“TANGISAN PALESTINA”

SEBUAH tragedi kemanusiaan yang di alami oleh saudara kita di Palestina sangat menusuk semua kaum muslim yang ada di bumi ini.
Tangisan, teriakan dan kehancuran yang kita saksikan di media-media sangat tidak berprikemanusiaan yg dilakukan oleh tentara Israel.
Hanya doa yang dapat kita panjatkan ketika menyaksikan semua yang di siarkan oleh media. Israel tidak henti–hentinya menggempur semua daerah Palestina. ya ALLAH….
Detik demi detik, menit, jam bahkan hari berlalu tanpa kebahagiaan, darah tumpah dimana-mana, korban berjatuhan dan yang disayangkan anak-anak yang tidak berdosa tewas atas kebiadaban Israel.
Anak-anak menjadi yatim piatu, istri menjadi janda, harta hilang lenyap seketika, jantung berdenyut dengan ketakutan. Ya ALLAH tunjukan kekuasaan MU hingga tunduknya Israel ya ALLAH.
Bulan suci Ramadan dan perayaan Idul Fitri 1442 H. di lewati dengan kesuraman oleh saudara-saudara kita di sana. Tentara Israel tidak segan-segan memuntahkan serangannya ke masyarakat sipil.
Apakah mesti anak-anak angkat senjata? Apa ini yang harus di lakukan? Itu mustahil. Amerika yang tidak dipungkiri sekutu Israel tidak bisa mengambil tindakan. Seperti yang ditayangkan dan diberitakan dari rapat keamanan di PBB hanya Amerika yang abstain…!Terkutuk…!!!
Palestina…
Kala sang fajar menyingsing, semestinya sinar itu turut membasuh peluh dan keringat yang bercucuran.
Namun nyatanya tidak, sebab cahayanya terhalang tebalnya asap api.
Asap yang tercipta dari serangan manusia keji.
Asap yang menyelimuti bangsa penuh kasih.
Palestina…
Anak-anak kecil berlarian
Menangis histeris hampiri ayah bunda
Yang berlumur darah terbaring tak bernyawa
Sebab peluru tajam menembus kepala mereka
Palestina…
Meski aku tak pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala
Namun aku mengerti bagaimana perihnya
Aku mengerti betapa sedihnya hari-harimu
Aku mengerti mengapa damai tak ada dipagi dan malammu
Tapi satu hal yang tak kumengerti adalah mengapa mereka terlalu membencimu?
Dan terus menggerogoti tiap jengkal tanah dinegerimu
Palestina…
Ketika memandang awan jingga senja
Menandakan waktu untuk terus terjaga
Ketika terdengar derap langkah tentara
Isyarat untuk tak sekadar berjaga
Jalanan panjang penuh penderitaan setia mengelilingi
Setiap hela nafas dan aliran darah yang mengalir adalah jalan perang
Palestina…
Barangkali waktu harus membasuh darah musuh-musuhmu dengan matahari, membasahi kepala mereka dengan embun pagi, dan menyeka mata mereka dengan purnama
Anganmu palestinaku, adalah mega-mega berarak di ufuk barat saat matahari menyentuh batas
Harapanmu adalah ombak terantuk karang pantai berderai buihnya lesap di pori pasir
Palestina…
Mungkin di jejak para pendahulu ada sisa sujud untuk diteruskan
Perjalanan tak putus pandangan adalah shaf-shaf gaib yang gema suara imamnya terlampau lirih untuk dicatat pada buku perdamaian
Negara itu, palestina, telah mengubur dirinya dalam timbunan jenazah dimana-mana..(**)



