Proyek Jaringan Irigasi di Curungrejo Asal-asalan
▪︎MALANG-POSMONEWS.COM,-
Proyek pembangunan jaringan irigasi di Curungrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, terindikasi asal-asalan. Tak beda jauh dengan di Karangduren, Pakisaji, Dusun Golek.
Pasalnya, dalam pembangunannya, diduga ada upaya pengurangan volume beton dan papan nama juga yang mengerjakan tidak ada, berapa anggaran dipakai sehingga cenderung mengurangi kualitas bangunan pada proyek yang diambil dari Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN atau dari APBD, Tahun Anggaran 2022, dikerjakan dengan cara penunjukan.
Salah seorang warga Desa Wonokerso sekitar proyek, Wandi, menyatakan pengerjaan saluran air itu menggunakan komposisi semen 1 sak dan pasirnya 50 sak.
Sebelumnya, batu pecah yang dipakai sebelumnya, batu kali dan di pecah diambil langsung dari sungai di sekitaran proyek adalah batu pecah bekas dari bangunan sebelumnya.
Diduga proyek pembangunan tersebut tidak sesuai dengan RAB dan dikerjakan asal-asalan. Tentunya, kualitas bangunan tidak sesuai harapan.
“Masak sih, proyek anggarannya puluhan juta dan ratusan juta, untuk pemasangan batu pecah kali asal nempel aja, sehingga jika tergerus air tentunya cepat lepas batu pecah yang dipasang,” ungkapnya.
“Batunya diambil dari kali dan pecah kelihatan juga bekas seperti ada upaya pengurangan volume. Ironis juga saya melihatnya,” kata Wandi kepada media, Jumat (9/12/2022).
Tak hanya itu saja, dalam pemasangan kerangka tulangan besi juga jaraknya kira-kira 30 sampai 40 centi meter. Di Dusun Golek, sebagian saluran yang mestinya dikeruk juga dibiarkan begituini saja.
“Sepengetahuan saya, biasanya jarak tulang besi beton untuk kualitas saluran air di Karangduren itu, jaraknya antara 12 sampai 15 centi meter. Supaya, saluran air pengurai banjir lebih kokoh, karena debit air selama ini jika hujan tergenang dan agak lama surutnya, disamping itu pengerukan tidak merata,” ungkap Wandi.
Saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu pihak PLT PUPSDA, Khoirul Anam (Oong), baik untuk saluran air di Karangduren dan Curungrejo itu adalah proyek provinsi di hadapan PLT PU Bina Marga, Suwignyo.
Sementara itu, cara kontraktor sebagai pelaksana pembngunan proyek dalam mengerjakannya, cenderung terkesan seperti asal jadi. Bahkan, kontraktor juga pekerjanya, kurang perhitungan tentang masalah kualitasnya.
Robi salah satu tukang yang mengerjakan proyek saluran irigasi mengatakan, dirinya hanyalah sebagai pekerja.
“Untuk pemasangan batu pecah kali di Curungrejo asal nempel saja dan saya dibayar borongan jika selesai dibayar Rp. 2,500.000 jika kuli dibayar Rp. 1.750.000. Proyek dikerjakan hanya 5 orang satu bulan selesai tanpa ada pengawan dari pihak manapun,” ungkapnya.
Bahkan, pihak desa juga tidak tahu kalau ada peroyek saluran air saat dikonfirmasi ke kepala desa. Kepala Desa, Sujud, mengatakan dirinya tidak tahu menahu soal proyek tersebut.
“Saya tidak tahu mas, ada pengerjaan saluran drainase itu dan saya baru tahu setelah di telepon awak media,” pungkas Sujud.▪︎[AHM/FARR]

