Kompol Yuni, Kapolsek Astana Anyar Terjerat Narkoba

68 views

• Mempunyai Hutang Rp. 340 Juta

Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi saat menjabat sebagai Kapolsek Bojongloa Kidul, Bandung. Saat ini, Kompol Yuni menjabat sebagai Kapolsek Astana Anyar dan ditangkap karena kasus narkoba. Kompol Yuni Purwanti ternyata punya utang Rp 340 juta.

Nama Kapolsek Astana Anyar, Kompol Yuni Purwanti mendadak jadi sorotan. Tak lain setelah Kompol Yuni ditangkap Propam Mabes Polri dan Propam Polda Jabar terkait kasus dugaan penyalahgunaan narkoba.

Tak sendirian, Kompol Yuni ditangkap bersama 11 anggota lainnya di sebuah hotel di Bandung. Dikutip dari Tribun Jabar, Kompol Yuni pun diduga positif narkoba.

Lantas, siapakah sosok Kompol Yuni? Inilah profil dan sosok Kompol Yuni Purwanti sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber:

1. Biodata Kompol Yuni Purwanti
Kompol Yuni Purwanti memiliki nama lengkap Yuni Purwanti Kusuma Dewi.

Ia adalah perwira polisi wanita (polwan) kelahiran Porong, Sidoarjo 23 Juni 1971. Kompol Yuni merupakan Polwan angkatan 1989 sekaligus anak ketiga dari AKBP Sumardi (alm). Kompol Yuni Purwanti adalah sosok single parent dengan dua anak.

2. Karier Kompol Yuni Purwanti

Kapolsek Sukasari Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti saat gelar perkara di Polsek Sukasari, Selasa (14/1/2020). (Nazmi Abdurrahman/Tribun Jabar)
Selama menjadi polisi, Kompol Yuni pernah menempati sejumlah jabatan.

Di antaranya menjadi Kasat Reserse Narkoba di Polres Bogor.
Selain itu, Kompol Yuni juga menempati sejumlah posisi di Polda Jabar.

Selebihnya, ia pernah menjadi kapolsek di wilayah hukum Polrestabes Bandung. Yaitu Polsek Bojongloa Kidul, Polsek Sukasari, dan terakhir Polsek Astanaanyar.

3. Harta kekayaan Kompol Yuni Purwanti
Sebagai salah satu aparatur sipil negara (ASN), Kompol Yuni Purwanti wajib melaporkan daftar harta kekayaan yang dimilikinya kepada KPK.
Dikutip dari elhkpn.kpk.go.id, polwan yang kerap berpenampilan nyentrik itu memiliki harta kekayaan sebesar Rp 110 juta.

Data ini menurut LHKPN yang dilaporkan Kompol Yuni pada 9 Maret 2020 saat masih menjabat sebagai Kapolsek Sukasari. Diketahui, Kompol Yuni memiliki satu bidang tanah di Kota Bandung dengan nilai Rp 350 juta.

Dia juga memiliki mobil Toyota Avanza dengan nilai Rp 100 juta.
Sementara aset lain seperti surat berharga, kas dan setara kas, serta harta lain, ia tak punya. Bila dijumlahkan, harta kekayaan Kompol Yuni akan mencapai Rp 450 juta.

Sayangnya, Kompol Yuni memiliki utang sebesar Rp 340 juta sehingga mengurangi harta kekayaannya. Total, harta kekayaan yang dimiliki Kompol Yuni adalah Rp 110 juta.

Daftar Harta Kekayaan Kompol Yuni:

A. TANAH DAN BANGUNAN Rp 350.000.000

1.Tanah dan Bangunan Seluas 100 m2/100 m2 di KOTA BANDUNG, LAINNYA Rp 350.000.000

B. ALAT TRANSPORTASI DAN MESIN Rp.100.000.000

1.MOBIL, TOYOTA AVANZA Tahun 2009, HASIL SENDIRI Rp 100.000.000

C. HARTA BERGERAK LAINNYA Rp —-
D. SURAT BERHARGA Rp —-

E. KAS DAN SETARA KAS Rp —-

F. HARTA LAINNYA Rp —-

Sub Total Rp. 450.000.000

HUTANG Rp. 340.000.000

TOTAL HARTA KEKAYAAN Rp. 110.000.000

4. Kompol Yuni Purwanti Pernah Ungkap Peredaran Kokain
Selama ini, Kompol Yuni dikenal sebagai sosok polisi yang kerap membongkar peredaran narkoba.
Seperti pada 2019, Kompol Yuni yang saat itu menjabat sebagai Kanit 3 Sub Dit 2 Dit Narkoba Polda Jabar, mengungkap kasus peredaran kokain di Bogor.

