Sekali Tepuk, Pohon Nira Nunduk

307 dibaca

Cerita karomah Raden Noer Rahmad lainnya; ketika Sunan Drajat mau meminum air nira (hasil deresan pohon siwalan). Lalu sang sunan menghampiri sebuah pohon lontar yang besar kemudian batangnya ditepuk tiga kali. Legen (air nira) dan seluruh buah siwalan tersebut jatuh tidak ada yang tersisa.
Namun Raden Noer Rahmad mengatakan, bahwa cara seperti itu akan membawa kerugian pada anak cucu, karena mereka tidak memperoleh bagian apa-apa nantinya.
Raden Noer Rahmad kemudian mengusap pohon yang besar tiga kali dan dengan izin Allah pohon itu dapat merunduk tepat dihadapan Sunan Drajat.
Raden Noer Rahmad mempersilakan mengambil mana yang diinginkan, setelah itu pohon itu kembali tegak. Setelah menyaksikan dan yakin akan ketinggian ilmu Raden Noer Rahmad, Sunan Drajat memberinya gelar Sunan dan nama tempat tinggalnya diberi nama Sendang. Sehingga Raden Noer Rahmad bergelar Sunan Sendang Duwur.
Setelah mendapat gelar sunan, Raden Noer berharap bisa mendirikan masjid di Desa Sendang Duwur. Karena tidak mempunyai kayu, Sunan Drajat menyampaikan masalah ini kepada Sunan Kalijaga yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang saat itu mempunyai masjid.
Ratu Kalinyamat merupakan putri Sultan Trenggono Sultan Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadlirin Soho) cucu Raden Muchayat, Syech Sultan dari Aceh. Saat diangkat menjadi bupati di Jepara, R Thoyib tidak lupa bersyiar agama Islam.
Sehingga dibangun masjid megah di wilayahnya pada 1531 Masehi. Banyak ulama dan kiai saat itu kagum terhadap keindahan dan kemegahan masjid tersebut.
Setelah itu Sunan Drajat memerintahkan Sunan Sendang Duwur pergi ke Jepara untuk menanyakan masjid tersebut. Tapi Ratu Kalinyamat berpesan, siapa saja yang bisa memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain (dalam satu malam), masjid ini akan diberikan secara cuma-cuma.
Mendengar jawaban Mbok Rondo Mantingan, Sunan Sendang Duwur berdoa dan salat hajat lalu dengan izin Allah, dalam waktu tidak lebih dari satu malam masjid tersebut berhasil diboyong ke Bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur. Masjid Sendang Duwur pun berdiri di sana pada tahun baru 1483 Saka atau 1561 M.
Betapa terkejutnya seluruh warga desa melihat kejadian itu. Dengan adanya masjid yang hanya dipindah dalam waktu semalam ternyata justru menimbulkan pro dan kontra. Sebagian mengatakan Sunan Sendang Duwur adalah waliullah, sebagian merasa itu sihir terbesar yang pernah ada.
Namun Sunan Sendang Duwur tetap tenang. Saat warga sedang berdebat, dia muncul dan berkata. Tidak ada sihir dalam agama Islam. Tapi ini karena Izin Allah SWT. Jika sihir dia akan melakukan ritual. Tapi ini adalah kekuatan doa.
Warga masih tak percaya. Sunan Sendang Duwur menunjukkan bahwa Sunan Sendang Duwur tidak minta bantuan siapapun kecuali bantuan Allah SWT.
Akhirnya Sunan Sendang Duwur berdiri di hadapan warga. Dia memegang sebuah batu yang sangat keras. Dengan kekuatannya, batu itu perlahan hancur dan menjadi pasir. Tak lama kemudian pasir itu berubah menjadi butiran emas.
Semua warga jadi yakin. Sunan Sendang Duwur tidak memakai ritual apapun kecuali doa dan keyakinan pada Allah SWT. Dari masjid inilah Sunan Sendang Duwur terus melakukan syiar agama Islam. MUFID/DANAR