Berita Utama

JLS Lamongan Dikebut  Solusi Darurat Lalulintas Ekonomi

▪︎ LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Ring Road Utara atau Jalur Lingkar Utara Lamongan sangat nyata dirasakan oleh pengguna jalan baik warga Kab. Lamongan dan luar daerah. Peran utama untuk mengurai kemacetan dan kepadatan lalu lintas yang sebelumnya cukup padat melewati jalan utama kota kini sudah semakin baik, dan lancar,

Jika di wilayah kota telah tertata karena adanya JLU, lain hal di kawasan Babat yang butuh akses untuk mengatasi kepadatan lalulintasnya.

Hanya di era Bupati Yuhrohnur Efendi, ini akhirnya terwujud, pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS) yang diproyeksikan sebagai pengurai kemacetan.

Selain itu juga mampu mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi melalui peningkatan konektivitas dan kelancaran distribusi barang maupun mobilitas masyarakat.

Kehadiran jalur alternatif ini tidak hanya mengurangi kepadatan lalu lintas di pusat kota, tetapi juga membuka akses kawasan baru untuk pengembangan perdagangan, industri, hingga sektor pariwisata.

Dalam jangka panjang, infrastruktur jalan seperti JLS berpotensi menciptakan pusat-pusat ekonomi baru, meningkatkan nilai investasi, serta mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah sekitar jalur yang dilalui.

Jalan Lingkar Selatan (JLS) yang diproyeksikan bisa meningkatkan ekonomi dan mengurai kemacetan di kawasan Pasar Babat, Lamongan, Jatim.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menyatakan pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS) Babat diproyeksikan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi di wilayah bagian barat dan mengurai kemacetan di kawasan tersebut.

“Keberadaan jalan tersebut tidak hanya untuk mengurai kemacetan, tetapi juga memperlancar distribusi barang dan jasa sehingga mendukung aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya di Lamongan, Jawa Timur, Kamis (14/5).

Secara teknis, proyek JLS Babat dirancang sepanjang sekitar 6,9 kilometer dengan lebar lahan 28 meter dan badan jalan 14 meter menggunakan konstruksi betonisasi atau rigid pavemen.

Jalur tersebut melintasi Plaosan, Sogo, Gedongkulon, Pucakwangi hingga Karangkembang yang berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro.

Yuhronur Efendi menjelaskan, jalur tersebut akan menjadi alternatif utama kendaraan logistik dan antarkabupaten sehingga distribusi barang lebih efisien tanpa melintasi pusat keramaian Babat.

“Arus kendaraan dari arah Surabaya menuju Bojonegoro, Tuban hingga Jombang bisa lebih lancar tanpa masuk ke pusat Babat,” katanya.

Pemkab Lamongan mengalokasikan sekitar Rp100 miliar pada 2026 untuk pembangunan infrastruktur, termasuk percepatan JLS Babat, serta sekitar Rp50 miliar secara kumulatif untuk pembebasan lahan.

Proses pembebasan dilakukan bertahap, sekitar 70 persen ditangani pemerintah pusat dan sisanya oleh pemerintah daerah.

Ia menambahkan, hingga Mei 2026 sebagian ruas jalan telah selesai dicor, sementara segmen lainnya masih dalam tahap pemasangan rangka besi dan penyiapan lahan. Proyek tersebut ditargetkan rampung secara bertahap setelah proses pembebasan lahan terselesaikan.

Selain JLS Babat, program prioritas pemkab Jalan Mantap dan Alus Lamongan (Jamula) pada 2026 juga menyasar 56 ruas jalan strategis sepanjang 40 kilometer di berbagai kecamatan melalui rekonstruksi, pelebaran, pengecoran hingga pengaspalan jalan.▪︎[DANAR SP]

Related Articles

Back to top button