Berdakwah Menggunakan Pendekatan Hati

187 dibaca

 

 

Wali Putih merupakan wali yang cukup disegani masyarakat sekitar Alas Roban. Oleh karena itu, dakwahnya begitu cepat diterima dan makamnya lolos dari penggusuran dari Gubernur Jenderal Daendles. Berikut ini kisahnya.

 Cukup lama Wali Putih menyebarkan agama Islam di wilayah pesisir Jawa Tengah. Di bawah bimbingannya banyak umat Islam hidup sejahtera dan orang-orang yang awalnya menyembah batu dan pohon besar beralih masuk Islam. Dengan demikian, penyebar agama Islam Jawa Tengah di bagian tengah Wali Putih merupakan pelopornya. Sedangkan di Jawa Timur Sunan Ampel dan Jawa Barat adalah Syekh Datul Kahfi.

Ia berdakwa dengan cara-cara yang santun dan tidak melakukan profokasi. Karena yang dihadapi adalah rakyat yang belum tahu sama sekali tentang ajaran Islam. Mereka masih percaya dengan pohon-pohon besar dan batu-batu besar.

Bagi Wali Putih, pendekatan dakwah yang dilakukan dengan menggunakan pedekatan hati. Bukan dengan kekerasan kata-kata. Pendekatan tersebut rupanya dapat diterima masyarakat setempat. Karena langsung menyentuh hati.

Ia berdakwah dari Kendal, Waleri, hingga Bawen. Setiap hari banyak masyarakat yang memeluk agama Islam secara sukarela. Kemudian keyakinan yang lama ditinggalkan. Sejak itulah daerah yang belum terjangkau dakwah Walisongo akhirnya terislamkan. Hingga kini masyarakat sekitar Alas Roban masih menganut ajaran yang diajarkan Wali Putih secara turun-temurun..

Dalam dakwahnya beliau selalu berpesan bahwa bila besok tanah Jawa sudah ada raja yang kudungan gambar jagad, agama Islam akan pecah menjadi berbagai aliran. Juga, makamnya akan dirawat anak cucu dan digunakan untuk membaca kalimat thoyibah. Saat itu juga terjadi perebutan antarpemimpin agama Islam (aliran Islam). Sebab merasa yang paling benar, yang mana mereka semua pada gila jadi pemimpin. Ramalannya tersebut memang terbukti.

Dalam berdakwah Wali Putih tidak mengalami banyak kendala yang cukup berarti. Karena masyarakat menyukai kehadirannya. Sehingga dalam waktu singkat banyak yang memeluk agama Islam. Meskipun hanya sebatas mengucapkan kalimat syahadat.

Wali Putih menyebarkan ajaran Islam hingga usianya 78 tahun dan meninggal dalam usia tersebut. Namun sebelum meninggal dunia berpesan agar dimakamkan di lereng bukit Desa Sentul, Alas Roban, Kendal. Harapannya agar nantinya tidak tergusur oleh pembangunan.

Dalam kurun waktu yang cukup lama, ketika Gubernur Jenderal Daendles membuat jalan Anyer-Panarukan makamnya terselamatkan dari penggusuran.

Makam Tidak Tergusur Daendles

Rupanya Gubernur Jenderal Daendles dari kerajaan Belanda tidak berani mengusik makam Wali Putih. Lebih memilih melewati jalur yang lain. Karena takut terjadi peristiwa yang membahayakan dirinya dan para pekerja.

Tidak tergusurnya oleh proyek jalan Daendles membuat makamnya semakin dikeramatkan masyarakat. Sebab selama proyek pembuatan jalan Anyer-Panarukan gubernur asal Belanda itu telah banyak menggusur makam-makam keramat di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa. Salah satunya makam leluhur Pangeran Diponegoro.

Rupanya Wali Putih mampu membaca tanda-tanda zaman ke depan. Maka, makamnya terselamatkan dari pembuatan jalan raya. Karena lokasi makamnya berada di lereng bukit yang penuh dengan rerimbunan pohon. Kini makamnya banyak diziarahi umat Islam. Pada hari dan bulan tertentu banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah Indonesia.

Masyarakat pesisir Jawa Tengah bagian tengah merasa berterima kasih kepada Wali Putih yang menyebarkan agama Islam. Sebab wilayah tersebut belum tersentuh oleh Walisongo. Karena wilayah dakwahnya hanya sampai di kerajaan Demak Bintoro. HUSNU MUFID