P5 SMP PGRI 1 Buduran, Gelar Tari Massal Kebhinekaan Nusantara
▪︎SIDOARJO – POSMONEWS.com,-
Gelar karya P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) SMP PGRI 1 Buduran siswa kelas VII mengusung tema “kebhinekaan”. Menampilkan tari massal dari berbagai daerah di Nusantara, dengan menghadirkan para orang tua/wali siswa. Didukung dengan bazar makanan dan minuman yang diadakan oleh para siswa kelas VIII, Rabu (28/5/2025).
Sebelum menyaksikan gelar karya P5 dan mengunjungi bazar, para orang tua/wali siswa mendapatkan pengarahan dan laporan dari Kepala SMP PGRI 1 Buduran di aula sekolah.
Dijelaskan tentang program dan kegiatan sekolah yang sudah diikuti oleh para siswa. Kegiatan tersebut dihadiri oleh wakil kepala sekolah, para kepala urusan, dan wali kelas VII.
Kepala SMP PGRI 1 Buduran, Indrajayanti Ratnaningsih, S.Si, M.Pd, Gr. mengatakan, gelar karya P5 tersebut adalah gelar karya ke-2 yang dilaksanakan untuk para siswa kelas VII.
Baru beberapa menit tampil, kepala sekolah memberikan kesempatan kepada para orang tua/wali siswa untuk menyampaikan testimoni terkait dengan perkembangan pendidikan anaknya.
Dengan dibantu Wakil Kepala SMP PGRI 1 Buduran, Dra. Hj. Eva Wahyuda, M.Pd, akhirnnya tampillah seorang ibu yang merupakan orang tua dari Yusran, salah seorang siswa kelas VII.
“Alhamdulillah, anak saya yang semula diam, sekarang sudah bisa tampil. Sudah berani untuk presentasi. Sudah ada peningkatan kemampuan akademik dan non-akademiknya. Sudah bisa lebih aktif. Terima kasih Bapak-Ibu Guru SMP PGRI 1 Buduran,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kepala SMP PGRI 1 Buduran, Indrajayanti Ratnaningsih mempresentasikan dimensi P5 yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Yaitu: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
“Saya mohon semua pihak mengapresiasi apa-apa yang ditampilkan oleh anak-anak. Jangan hanya dinilai hasilnya, tapi juga prosesnya,” katanya.
Menurutnya, untuk bisa tampil menari massal dengan baik, anak-anak harus bisa berproses. Dalam proses tersebut mendapatkan penanaman karakter mandiri, tanggung jawab, dan gotong royong.
“Memang ada statemen ‘ganti menteri, ganti kurikulum’. Alhamdulillah, sekarang tidak ada pergantian kurikulum. Hanya ada reorientasi, P5 menjadi P7,” ujarnya.
Disebutkan, P7 merupakan konsep baru yang menggantikan P5 dalam Kurikulum Merdeka. Beryjuan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dan memastikan siswa mendapatkan ketrampilan yang relevan dengan tantangan zaman. Diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran, bukan hanya sebagai program ko-kurikuler.
Indrajayanti Ratnaningsih juga menyampaikan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat. Yaitu: bangun pagi, beribadah, berolah raga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Yang bertujuan untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
“Semua itu bisa diwujudkan dengan integrasi tripusat pendidikan sebagaimana yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Yang didukung dengan manajemen berbasis sekolah. Dalam mendidik anak perlu kerja sama antara sekolah, keluarga/orang tua, dan masyarakat,” katanya.
Kepala SMP PGRI 1 Buduran mengajak orang tua/wali siswa untuk lebih perhatian dan peduli dengan perkembangan pendidikan anak-anaknya. Mulai dari kebiasaannya sehari-hari, pola hiduo bersih dan sehat, makan makanan yang bergizi sesuai nutrisi yang diperlukan, kegiatan ibadahnya, perkembangan sosial/bermasyarakat, dan perkembangan mentalnya.
“Menurut informasi Babinkamtibmas dari Polsek Buduran dan Kades Siwalanpanji, para pelaku dan korban kejahatan di antaranya adalah anak-anak sekolah usia SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. Oleh karena itu, dihimbau agar orang tua/wali siswa lebih mengontrol anak-anaknya ketika berkegiatan di luar sekolah dan luar rumah. Termasuk harus dikontrol mereka itu berteman dan bergaul dengan siapa saja. Harus waspada dan berhati-hati,” jelasnya.
Disebutkan, supaya diantisipasi agar anak-anak tidak terlibat tawuran atau bentrok massal, apalagi dengan membawa nama-nama perguruan silat, gangster, cyrcle pertemanan yang negatif, curanmor, minum minuman keras, membawa senjata tajam, atau tindak kriminal lainnya.
Usai mendapatkan pengarahan kepala sekolah sebagai follow up parenting skills, para orang tua/wali siswa diajak untuk menyaksikan tampilan tari massal bertema “Bhineka Tunggal Ika” di halaman sekolah.
Di antaranya ada tarian dari daerah Jawa, Bali, Sunda, Dayak (Kalimantan), Betawi (Jakarta), Papua, dsb. Disusul dengan para bapak/ibu guru pun ikut bergabung menari bersama anak-anak.
Tampilan tari berakhir, para orang tua/wali siswa dimohon mendekati anaknya masing-masing, bersalaman, dan berpelukan, serta foto bersama. Momen inilah yang cukup mengharukan, sebab di antara orang tua/wali siswa dan anaknya tidak bisa menahan isak tangis, air mata pun menetes membasahi pipi mereka.
Kegiatan penutup, para orang tua/wali siswa dan anak-anaknya masing-masing dengan dipandu bapak/ibu guru serta pengurus OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) mengunjungi stand bazar makanan dan minuman yang disiapkan oleh para siswa kelas VIII. Dalam waktu singkat, semua dagangan laku terjual habis.
▪︎(Koesmoko, Humas SMP PGRI 1 Buduran)
