Candi Jabung Tempat Pemujaan Kaum Hawa

273 dibaca

Candi Jabung, Jabung berada di Desa Jabung Candi kecamatan Paiton – Kabupaten Probolinggo. Sekitar 25 km jaraknya dari Pusat kota. Berada di tengah perkampungan yang terletak sekitar 500 m dari Jalan raya Probolinggo – Situbondo. Walau lokasi candi ini sebenarnya cukup mudah dijangkau dengan akses jalan yang baik, ternyata masih banyak warga yang belum tahu tentang apa dan bagaimana sosok candi yang bersejarah itu.
Menyimak dan mencermati bangunan , di bagian atas candi terdapat hiasan Relief Kala yang berbentuk kepala naga dan sulur-suluran sehingga lebih sering disebut dengan nama relief Kala Naga. Ada empat Relief Kala Naga yang terdapat di empat sisi bagian atas Candi Jabung . Namun sayang pada salah satu sisi tinggal panil kosong saja, sedangkan relief kepala naganya sudah raib entah kemana
Sosok Candi Jabung terlihat cukup tinggi dan megah. memiliki tinggi bangunan 16,20 m ,panjang 13,13m dan lebar 9,60m dengan posisi menghadap ke arah barat. Berada pada ketinggian 8 km di atas permukaan laut dengan luas kompleks candi menacapai 20.042 m2. Tterlihat taman dan halaman candi terawat dengan bersih, rapi dan asri. Bangunan candi ini terbuat dari bahan Batu bata. Karena itu, dari kejauhan candi Jabung ini tampak berwarna merah bata.
Bentuk arsitektur candi Jabung sangat menarik. Tubuh bangunan candi berbentuk bulat silinder segi delapan dan berdiri di bagian atas kaki candi yang berbentuk persegi dan betingkat tiga. Sedangkan bagian atapnya berbentuk stupa. Sepintas gaya bangunan candi ini mengingatkan pada gaya bangunan Candi Brahu di Mojokerto. Namun ada juga yang megatakan secara tipologis bentuknya seperti candi Muara Takus di Riau dan Biaro Bahal di Padang Sidempuan.
Badan candi berbentuk bulat (silender segi delapan). Badan candi ini bersifat Siwaistik karena sekelilingnya dipahatkan adegan-adegan cerita Sri Tanjung. Legenda Sri Tanjung pada dasarnya mengisahkan fitnahan terhadap Sri Tanjung, seorang dewi yang sangat cantik, isteri Raden Sidapaksa, yang berakhir dengan kematian/pembunuhan Sri Tanjung.
Karena tidak bersalah, maka Sri Tanjung dihidupkan kembali oleh para dewa dan bertempat tinggal di kediamannya semula sebelum kawin. Singkat Cerita, Raden Sidapaksa disuruh oleh Betari Durga untuk pergi ke kediaman Sri Tanjung. Namun isteri yang teraniaya ini menolak untuk rujuk kembali, kecuali apabila Raden Sidapaksa dapat membunuh dan membawa rambut si pemfitnah untuk dijadikan kesed (pembersih kaki) Sri Tanjung. Setelah permintaan tersebut terlaksana, suami-isteri itu kembali hidup bersama-sama.
Sayang sekali meskipun pada tahun 1983-1987 Pemerintah melakukan pemugaran bangunan candi Jabung dan sekalgus menetapkannya sebagai Cagar Budaya. Akan tetapi masih ada saja tangan-tangan jahil tidak bertanggung jawab dengan merusak bagian bangunan. Sehingga, atap candi raib entah kemana sehingga sampai sekarang tidak diketahui bagaimana bentuk Candi Jabung ini secara utuh pada masa lampau.
Diketahui bahwa Candi Jabung ini ditulis dalam Kitab Nagarakertagama disebut Candi Kalayu, sedangkan dalam Kitab Pararaton disebut Candi Sajabung. Dalam kitab Negarakertagama pupuh XXXI diceritakan bah wa Raja Hayam Wuruk setelah sampai di daerah Kalayu mengadakan upacara persembahan. Diperkirakan Kalayu itu adalah nama desa jabung di masa lampau. Sedangkan di kitab Pararaton disebutkan bahwa di desa Sajabung terdapat bangunan suci yang diberi gelar abhiseka : Barajinaparamitapuri atau bangunan untuk tempat pemujaan bagi wanita keluarga Hayam Wuruk. HARIS