Dikenal sebagai Markus hingga Broker Anugerah Gelar Bangsawan
▪︎ Oknum Ketua Organisasi Budaya yang Diduga Menipu

▪︎ LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Tidak ada etikat baik dari terlapor kasus dugaan tindak penipuan yang dilakukan oleh HS alias I, oknum eks ketua DPD sebuah organisasi yang berkiprah di bidang adat dan budaya se Nusantara ini. Seiring kasusnya mencuat, dan kini sudah ditangani oleh Polres Lamongan.
Hal ini dituturkan oleh korban atau pelapor, Suko Edi Puspito, warga Kec. Sekaran, Lamongan kepada jurnalis posmonews. com. Menurutnya, uang itu rencananya juga diperuntukkan untuk pengobatan ibundanya yang sakit (stroke, red). Sehingga sekarang pun ibunya itu masih belum mendapat pengobatan yang maksimal.
Dasarnya, pria yang juga pelaku seni wayang songsong di Lamongan ini percaya pada HS yang mengaku memiliki chanel/ koneksi dengan para petinggi di Kepolisian, TNI, birokrasi di tingkat Propinsi hingga Pusat.
” Kami kenal di acara budaya di Alun-alun Lamongan. Selanjutnya HS sering bersilaturahmi ke rumah saya. Karena itulah, saat adik saya butuh untuk mengurus izin pabrik, HS yang menawarkan jasa itu dalam hitungan hari, akan beres. Namun, semua yang dijanjikan itu tak kunjung datang, hingga saya menanyakan, sekaligus menagih tanggung jawab pada HS, karena waktunya sudah melewati batas, ” kata Suko Edi Puspito.
Penelusuran media ini pada sejumlah anggota organisasi tersebut, rumornya yang membenarkan oknum eks ketua itu banyak dugaan melakukan penipuan. Otorian dan tidak transparan dalam masalah keuangan organisasi.
Seorang pengusaha di Lamongan Selatan, yang tidak bersedia disebut namanya, mengaku ia bersama rekan-rekannya, terpedaya HS sehingga mengeluarkan uang puluhan juta. Bahkan ia pribadi dalam persoalan bisnisnya yang terkait otoritas di pusat harus wira-wiri ke Jakarta, hingga mengeluarkan uang ratusan juta karena dibrokeri HS. Hasilnya nihil.
“Tapi saya anggap itu sodaqoh aja mas. Kalau saya masih tetap anggap teman, tetapi dalam hal tertentu saya lebih baik menjauh, ” tuturnya.
Perihal yang menjadi perbincangan hangat, adalah peran HS sebagai broker pemberian gelar kebangsawanan (keningratan). Dalam khasanah budaya kraton disebut Jumenengan atau Tingalan Dalem Jumenengan. Yakni upacara adat sakral untuk memperingati hari kenaikan tahta raja atau penguasa di keraton Jawa (seperti Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, dan Pura Mangkunegaran) dll..
Entah begitu lahainya HS dalam melobi para pejabat pemerintahan dari yang tertinggi hingga tingkat Kades, tokoh budaya, agama dan awam, sehingga Lamongan boming gelar kebangsawan, berkat diberi Kekancingan oleh seorang tokoh di Yogyakarta itu.
Para bangsawan dadakan ini masuk sebagai Sentono dengan gelar macam-macam. Tergantung kontribusi atau, membayarnya. Misalnya, ada gelar KRT (Kanjeng Radem Timenggung), KRNg T (Kanjeng Raden Nganten Tumenggung). Lalu, ada pula R.Tg (Raden Tumenggjng), R.NgtT ( Raden Nganten Tumenggung). Rumornya untuk kelas di atas harus membayar puluhan juta.
Sedangkan hirarki gelar yang lain seperti Rtg. Bahkan di tingkatan di bawah kepala desa, dengan gelar tertentu atau terendah harus membayar 1,5 juta.
Data yang dihimpun media ini, Lamongan merupakan pemecah rekor dalam acara pemberian gelar tersebut. Misalnya dalam wisuda kekancingan jumenengan ke-3 terhadap calon Sentono di salah satu candi di Jawa Tengah, akhir bulan Januari 2025 silam, ada 60 sentono asal Lamongan yang dikoordinir HS mendapat gelar keningratan itu.
Lalu bagimana entitas gelar tersebut. Dalam ensiklopedi kebudayaan, kekerabatan bangsawan adalah sistem hierarki sosial berbasis darah dan silsilah yang menjaga tradisi dan kehormatan keluarga ningrat. Hinggapun muncul Himpunan Kekerabatan Mangkunegaran (HKMN), sering juga disebut Himpunan Kerabat Mangkunegaran atau HKMN Suryo Sumirat, adalah organisasi yang mewadahi keturunan para adipati dan keluarga besar Puro Mangkunegaran.
Agar Anda tidak gagal paham, karena sangat berbeda dengan entitas Praja Mangkualaman, sang pemberi gelar kekancingan itu, yang konon prajanya didirikan karena hadiah dari para kolonial yakni Inggris (Thomas Stamford Raffles) dan Belanda. ▪︎[DANAR SP]

