Berita Utama

NAPAK TILAS ADIPATI LAMONGAN

Pulung Pilkada Lamongan
di Ponpes Sunan Drajat Giri Noto (3)

Posmonews.com-Lamongan. Di gelaran Harlah Ponpes Sunan Drajat Giri Noto, 10 Muharram 1442 H, Sabtu (29/8) besok, Gus Rahman Rahmatullah berharap doa ulama yang hadir, maupun di tanah air, juga para santri menjadi wahana usada nusantara. Terutama terhadap pagebluk Covid 19, dan kedamaian NKRI tercinta bisa dengan ngaji dan tepa tuladha sejarah Sunan Giri dan kota Lamongan.

Siapapun warga Lamongan pasti paham dengan legenda sejarah Giri yang berperan terhadap moncernya kota soto ini. Selain sejarah Ronggo Hadi atau Mbah Lamong yang kemudian bergelar Tumenggung Surajaya, legenda santri Giri dan ikan lele juga sangat mbalung sungsum dimengerti oleh warga Lamongan.

Syahdan Gresik dilanda pagebluk, sedangkan keris pusaka Sunan Giri dititipkan pada mbk Rondo Mbarang. Maka Ki Danurekso diutus Mbah Giri untuk mengambilnya secara dism diam sebagai maling aguno. Sayang niatnya ketahuan warga hingga harus berjuang untuk meloloskan diri. Santri Giri itu masuk ke blumbang (telaga) dan dilindungi oleh ikan lele. Sehingga menjadi mitos, trah Lamongan yang dipantangkan makan ikan yang kini jadi simbol kota Lamongan.

Sejarah ini menurut Gus Luqman, membuktikan benang merah Giri dan Lamongan membumi hingga sekarang. Terutama terhadap tokoh yang mengampu Lamongan baik di zaman klasik hingga modern ada keterkaitannya.

” Karena itulah di era suksesi seperti pilkada (Pilbup) Lamongan ini lakon-lakon sejarah bisa jadi pandulum. Termasuk sejarah bahwa pemimpin di kota ini sejak zaman Adipati hingga sekarang didominasi kaum pria. Ini bukan berarti anti kesetaraan gender tapi hakikat sejarah Lamongan itu selalu dipimpin oleh ksatria (pria). Tradisi ini telah jadi semacam pakem, ” katanya.

Lalu Posmonews. com mencoba mengurutkan data sejarah adipati Lamongan. Inilah faktanya. Sejak masih berbentuk Kranggan hingga kini menjadi kabupaten, dari tahun 1543 hingga tahun 2020, Lamongan sudah dipimpin oleh 42 kepala daerah. Mulai dari sebutan Rangga, Tumenggung, Adipati hingga Bupati. Rangga Aboe Amin merupakan awal sejarah kepemimpinan Lamongan pada tahun 1543-1556.

Rangga Hadi adalah pemegang tampuk kepemimpinan berikutnya pada tahun 1556-1569.

Tahun 1569 Lamongan berganti status menjadi Katuranggan. Tumenggung Surajaya diangkat sebagai Adipati Lamongan pertama dengan masa kepemimpinan tahun1569-1607 dan tanggal 26 Mei 1569 ditetapkan sebagai Hari Jadi lamongan. Tumenggung Surajaya disebut juga mbah Lamong, dari sinilah asal nama kota Lamongan.

Raden Pandji Adipati Keling meneruskan kepemimpinan selanjutnya pada tahun 1607-1640. Lalu tahun 1862, Lamongan dipimpin oleh Raden Pandji antara lain Raden Panji Poespokoesoemo, Raden Panji Soerengrono dan Raden Panji Dewa Kaloran.
Tumenggung Todjojo memimpin Lamongan pada tahun 1682-1690. Selanjutnya diteruskan oleh Tumenggung Onggobojo, Tumenggung Kertoadinegoro, Tumenggung Wongsoredjo, Tumenggung tjitrosono dan Tumenggung Djojodirjo.

Tahun 1761-1776 adalah masa pemerintahan Adipati Sosronegoro, dimana Belanda menancapkan kekuasaannya. Hingga tahun 1824 Lamongan memiliki dua Tumenggung yaitu Tumenggung Wongsodinegoro dan Tumenggung Mangundinegoro. Pada tahun ini pula Lamongan masuk ke dalam Karesidenan Gresik.

Adipati Ardjodinegoro memerintah pada tahun 1824-1856. Dilanjutkan oleh RT Tjokro Poerbonegoro tahun 1856-1863 dan RT Kromo Djojo Adinegoro tahun 1863-1866 dan diganti oleh RT Kromo Djojo Adirono tahun 1866-1885. Pada tahun 1867 lamongan beralih menjadi bagian Karesidenan Surabaya.

Tahun 1885-1908, R Adipati Djojo Dirono memerintah. Tampuk kepemimpinan kembali dipegangnya pada tahun 1908-1937. Karena keberhasilannya membangun rel kereta api, sekolah dan rumah sakit gelarnya dinaikkan menjadi Raden Adipati Aryo Djojo Adinegoro.Kepemimpinan selanjutnya dipegang oleh Raden Tumenggung Moerid Tjokronegoro pada tahun 1937-1942. (bersambung)
DANAR SP

Related Articles

Back to top button