Berita

Batik Sampur, Ruang Inklusif Kreasi Anak Difabel di Kota Malang

▪︎ KOTA MALANG – POSMONEWS.com,-
Sanggar Budaya Anak Nareswari, Jalan Kyai Pasreh Jaya Nomor 29, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang, dipadati ratusan pengunjung.

Lagu “Indonesia Raya” mengalun, dinyanyikan bersama-sama dengan penuh penjiwaan oleh seluruh hadirin yang memadati ruangan.

Keharuan yang pelan-pelan menyelimuti ruangan menjadi pengingat kuat bahwa ruang budaya ini adalah milik seluruh anak bangsa tanpa terkecuali, menyediakan tempat bagi setiap jiwa untuk bertumbuh.

Momentum syahdu tersebut menandai dibukanya pelatihan membatik sampur bagi 15 anak difabel beserta pendamping mereka yang diinisiasi oleh Griya Kriya Topeng Ramah Difabel pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 untuk kategori Dukungan Institusional bagi Lembaga Kebudayaan.

Program strategis ini didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan, LPDP, dan Dana Indonesiana sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam menopang ruang-ruang inklusif lokal.

Sebelum masuk pada sesi inti, suasana ruang sanggar sempat bergetar oleh penampilan yang tak terduga dari seorang penari difabel berbakat, Ananda Zaki. Membawakan Tari Topeng dengan gerakan lincah namun sarat makna. Zaki seolah menghipnotis seluruh hadirin lewat irama musik tradisional yang dinamis dan bertenaga.

Penampilan tersebut bukan sekadar pembuka acara biasa, melainkan sebuah simbol hidup bahwa tradisi lokal memiliki kekuatan luar biasa untuk merangkul segala perbedaan fisik maupun mental.

Dikutip dari situs ngopibareng.id Ketua Sanggar Budaya Anak Nareswari, Ndaru Lazarus yang akrab disapa Dimas, dalam sambutannya menegaskan visi besar di balik kegiatan bertema “Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel & Pasar Seni Bareng” ini.

Dimas menjelaskan bahwa Griya Kriya dan Pasebar (Pasar Seni Bareng) adalah dua ruang yang konsisten melatih anak-anak difabel dalam 15 keterampilan secara berkesinambungan.

“Kami ingin menciptakan ekosistem seni yang benar-benar bisa diakses oleh siapa pun, dan membatik sampur hari ini hanyalah babak pembuka dari sebuah perjalanan kreatif yang jauh lebih panjang,” ujar Dimas saat memberikan keterangan di sela-sela acara.

Suasana pelatihan terasa semakin istimewa dengan kehadiran 47 mahasiswa Program Studi Fashion Design & Business Universitas Ciputra Surabaya yang didampingi langsung oleh dosen mereka, Jane Rine Teowarang.

Para mahasiswa yang sehari-hari bergelut dengan tren mode global dan strategi bisnis fesyen tampak membaur hangat di griya kriya tradisional tersebut tanpa ada sekat pembatas.

Interaksi yang cair ini membuka cakrawala baru bahwa sampur batik karya tangan-tangan istimewa ini kelak berpotensi naik kelas menjadi produk fesyen bernilai tinggi di pasar yang lebih luas.

Jane Rine Teowarang mengapresiasi tinggi kolaborasi lintas sektor yang terjadi dalam ruang inklusif ini sebagai wujud nyata dari semangat gotong royong modern.

Menurutnya, keterlibatan akademisi dan calon desainer masa depan dapat memberikan dorongan moral serta nilai tambah ekonomis bagi karya-karya yang dihasilkan oleh anak-anak difabel.

“Griya Kriya Topeng Ramah Difabel hadir bukan hanya sekadar sebagai tempat berlatih keterampilan, namun juga sebagai rumah tempat mimpi-mimpi anak difabel diberi ruang untuk tumbuh, dihargai, dan bersinar,” ungkap Jane dengan penuh haru.

