Berita Utama

Proyek Bendungan Dibangun di Sepanjang Bengawan Solo

▪︎BOJONEGORO – POSMONEWS.COM,-
Pemerintah membangun 4 bendungan di sepanjang Sungai Bengawan Solo. Nantinya, sungai terpanjang di Jawa ini akan akan memiliki 4 bendungan di sejak tahun 2020.

“Tinggal satu bendungan lagi di Karangnongko. Ini sekaligus jadi bendungan yang paling besar, kita kejar terus dan AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan) selesai dan bisa groundbreaking pada awal 2017, dengan masa konstruksi 3 tahun berarti 2020 selesai semua,” kata Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, dalam keterangan resminya.

Terget tersebut, lanjutnya, dipastikan terealisasi mengingat proyek bendungan terakhir, Karangnongko, tak membutuhkan lahan besar.

“Ini hanya dibendung, reservoir (simpanan) airnya memanjang alami di sepanjang Bengawan Solo yang lebar, jadi tak ada pembebasan lahan. Daya tampungnya juga sangat besar,” terang Menteri Basuki.

Dia mencontohkan, di proyek pembangunan Waduk Jatibarang di Kabupaten Semarang, untuk tampungan 2 juta mater kubik, pihaknya harus memindahkan ratusan kepala keluarga, sementara dengan memanfaatkan ruang sepanjang di aliran Bengawan Solo di Karangnongko yang memiliki daya tampungan 60 juta meter kubik, pembebasan lahan tak perlu dilakukan.

“Bendungan Wonogiri sudah selesai, Bendungan Gerak Babat sudah juga, Gerak Sembayat di Gresik Agustus 2016 selesai, tinggal yang satu ini (Karangnongko),” ujarnya.

Menteri Basuki menuturkan, masing-masing daya tampung setiap bendungan di sungai terpanjang di Jawa ini sangatlah besar, sehingga bisa meningkatkan pasokan air baku dan irigasi pertanian di sentra padi sepanjang Bengawan Solo.

“Gerak Sembayat bisa tampung 10 juta meter kubik, Gerak Babat 25 juta meter kubik, Gerak Bojonegoro 15 juta meter kubik. Dan kalau yang Karangnongko selesai, itu bisa tampung sampai 60 juta meter kubik,” terangnya.

Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus meningkatkan jumlah tampungan air di Indonesia untuk mendukung ketahanan pangan dan air.

Pembangunan bendungan dilakukan di berbagai wilayah Indonesia, salah satunya di Provinsi Jawa Tengah untuk mendukung sebagai provinsi lumbung pangan nasional. Salah satunya adalah Bendungan Pidekso di Kabupaten Wonogiri yang saat ini progres tahap I sudah rampung 100%.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, mengatakan Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Ditjen Sumber Daya Air tengah menyelesaikan pembangunan Bendungan Pidekso yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) di bidang Sumber Daya Air untuk mewujudkan ketahanan air dan pangan nasional.

“Bendungan multifungsi dengan kapasitas 25 juta meter kubik ini direncanakan mampu mengairi area irigasi seluas 1.500 hektare. Air irigasi dari bendungan akan meningkatkan Intensitas tanam dari 133 % (2000 Ha) ke 240% (3600 Ha). Diharapkan dengan selesainya bendungan ini nanti dapat mendorong pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19 khususnya di bidang pertanian,” kata Menteri Basuki.

Bendungan di hulu Sungai Bengawan Solo ini juga memiliki manfaat untuk penyediaan air baku sebesar 300 liter/detik di wilayah Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Kota Solo dan sekitarnya, serta potensi listrik tenaga hidro sebesar 0,5 MW.

Selain itu, Pembangunan Bendungan Pidekso sangat diperlukan sebagai pengendali banjir dan sebagai lahan konservasi serta pariwisata sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Seperti diketahui, Kepala BBWS Bengawan Solo, Agus Rudyanto, mengatakan setelah pembangunan tahap I rampung, saat ini tengah dilakukan proses lelang/tender untuk pembangunan tahap II dengan target konstruksi bendungan seluruhnya akan rampung pada tahun 2022.

“Untuk pembangunan tahap I yang sudah selesai berupa akses jalan, bangunan cover dam, terowongan saluran pengelak, dan untuk proses pengelakan sungai juga sudah selesai. Selanjutnya di tahap dua akan dilanjutkan pembangunan tubuh bendungan, fasilitas pelengkap, serta instrumen hidromekanikal elektrikal bendungan,” ujar Agus.

Pembangunan Bendungan Pidekso tahap I dikerjakan oleh kontraktor PT. PP (Pembangunan Perumahan) dengan dana APBN sebesar Rp 436,9 miliar. Selanjutnya untuk pembangunan tahap II diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp 376 miliar.

Bendungan dengan tipe urugan random inti tegak ini memiliki saluran pelimpah (spillway) di sandaran kiri bendungan. Bagian spillway dibagi menjadi 4 zone, yakni zone inlet, zona transisi, zona chuteway, dan zona saluran pembawa. Adapun tinggi bendungan utama dari bendungan ini 44 meter, lebar puncak 10 meter, dan panjang puncak total 383 meter.

Sejak 2015 di Provinsi Jawa Tengah, Kementerian PUPR membangun tujuh bendungan lainnya; Bendungan Logung di Kabupaten Kudus dan Gondang di Kabupaten Karanganyar yang keduanya telah rampung dan terisi air waduknya. Selanjutnya tengah dalam proses konstruksi Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo, Randugunting di Kabupaten Blora, Jlantah di Kabupaten Karanganyar, Jragung di Kabupaten Demak, dan Bendungan Matenggeng di Kabupaten Cilacap.

Sementara itu Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, menjelaskan pembangunan Bendungan Gerak Sembayat (BGS) yang telah dimulai sejak Desember 2011.

Menteri Basuki menjelaskan, pembangunan Bendungan Gerak Sembayat berasal dari dana APBN sebesar Rp 720 miliar. Sementara penyelesaian konstruksi sipilnya rampung pada Agustus 2016.

“Ini bendungan gerak di hilir, di Sungai Bengawan Solo. Sudah ada satu bendungan di Wonogiri. Kedua, Bendungan Gerak Bojonegoro selesai 2012. Nah itu nggak bisa suplai sampai di Gresik maka kita bangun di sini Gerak Sembayat,” katanya.▪︎[FEND]

Related Articles

Back to top button