Pentas Gamelan Bamakidra dan Sarasehan Budaya DPD Matra Lamongan
▪︎LAMONGAN-POSMONEWS.COM,-
DPD Matra Lamongan dibawah komando R Tg.Harun RTG. Harun Setiawan Dirjo Kusumo terus menunjukkan eksistensinya, meski sebagai wong Anyar Katon, namun kegiatan-kegiatan rutinnya dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional khas Lamongan diselingi sarasehan budaya menjadi bukti kegiatan Matra di kota soto terus berkibar dan berkesinambungan.
Seperti kegiatan rutinan, Sabtu (30/12/2023), bertempat di Sekretariat DPD Matra Lamongan, di Cafe Alamanda, Jl. Lamongrejo No.125, Dapur Barat, Sidokumpul, Kec. Lamongan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur ini menggelar pentas Seni Gamelan Bamakidra dari Brumbun Paciran pimpinan Ki Marmo.
Sekretaris DPD Matra Lamongan, Arie Sutikno, S.T menuturkan bahwa meski Matra Lamongan usianya belum satu bulan tetapi sudah rutin setiap Minggu, mengadakan kegiatan yang sifatnya pengembangan budaya.
” Karena di dalam organisasi Matra, khususnya DPD Lamongan ini banyak pelaku-pelaku seni dan budaya juga spiritualis, jadi tak akan kehabisan ide untuk menggelar acara,” tuturnya.
Seperti malam Minggu kemarin, Matra menampilkan kesenian gamelan Bamakidra dari brumbun Paciran pimpinan Ki Marmo yang juga anggota Matra. Menjadi cukup gayeng karena, juga dihadiri tamu istimewa yakni Ketua DKL (Dewan Kesenian Lamongan), Imron Rosyidi yang ikut meramaikan acara malam rutinan tersebut. Mas Idi, panggilan akrab Imron Rosyidi mengatakan bahwa kehadiran Matra ini bisa menjadi salah satu wadah untuk mengembangkan budaya, dan kesenian di Lamongan. Karenanya bisa menjadi mitra untuk berkolaborasi dengan DKL dalam menggelar event-event kesenian asli Lamongan.
Di sesi Wejangan dari penasehat Matra, budayawan Lamongan yakni Romo Hidayat Ikhsan dari Paciran, juga menyoal bab gamelan itu. Menurutnya, syahdan Kanjeng Sunan Drajat menyebut bahwa gamelan itu sebagai Penghalus Budi.
“Seperti juga benda “udeng” yang kita pakai ini, maknanya simbol kecerdasan, berasal dari kata mudeng yang artinya mengerti.
Bahwa, tidak hanya pengikat rambut saja tetapi sebagai pengikat persaudaraan kita,” kata Romo Ikhsan.
Selain pentas gamelan yang ditabuh oleh para niyaga dengan irama yang menyejukkan hati, serta tetembangan (lagu, red) sinden yang mendayu-dayu terasa sebagai pengobat jiwa. Di malam itu juga digelar Sarasehan Budaya yang membahas tentang tosanaji.
Adapun acara terakhir sarasehan berupa wawasan tentang tosanaji,
dengan narasumber Gus Nur Cholis, Wakil Ketua DPD Matra Lamongan, sekaligus ketua salah satu organisasi tosan aji di Lamongan. Gus Nur ini juga dikenal sebagai pemangku Padepokan Nur Langit di kawasan Desa Keset, Lamongan.
Menurut Gus Nur, bahwa tosanaji ini merupakan semua peninggalan para leluhur pesohor Nusantara. Seperti yang cukup melegenda, nisalnya adalah keris Nagasasra Sabuk inten, Keris Pendaringan Kebak diperuntukan untuk ekonomi, Keris Kamardikan, Kujang Pasundan, dll.
“Yang juga harus dipahami, tentang keris yakni bab kekuatan adalah bonus kita lebih mengabadikan mengagumi seni. Karena selain sebagai benda seni yang sifatnya sebagai Klangenan, semua keris memiliki energi positif, dan semua keris mengandung kekuatan atau daya adikodrati,” tukas Gus Nur.
▪︎[DANAR SP]
