orang yang khatam dalam pemahaman tradisi turats. Dan dari orang ‘alim seperti Gus Baha ini, kita bisa memperoleh kesadaran bahwa perbedaan pendapat di kalangan para ulama klasik (dalam hal ini para mufassir) adalah lumrah, yang justru memperkaya khazanah keilmuan keislaman. Peluang hadirnya pendapat yang berbeda, itu tetap ada, bahkan dalam hal-hal yang sudah menjadi keyakinan mayoritas.

Terkait siapa anak Nabi Ibrahim yang akan dikorbankan tersebut, misalnya. Karena Al Qur’an (surat As-Saffat, ayat 101-110) tidak menuliskan secara sarih (eksplisit) nama yang akan disembelih (dzabih), maka pemahaman akan hal itu hanya bisa kita peroleh dari hasil ijtihad para ahli tafsir. Syaikh Muqatil bin Sulaiman (702-767 M) penulis tafsir Al-Kabir, dan Ibnu Jarir At-Thabari (839-923 M) penulis tafsir Jami’al Bayan fi Ta’wilil Qur’an, serta Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Al-Qurthubi (1214-1273 M) penulis tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an wal Mubayyin Lima Tadammanahu min as-Sunnah wa Ayil Qur’an, adalah tiga di antara para ahli tafsir yang berpendapat bahwa Ishak-lah yang menjadi dzabih.

Penggalan tafsir surat As-Saffat ayat 99-100 oleh Ibnu Jarir At-Thabari, yang menyebutkan Ishak-lah yang akan disembelih.

Sementara itu, para ulama yang berpendapat bahwa Ismail-lah yang akan dikorbankan, adalah di antaranya seperti Najimudin Abu Hafs bin Muhammad An-Nasafi (1067-1142 M) penulis tafsir Madarik al-Tanzi Wahaqaiq Al-Ta’wil, Fakhrudin Ar-Razi (1149-1209 M) penulis tafsir Mafatihul Ghaib at Tafsir al-Kabir li Al-Qur’anul Karim, Ibnu Taimiyah (1263-1328 M) dengan tafsirnya Al-Kabir, Ismail bin Umar Al-Quraisy bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi (1301-1372 M) penulis Tafsir Ibnu Katsir, Thohir Ibnu Atsur (1879-1973 M) penulis tafsir At Tahrir wa Tanwir, dan para ahli tafsir lainnya. Baru kemudian pada perkembangannya, pendapat yang kedua inilah yang menjadi keyakinan mayoritas umat Islam sampai saat ini.

Di samping itu, terdapat juga beberapa kitab tafsir yang memberikan kesan netral. Atau setidaknya, meskipun memiliki kecenderungan pada salah satu, disampaikan juga narasi dari dua arah. Seperti dalam kitab al-Kashshaf ‘an Haqa’iq Ghawamid al-Tanzil karya Abu Qasim Mahmud bin Umar al-Zamaksyari (1075-1143 M), dan dalam Tafsir Jalalain yang ditulis oleh Jalaluddin Al Mahalli (1389-1459 M) beserta Jalaluddin As-Suyuthi (1445-1505 M).

Tafsir Jalalain menyebutkan ada dua qaul, yaitu Ismail atau Ishak. Lalu di kesimpulan akhir disebutkan bahwa yang akan disembelih itu selain Ishak, yang berarti Ismail.

Pendapat yang beragam seperti demikian itu, tentu memiliki basis argumentasi, yang bisa dikaji dan dijadikan bahan pemahaman. Umat Islam perlu berlapang dada ketika dihadapkan pada khilafiah atau pada sebuah pemahaman yang berbeda. Dan yang tak kalah penting, umat Islam perlu mengapresiasi, menghargai, dan menghormati apapun bentuk hasil ijtihad para ulama, terlepas dari setuju atau tidak atas pendapat mereka.

Namun biasanya orang akan tetap saja mempertanyakan manakah yang lebih benar? Suatu ketika, Gus Dur pun tidak luput dari pertanyaan akan hal ini. Dan seperti biasa, beliau dengan ringan menjawab.

“Keduanya benar. Baik Ishak maupun Ismail tidak ada yang jadi disembelih. Ngapain diributin.”

Betul kata Gus Dur. Buat apa ribut. Apalagi sesama penikmat sate daging qurban. Nikmati saja, sate kambing-domba oke, sapi-kerbau pun boleh.

Wallahu a’lam.
Penulis adalah alumnus Pendidikan Sejarah UPI dan Ilmu Sejarah UNPAD. Aktif mengajar di Jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here