Berita Utama

Target Proyek Jembatan Bokwedi Rampung September-Oktober 2026

▪︎ Guna Mengatasi Banjir Tahunan dan Endapan Lumpur

▪︎ JATIM – POSMONEWS.com,-
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali, proyek peninggian dan rekonstruksi Jembatan Bokwedi di jalur Pantura, Kota Pasuruan, dikebut dan ditargetkan rampung lebih cepat pada September hingga Oktober 2026.

Percepatan ini dilakukan agar jembatan bisa beroperasi penuh sebelum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027. Berikut detail progres dan penanganan proyek saat ini mencakup:

1. Spesifikasi Teknis:

Jembatan dibangun ulang dengan spesifikasi panjang 30 meter dan lebar 9,15 meter, serta ditinggikan hingga 3 meter.

2. Solusi Banjir:

Peninggian struktur dilakukan secara permanen guna mengatasi banjir tahunan dan endapan lumpur yang kerap melumpuhkan jalan nasional.

3. Koordinasi Lintas Sektoral:

Proyek juga mencakup penyesuaian elevasi rel kereta api di sekitar lokasi bersama PT KAI agar debit air sungai tidak tertahan.

4. Rekayasa Lalu Lintas:
Selama proses pembangunan, arus kendaraan dialihkan ke jalur alternatif guna mencegah kepadatan.

Seperti diketahui Kementerian PU mempercepat pembangunan penggantian sekaligus peninggian Jembatan Bokwedi di Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan. Proyek strategis di jalur nasional Pantai Utara (Pantura) itu ditargetkan rampung lebih cepat agar dapat difungsikan menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.

Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, turun langsung meninjau lokasi proyek pada Minggu (17/5/2026) lalu. Peninjauan dilakukan untuk memastikan progres pembangunan berjalan sesuai target dan mampu menjadi solusi jangka panjang persoalan banjir serta kemacetan di kawasan Bokwedi.

Dalam keterangannya, Dody menyebut pengerjaan jembatan diproyeksikan selesai sekitar September hingga Oktober 2026. Jadwal itu lebih cepat dibanding estimasi awal yang diperkirakan tuntas pada akhir tahun.

“Tadi Kepala Balai Jalan menyampaikan September selesai, ya tambah satu bulan lah Oktober. Insyaallah Nataru sudah bisa dilewati dan fungsional,” ujar Menteri Dody.

Menurut Menteri PU, percepatan pembangunan menjadi prioritas karena kawasan tersebut selama bertahun-tahun dikenal sebagai titik rawan genangan saat hujan deras. Kondisi itu kerap memicu antrean kendaraan panjang di jalur Pantura Kota Pasuruan.

Menteri Dody menjelaskan, persoalan banjir dipengaruhi oleh kondisi Sungai Petung yang mengalami penyempitan serta pendangkalan. Akibatnya, debit air tidak mampu mengalir lancar menuju hilir ketika intensitas hujan meningkat.

Karena itu, pemerintah melakukan rekonstruksi total dengan meninggikan struktur jembatan dibanding bangunan sebelumnya. Upaya tersebut diharapkan menjadi solusi permanen untuk mengurangi banjir tahunan yang selama ini melumpuhkan akses utama penghubung antardaerah.

“Jembatannya harus kita tinggikan karena sungai sudah mulai menyempit dan mendangkal. Ini terjadi karena kawasan hulu kemungkinan sudah agak rusak, sehingga air tertahan saat hujan deras dan meluap ke jalan serta permukiman,” katanya.

Tak hanya fokus pada jembatan utama, pemerintah juga berencana meninggikan jalur rel kereta api (KA) berada di sisi jembatan. Penanganan terpadu itu dilakukan agar aliran Sungai Petung menuju hilir tidak lagi tersendat akibat perbedaan elevasi bangunan.

Menteri Dody menegaskan, peninggian kedua infrastruktur tersebut penting untuk mencegah luapan air ke kawasan permukiman warga di sekitar Bokwedi.

“Kalau titik jembatan tidak ditinggikan, termasuk jalur kereta api juga tidak ditinggikan, kami khawatir air semakin meluap ke kanan dan kiri jembatan. Peninggian ini penting agar aliran air lancar ke hilir,” pungkas Menteri Dody. ▪︎(FEND)

Related Articles

Back to top button