Bersama sejumlah personel jajaran Polda Jabar, ia berhasil menangkap dua pelaku yang membawa narkotika jenis kokain di Kabupaten Bogor, Sabtu (30/3/2019).

Dikutip dari Tribun Jabar, menangkap kedua pelaku tersebut, Kompol Yuni menggunakan metode undercover atau menyamar selama tiga hari dari daerah Cengkareng hingga Kabupaten Bogor.

“Kami mengintai selama tiga hari dan akhirnya berhasil menangkap dua orang berinisial AS dan YA.”

“Kami membuat janji dengan pelaku untuk membeli kokain tersebut.”

“Kami pancing dengan cara kami sendiri dan mereka sama sekali tidak tahu, kami polisi,” kata Kompol Yuni, Selasa (9/4/2019).

Dia menjelaskan kronologi penangkapan yang dilakukan dan menjadi satu-satunya polwan dalam penyamaran tersebut.

Pada 30 Maret 2019, Kompol Yuni dan sejumlah personel lainnya menangkap AS di rumahnya sekira pukul 16.00 WIB yang terletak di Desa Karanggan, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Dari tangan AS, polisi mendapatkan 20 gram kokain.
Kompol Yuni dan anggota polisi lainnya kemudian mengembangkan lagi kasus ini.
Mereka akhirnya bisa meringkus YA di dekat sebuah minimarket di wilayah Gunung Putri, Kabupaten Bogor, sekira pukul 20.00 WIB.

Harga dari kokain tersebut dikatakan Yuni ialah Rp 50 juta.
Kompol Yuni mengatakan, kokain merupakan jenis narkotika kelas atas (high class). Indikasi awalnya, kokain tersebut akan diedarkan di wilayah Gunung Putri karena banyak vila di daerah tersebut.

“Tapi karena ini narkotika kelas atas dan mahal, maka hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengonsumsi.”

“Ternyata di wilayah Jabar ada transaksi kokain, selama ini tidak ada.”

“Kami masih melakukan pengembangan, pengakuan pelaku bahwa barang tersebut berasal dari Jakarta,” katanya.

Saat melakukan penangkapan, Kompol Yuni mengatakan, timnya mendapat perlawanan secara fisik, tapi prinsipnya, mereka tidak ingin targetnya lepas.

“Ya, biasalah, namanya juga orang, ya, tidak mau ditangkap, tapi kami tidak mau melepas target,” katanya.

5. Kronologi Penangkapan Kompol Yuni:

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Erdi A Chaniago menjelaskan, penangkapan Kompol Yuni berdasarkan pengaduan dari masyarakat.
Pengaduan masyarakat itu disampaikan ke Propam Mabes Polri.

“Kemudian Propam Mabes Polri menyampaikan ke Propam Polda Jabar.”

“Seketika Propam Polda Jabar bergerak menuju Polsek Astana Anyar untuk mencari beberapa orang yang sudah dicurigai,” ujar Erdi.

Dari penangkapan itu, Propam kemudian melakukan tes urine pada mereka yang dicurigai.
Hasilnya mereka positif urine menggunakan sabu-sabu.

“Totalnya ada 12 anggota. Termasuk Kapolsek Astana Anyar. Soal apakah semuanya anggota Polsek Astana Anyar? sedang didalami,” ucap Erdi.

Dalam penangkapan itu, selain Kapolsek, ada satu perwira di Polsek yang turut diamankan.
“Mereka yang terlibat ancaman sanksinya penurunan pangkat hingga bisa dipecat,” ucapnya.

Ia memastikan pelayanan publik di Polsek Astana Anyar seperti pembuatan SKCK masih berjalan.

“Masih berjalan karena roda organisasi harus terus berjalan, sistem sudah berjalan walaupun ada yang tidak hadir, sakit dan sebagainya.”

“Nah pelayanan tetap berjalan kan ada wakil dan personel lainnya,” ujar Erdi.(ek)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here