Ramai Virus Corona, Obat Herbal Laris Manis

179 dibaca

Virus corona Covid-19 yang mulai mewabah di Indonesia membuat warga dan masyarakat melirik obat-obatan herbal. Tak heran, beberapa pengusaha jamu pun banjir orderan.
Seperti dilansir Radar Tegal, beberapa Minggu ini permintaan jamu di Batang, Jateng, naik drastis. Ini dibenarkan salah satu produsen jamu di Batang, Rizky Murtikasari.
Ibu rumah tangga sekaligus guru di SMK Farmasi Limpung itu memang tengah gencar berinovasi dengan jamu yang dibuat kekinian. Produk jamu olahannya menawarkan rasa yang manis, namun tetap tidak mengurangi khasiat dari obat tradisional.
Sehingga masyarakat mulai tertarik untuk mengkonsumsinya. Rizky membeberkan bahwa hal itu dikarenakan masyarakat percaya bahwa rempah-rempah yang terdapat pada jamu bisa menangkal virus covid-19.
“Memang semenjak ada isu virus itu, ada permintaan yang signifikan. Kalau biasanya saya produksi 50 botol sehari, beberapa hari ini sampai 130 botol, naik 100 persen lebih, saya sampai kewalahan,” tuturnya.
Dikatakannya, harga rempah-rempah pun saat ini dipasaran juga mulai naik. “Mungkin juga berdampak ya sama harga rempah. Seperti jahe saja semula Rp 40 ribuan sekarang sudah hampir Rp60 ribu perkilogram, saya mau naikkan harga jamu juga gimana kasihan konsumen,” ujarnya.
Menurutnya, rempah-rempah memiliki berbagai khasiat seperti untuk mempertahankan daya tahan tubuh, pegal-pegal, radang tenggorokan, dan lainnya.
Saat ini, Jamoe Simbok buatan Rizky lebih banyak menuruti permintaan konsumen. Salah satunya pembuatan jamu yang dicampur beberapa rempah-rempah.
“Banyak yang minta request mix rempah, seperti jahe, kunir asem, dan temulawak. Kalau sejauh ini yang paling laris itu jamu super, karena hampir semua rempah jadi satu di ramuan itu,” jelasnya.
Sementara untuk jamu yang biasanya diproduksi adalah beras kencur, kunir asem, rosela, secang jahe, gula asem, sirih kunci, susut perut dan lempuyangan. “Untuk harga jual jamu dibandrol Rp12 ribu per botol dengan ukuran 500 mililiter,” tutupnya. (rdt)