Tafakur, Konsepsi Islam Jalan Menuju Tuhan (5)   

164 dibaca
Kita sering mendengar perkataan bahwa sabar itu ada batasnya. Namun alangkah baiknya, sabar itu tidak ada batasan. Sabar yang tidak berbatas, itulah sabarnya orang-orang yang berjalan menuju Tuhan.
Tetapi, orang yang berjalan menuju Tuhan tidak cukup hanya bersabar. Tidak boleh berhenti di maqam sabar. Harus meningkatkan kualitas ketakwaan, berjalan menuju terminal Tawakal. Di maqam (perhentian) ini orang harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah (yakin pada Qadha dan Qadar-Nya). Baginya, apa yang terjadi pada dirinya hari ini harus disyukuri, hari kemarin adalah guru, dan hari esok adalah rahasia Allah yang tidak perlu dipikirkan. Bahkan kalau pun ada padanya sesuap makanan, ia tidak mau makan selagi ada orang yang lebih memerlukan makanan itu daripada dirinya sendiri. Dalam hal ini, ia bersikap seperti orang yang telah mati. Orang mati tak membutuhkan apa-apa.
Tawakal, berserah diri pada Allah Ta’ala yang dimaksudkan bukan hanya sekedar tawakal secara syariat, yaitu lebih dulu harus didahului dengan ikhtiar atau usaha. Setelah upayanya gagal, baru dilakukan tawakal. Tetapi, tawakal dalam arti kata yang sebenarnya, yaitu harus memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi pada seseorang atas kehendak Allah, bukan hasil dari ikhtiar seseorang. Hakikat tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah Azza wa Jalla, membersihkannya dari ikhtiar yang keliru, dan tetap menapaki kawasan-kawasan hokum syariat dan ketentuannya.
Karena tujuan tawakal adalah meningkatkan derajat dan kepangkatan di sisi Allah, dalam hal kerohanian. Dan yang harus ditawakali segala urusan, rezeki, dan jiwa raganya yang semua itu sudah dijamin oleh Allah.
Ada dua macam orang bertawakal. Yaitu orang yang sendiri (membujang) dan orang yang sudah berkeluarga. Karenanya hukumnya harus dan haram. Yang harus teruntuk mereka yang hidup sendiri. Ia harus meninggalkan segala urusan, tidak bekerja. Sedangkan yang haram, bagi mereka yang berkeluarga. Ia tidak boleh meninggalkan pekerjaan, malahan wajib bekerja, bahkan haram jika sampai meninggalkannya.
Bertawakal bagi orang yang sendiri, tidak beristri dan tidak beranak, maksudnya adalah meninggalkan bekerja, menjauh dari keramaian manusia dan hanya melakukan ibadah kepada Allah semata-mata. Pergi ke hutan, atau menyendiri untuk berkelana di jalan menuju Tuhan. Perjalanannya tidak boleh terganggu oleh urusan pekerjaan. Istilah orang yang menyendiri ini disebut Uzlah.
Bagi mereka yang memiliki keluarga, maka tidak boleh meninggalkan bekerja. Haram meninggalkan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya. Tidak boleh memaksa keluarganya untuk bersabar.
Imam Ghazali berkata, orang yang tidak berkeluarga itu boleh tanpa bekerja dengan dua syarat:
1. Harus kuat menahan lapar selama 7 hari tanpa mengeluh dan tidak sedih karena lapar.
2. Senang dan bergembira jika mati karena tidak menemukan rezeki
Ada pertanyaan, bagi orang yang tidak mempunyai keluarga, lebih utama mana bekerja atau bertawakal? Dalam hal ini ada tiga pendapat:

1. Lebih utama tawakal (berserah diri), karena tawakal itu adalah perilaku Nabi SAW dan ahli shuffah.
2. Lebih utama bekerja yang tidak bertujuan untuk mengumpulkan harta kekayaan, hanya niat mengerjakan keutamaan yang diperintahkan Allah Ta’ala.
3. Yaitu pendapat yang dipilih, seperti pendapat Imam Ghazali ; Bagi orang yang bisa melaksanakan ibadah ketika tidak bekerja, tafakur, dzikir, dan lain-lainnya. Dan jika bekerja, hal itu menjadi penghalang untuk beribadah serta tidak ingin atau tidak berharap-harap akan pemberian orang lain dan tidak merasa sedih ketika tidak menerima rezeki, maka bagi orang tersebut lebih utama tawakal tanpa bekerja. Tetapi bagi orang yang goncang pikirannya ketika menerima rezeki atau ingin dan mengharap pemberian orang lain, maka lebih utama bekerja. Semua keterangan ini hanya bagi orang yang tidak berkeluarga. Bagi yang berkeluarga, wajib berusaha (bekerja), tidak boleh tawakal seperti tersebut.
Ada seruan, “Janganlah kamu merendahkan martabatmu kepada manusia, hanya karena ingin hartanya atau pangkatnya, sehingga merendahkan diri dan mau melayani atau membantu keperluannya. Karena yang demikian itu menjadi tanda bukti cinta kepada harta dunia yang tercela.”

Uzlah

Uzlah artinya menyepi. Menjauhkan diri dari manusia. Itu lebih utama ketika zaman sudah rusak atau khawatir terkena fitnah agamanya. Yang dimaksud rusaknya zaman, dimana para manusia sudah banyak yang tidak menepati janji dan mengkhianati amanat. Dalam hadits diterangkan, “Sesungguhnya pada zaman itu banyak yang ahli berpidato (khotbah), sedikit ulamanya, banyak permintaan, sedikit yang memberi, hawa nafsu mengalahkan ilmu.”
Sayyidina Umar RA berkata: “Sesungguhnya dalam uzlah dapat menenteramkan hati daripada bergaul dengan orang yang tidak baik tingkah lakunya.” Imam Ghazali menerangkan manfaat uzlah ada 6 hal :
1. Bisa lebih khusyuk melaksanakan ibadah dan taat serta bersenang-senang menghadap Allah Ta’ala.
2. Bisa selamat dari dosa yang timbul sebab bergaul dengan manusia, seperti membicarakan aib orang lain, adu domba, dan lain sebagainya.
3. Bisa selamat dari fitnah dan pertengkaran.
4. Bisa selamat dari jahatnya manusia, seperti menyangkal.
5. Tidak mempunyai sifat tamak pada orang lain.
6. Bisa selamat dari tidak mengetahui perbuatan tidak baik.
Karena langkanya pergaulan yang kosong dari kemaksiatan dan kedurhakaan, maka hendaklah kamu menimbang-nimbang dirimu sendiri dan berangan-angan untuk memiliki yang lebih utama, segala kemaksiatan seperti ria, membicarakan aib orang, adu domba, iri hati dan lain-lain itu semua bisa terjadi sebab pergaulan dan tidak bisa berhasil ketika uzlah. (Bersambung). *** Bung Yon N.