Pariwisata

Disbudporapar Lamongan Terkesan Pelit Kucurkan Dana untuk Kebudayaan

▪︎Mengapa Gedung Pusaka Mbah Jimat Terlantar (2-Habis)

▪︎ LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Sudah bukan rahasia lagi, rumornya Dinas Kebudayaan Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kab. Lamongan terkesan pelit untuk mengucurkan apalagi menyokong kegiatan budaya yang selama ini tergelar di seantero kota soto.

Apalagi harus mengeluarkan dana renovasi GPMJ yang menyimpan pusaka lambang Kabupaten Lamongan keris Korowelang Mbah Kiai Jimat itu.

Namun, upaya kepengurusan kecil di Griya Pusaka Mbah Jimat (GPMJ) yang dikoordinir Asto Tadjib, SPd, Adi Irawan, S. Pd, M. Pd, juru kunci GPMJ Ibu Widya serta keluarga dan beberapa tokoh pegiat sejarah dan budaya di Lamongan, tetap berjuang untuk menjadikan GPMJ kembali moncer.

Mereka telah membuat proposal pengajuan pada otoritas terkait, atas saran dari bapak Camat Lamongan dan Lurah Sukorejo.

“Untuk proposalnya sudah kami serahkan ke dinas terkait. Ke depan biar ada perhatian dari pemangku Lamongan dengan me-TL . usulan kami, ” tutur Adi Irawan dan Asto Tajib mewakili pengurus GPMJ.

Bukan hanya rencana untuk pembaharuan gedung (renovasi) namun juga kegiatannya terus tetap berjalan rutin sebagaimana eksistensi Situs Sejarah dan Budaya. Konon, para pengiat sejarah dan budaya ini berinisiatif untuk membuat Gelaran Pitutur Mbah Jimat.

Kegiatan Gelaran yang diinisiasi oleh Bang Yon, peneliti serta pegiat Sejarah dan Budaya ini semacam Diskusi Kecil, dengan menghadirkan beberapa tokoh pesohor serta pegiat sejarah dan budaya di Lamongan. Pitutur tersebut disamping membahas secara khusus sejarah Mbah Jimat dengan berbagai versi masing-masing ahli.

Juga secara umum, bisa membahas atau menelusur sejarah Lamongan lebih jauh, mendalam dengan fakta-fakta atau temuan baru dari sejarahwan atau budayawan.

“Pengalaman kami saat melakukan ekpedisi Bengawan Solo dan Napak Tilas Gajahmada, misalnya, di setiap titik yang kami singgahi kita buat kegiatan Gelaran. Nah untuk mengangkat GPMJ ini kita perlu membuat kegiatan serupa secara rutin, dua bulan atau tiga bulan sekali, ” tutur Bang Yon.

Adapun perihal perhatian Dinas
Kebudayaan Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) yang masih belum tergerak membantu, menurut Bang Yon biar masyarakat yang menilainya, di saat GPMJ aktif dengan kegiatan Gelaran tersebut hingga gaungnya membahana di bumi Lamongan dan daerah lain.

” Jangan saat berkembang dan bergaung acara gelaran budaya di GPMJ, trus mereka datang ikut nimbrung, pasang spanduk, ” kelakarnya.

Dalam catatan media ini beberapa sikap Disbudporapar yang pelit kucurkan dana untuk kegiatan budaya ini banyak disorot oleh masyarakat Lamongan. Misalnya kegiatan Hari Raya Nyepi dan Pawai Ogoh-ogoh di Desa Balun yang terkenal itu,  rumornya, dinas ini cuma datang untuk memasang Spanduknya.

Lain halnya dengan penuturan dari seorang pegiat budaya dan seni yang merasa kecewa pada Disbudporapar Lamongan. Syahdan di HJL ke-456, tahun 2025 lalu, mereka bersama salah satu komunitas dan EO “MEP” Lamongan menggelar Lomba Nyanyi Dangdut di aula dinas tersebut. Meski ada event yang nyambung di bidangnya, mereka tidak tergerak sama sekali untuk membantu, bahkan panitia  harus membayar biaya tempat (aula), yang diistilahkannya untuk kebersihan.

“Ya,  jangankan membantu karena kita juga nguri-nguri dan memeriahkan seni budaya di Lamongan. Kita minta pinjam aula saja, kami kira biaya lain seperti itu bisa dikerjakan secara intern dinas, itung-itung membantu, ternyata juga apa, ” aku Kak Kumis yang senior di babagan seni dangdut Lamongan ini.▪︎[DANAR SP]

Related Articles

Back to top button