Memasuki sesi inti, instruktur batik Yuharsita dari Bengkel Batik, dibantu rekannya Roro, memandu jalannya pelatihan dengan pendekatan naratif yang sangat memikat para peserta. Alih-alih langsung menyuruh peserta memegang canting, Yuharsita memulai kelas dengan bercerita menggunakan bahasa sederhana bahwa batik adalah untaian doa dan cerita yang ditorehkan menggunakan malam panas.

Ia memperkenalkan ragam motif Nusantara seperti Megamendung khas Cirebon, Sekarjagad dari Yogyakarta, hingga Batik Tiga Negeri, serta mengenalkan istilah dasar seperti glowong (garis luar motif) dan isen-isen (isian), di mana kain sampur hari itu akan dihiasi motif truntum yang anggun.

Ketika sesi praktik dimulai, ke-15 anak difabel mulai mengambil posisi masing-masing, memegang canting, dan perlahan menorehkan malam panas ke atas helai kain sampur putih di depan mereka.

Proses membatik ini sekaligus menjadi terapi motorik yang menyenangkan bagi para peserta dengan bimbingan penuh kesabaran dari instruktur, pendamping, serta mahasiswa Universitas Ciputra.

Di tengah riuh tawa ketika tetesan malam tak sengaja melenceng dari pola, letak keajaiban sejati justru muncul dari ketidaksempurnaan goresan yang membuat setiap lembar sampur menjadi unik dan tiada duanya di dunia.

Yuharsita memandang bahwa keterampilan membatik ini tidak boleh berhenti sebagai pemenuh ruang rekreasi seni semata, melainkan harus diarahkan pada rintisan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

Pihaknya juga membuka wawasan peserta mengenai peluang usaha mandiri, termasuk rencana pelatihan pemasaran digital via media sosial bagi yang ingin mendalami lebih lanjut.

“Kami berharap, melalui belajar membatik ini, mereka bisa membuat batik yang disesuaikan dengan kemampuan teman-teman difabel, sekaligus menjadi bekal berharga untuk memulai UMKM demi kehidupan yang lebih baik,” tutur Yuharsita optimis.

Penjelasan mengenai keberlanjutan program inklusif ini kemudian dipertegas oleh Brelliane Semesta Pratiwi selaku Bendahara Acara Harmonisasi di lokasi kegiatan.

Brelliane memaparkan bahwa pelatihan membatik sampur ini sesungguhnya baru babak pertama dari sebuah kurikulum seni inklusif yang telah dirancang secara matang dan runut hingga beberapa bulan ke depan.

Seluruh rangkaian program dirancang sepenuhnya gratis dan ramah difabel demi memastikan asas keadilan akses budaya bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Lebih lanjut, ia merinci bahwa pada Juni 2026 para peserta akan dilatih membuat topeng dari bahan dasar untuk melatih imajinasi spasial, disusul tahap melukis topeng pada Juli 2026 sebagai pemberian nyawa karakter melalui sapuan warna.

Puncaknya, pada 1 Agustus 2026, Griya Kriya Topeng akan menjelma menjadi panggung perayaan besar berupa parade tari, sendratari, dan bazar produk UMKM lokal.

“Ada satu detail yang membuat rangkaian ini terasa puitis dan utuh; sampur yang mereka batik hari ini akan mereka kenakan sendiri saat menari menggunakan topeng buatan tangan mereka di acara puncak nanti,” jelas Brelliane panjang lebar.

Di sudut Kota Malang hari itu, sinergi antara komunitas budaya, pakar batik, akademisi, dan dukungan penuh pemerintah menunjukkan bagaimana ekosistem kebudayaan yang sehat dan inklusif dapat dibangun.

Di atas selembar kain sampur yang dihiasi motif truntum, 15 anak difabel tidak sekadar belajar menorehkan malam panas di atas kain putih yang kaku. Mereka sedang menggoreskan harapan baru, menegaskan eksistensi diri di ruang publik, dan menuliskan kisah kemandirian mereka sendiri dengan jiwa yang merdeka.▪︎(AHM/Ngb)

Related Articles

Back to top button