Berita Utama

Meledak Kasus COVID-19, RI Urutan ke-5 Dunia

Penyebaran wabah COVID-19 di Indonesia terus mencetak rekor. Penambahan kasus baru per Kamis (24/6/21) rupanya mengantar posisi RI masuk daftar lima negara penyumbang kasus COVID-19 tertinggi dunia. Indonesia memimpin dengan 20.574 kasus COVID-19.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menilai ledakan kasus COVID-19 terjadi imbas mobilitas tinggi mudik Lebaran.

“Hari ini peningkatan kasus cukup signifikan naiknya, kenakan kasus pasca momen lebaran ini karena adanya peningkatan mobilitas sebelum pengetatan mudik dan protokol kesehatan yang longgar,” katanya dalam konferensi pers.

Sementara, penambahan angka kematian Corona di Indonesia menempati posisi ke-enam tertinggi di dunia, dengan menyumbang 355 kasus. Disusul Argentina sebanyak 452 kasus, sedangkan Brasil dan India menempati posisi teratas masing-masing dengan 1.901 kasus dan 965 kasus.

Berdasarkan data worldometers COVID-19 per Kamis (24/6/21), Brasil menjadi negara paling terdampak COVID-19 dengan mencatat lebih dari 70 ribu kasus. Sebelumnya, Brasil juga mencetak rekor harian dengan 100 ribu kasus yang dilaporkan dalam 24 jam terakhir.

Berikut daftar negara penyumbang kasus COVID-19 tertinggi dunia per Kamis (24/6/21).

1. Brasil:

Kasus baru: 72.705 kasus

Total kasus: 18.243.483 kasus

2. India:

Kasus baru: 51.248 kasus

Total kasus: 30.133.417 kasus

3. Colombia:

Kasus baru: 32.997 kasus

Total kasus: 4.060.013 kasus

4. Argentina:

Kasus baru: 24.463 kasus

Total kasus: 4.350.564

5. Indonesia:

Kasus baru: 20.574 kasus

Total kasus: 2.053.995

6. Rusia:

Kasus baru: 20.182 kasus

Total kasus: 5.338.695

7. Inggris:

Kasus baru: 16.703 kasus

Total kasus: 4.684.572

8. Afrika Selatan:

Kasus baru: 16.078 kasus

Total kasus: 4.684.572

9. Amerika Serikat:

Kasus baru: 12.128 kasus

Total kasus: 34.463.722

10. Iran:

Kasus baru: 11.734 kasus

Total kasus: 3.140.129

Lonjakan Kasus COVUD-19

Lonjakan kasus virus corona
(COVID-19) mulai marak ditemukan di sejumlah kabupaten/kota kecil hingga komunitas mikro seperti RT/RW di Indonesia setidaknya dalam dua pekan terakhir.

Analisis Pemerintah RI maupun masing-masing daerah, mencatat kumpulan penyumbang kasus covid-19 terbanyak berasal dari klaster keluarga.

Salah satunya, awal pekan ini Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur dan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mengalami perburukan kondisi pandemi COVID-19. Kasus COVID-19 harian meningkat, mayoritas tenaga kesehatan yang sudah divaksin juga ikut terpapar, hingga menyebabkan keterisian tempat tidur rumah sakit nyaris penuh.

Temuan itu didapatkan setelah pandemi COVID-19 di Indonesia sempat stagnan berada di zona ‘aman’ sejak pertengahan Februari 2021. Sejak pasien pertama Covid-19 diumumkan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) pada 2 Maret 2020, Indonesia sempat mengalami puncak kasus tertinggi mencapai 14 ribu kasus dalam sehari di akhir Januari 2021.

Kemudian, kasus mulai mengalami pelandaian di bawah 7 ribu kasus-setengah dari puncak-hingga hari ini. Namun, pada laporan data harian 7 Juni kemarin, penambahan kasus nyaris mendekati 7 ribu alias 6.993 kasus dalam sehari. Pemerintah kemudian mengonfirmasi bahwa lonjakan kasus pada sepekan belakangan bisa diklaim sebagai dampak dari Idul Fitri 1442 Hijriah.

Kepri Meningkat 1.000 Persen

Epidemiolog dari Universitas Airlangga, Surabaya, Windhu Purnomo menyoroti kondisi COVID-19 Indonesia terkini sebagai hasil akumulasi dari kasus-kasus positif corona yang ‘tertimbun’ sejak 2020 lalu. Windhu menilai terkuaknya kasus COVIF-19 di klaster mikro menunjukkan COVID-19 RI tak ayalnya menjadi ‘bara dalam sekam’ soal pandemi global yang terjadi di Indonesia.

“Jadi pandemi di Indonesia saat ini sudah seperti bara dalam sekam, bukan seperti arti peribahasanya ya. Namun ‘bara dalam sekam’ yang menunjukkan kasus di dalam terbakar, dan ternyata sudah menyebar dan siap-siap muncul, meledak, kapan saja,” kata Windhu saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Windhu lantas menekankan bahwa kasus-kasus COVID-19 yang belum terkuak akan mulai menyeruak apabila strategi tes, telusur, dan tindak lanjut (3T) pemerintah benar-benar ditingkatkan secara maksimal. Apabila sebaliknya, maka ia yakin pandemi COVID-19 di Indonesia semakin panjang dan tak jelas arah pengendaliannya.

Windhu juga mengkritisi klaim pemerintah yang sempat menyebutkan bahwa kenaikan kasus COVID-19 pasca lebaran tahun ini tidak lebih besar dari tahun kemarin. Ia mengatakan temuan kasus COVID-19 akan selaras dengan hasil pemeriksaan warga.

Bila dihitung dalam sepekan terakhir, jumlah pemeriksaan COVID-19 terhadap warga justru malah menurun. Pada periode 1-7 Juni, jumlah warga yang diperiksa sebesar 382.412 orang. Sementara sepekan sebelumnya jumlah yang diperiksa 431.114 orang. Artinya, ada penurunan jumlah pemeriksaan COVID-19 sebanyak 48.702 orang.

“Kita lihat dulu jumlah pemeriksaannya, wong kita masih sedikit. Sehingga kasus yang dilaporkan itu bisa jadi, kemungkinan besar, di bawah permukaan itu sudah banyak sekali,” kata dia.

Apalagi ditambah dengan varian mutasi virus SARS-CoV-2 yang saat ini juga mulai bermunculan di Indonesia, maka Windhu mewanti-wanti bahwa kasus COVID-19 bisa lebih besar lagi terjadi dibanding tahun lalu. Pasalnya, beberapa varian yang tergolong ‘Variant of Concern (VoC)’ memiliki kemampuan penularan masif hingga kebal dari vaksin COVID-19 yang sudah diberikan.

Zona Merah Bertambah

Menunjukkan kasus di dalam terbakar, dan ternyata sudah menyebar dan siap-siap muncul, meledak, kapan saja Epidemiolog Unair, Windhu Purnomo.

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman terakhir mengungkapkan sejauh ini sudah ada 59 kasus mutasi virus SARS-CoV-2 yang tergolong VoC yang merupakan varian yang diwaspadai WHO. Rinciannya, 23 kasus dari B117, 32 kasus dari B1617, dan 4 kasus dari varian B1351.

“Seperti dokter di Bangkalan ada yang meninggal, padahal sudah divaksin. Ini yang saya khawatirkan ada kemunculan varian di lingkup-lingkup mikro. Ini yang juga harus diperiksa sampel Whole Genome Sequencing-nya,” ujar Windhu.

Tak hanya di Bangkalan, Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus per 4 Juni lalu mencatat sebanyak 358 tenaga kesehatan terpapar COVID-19, meski mereka sudah menerima suntikan dosis vaksin COVID-19 secara lengkap.
**(ram/hen)

Related Articles

Back to top button