Berita Utama

DALANG VIRTUAL, FENOMENAL, MILENIAL

Oleh: Drs. Koesmoko

* Mengenang Almarhum Ki Seno Nugroho di Hari Wayang Nasional

Tampaknya hari Sabtu Pahing, tanggal 7 November 2020 merupakan waktu yang tepat untuk mengenang almarhum Ki Seno Nugroho. Mengapa? Sebab, pada tanggal tersebut merupakan Hari Wayang Nasional berdasarkan Keppres Nomor 30 Tahun 2018.

Sebelumnya, pada tanggal yang sama tahun 2003, wayang telah ditetapkan oleh UNESCO (United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization) sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (masterpiece of oral and intangible heritage of humanity).

Selain itu, antara dalang dan wayang merupakan dua hal tidak dapat dipisahkan sama sekali. Dwi tunggal (two in one) sebagaimana dua sisi mata uang yang saling menempel, bahkan melekat. Demikian pula dengan jiwa/batin dan raga/jasad almarhum Ki Seno Nugroho yang telah ‘sumare’ (dimakamkan) di pesarean/pusara, dan kini tinggal kenangan (memori) indah.

Meski sudah meninggal, namun spirit (semangat) dan greget (giat) Ki Seno Nugroho tetap ‘hidup’ di tengah-tengah warga masyarakat penggemarnya. Semasa hidupnya, Ki Seno Nugroho sudah ‘istiqomah’ (konsisten) dengan wayang dan pedhalangan sebagai hembusan nafas, gerak hidup dan kehidupannya di dunia. Bahkan sudah merasuk sebagai tatanan, tontonan, tuntunan, dan tuntutan dalam ‘bebrayan agung’ (kemasyarakatan).

Pada peringatan Hari Wayang Nasional, hari Sabtu (7/11/2020) malam terasa betul bagi para penggemar dan pecinta wayang untuk mengenang sosok Ki Seno Nugroho yang selalu bersahaja/sederhana, polos/adanya, ‘andap asor’/rendah hati. Meski sudah kondang/popular dan go-international untuk pentas dan mengajar/melatih tentang wayang dan pedhalangan. Tidak pernah sekalipun ‘gumede’/takabur/sombong. Profesinya sebagai seniman sudah disumbangsihkan untuk kemaslahatan masyarakat, bangsa, dan negara.

Banyak penggemar Ki Seno Nugroho yang berharap, almarhum bisa pentas wayang secara luring atau daring pada peringatan Hari Wayang Nasional 2020 tersebut. Padahal di Bantul, Yogyakarta, pada Sabtu (7/11/2020) malam mementaskan 12 dalang di Balai Desa Patalan, Bantul, mengangkat tema kepahlawanan dan nasionalisme. Mengambil lakon “Ampak-Ampak Mandura”.

Selain itu, pada malam yang sama di GOR Raden Mas Said Karanganyar, digelar pentas wayang dengan menampilkan sebanyak 17 orang dalang serta 103 orang pesinden dan pangrawit. Juga, pada malam yang sama digelar wayang virtual secara streaming melalui channel you.tube. Menampilkan 7 orang dalang, mengambil lakon “Banjaran Bima”.

Bagi komunitas publik penggemar wayang kulit purwa, siapa yang tidak kenal dengan Ki Seno Nugroho. Dalang virtual yang fenomenal di era milenial dan digital. Dalang kondang asal Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini telah kembali ke rahmatullah pada hari Selasa, 3 November 2020. Sesuai wasiat semasa hidupnya, kepergiannya menghadap Sang Khaliq diantarkan dengan gending Jawa “Ladrang Gajah Seno”.

Sungguh Ki Seno Nugroho seniman wayang kulit purwa yang benar-benar tulen. Ia lahir, hidup, dan meninggalnya lekat wayang kulit purwa. Bagaimana tidak, ia lahir dari keluarga dalang. Ayahnya adalah Ki Suparman, seorang dalang wayang kulit purwa. Tidak mengherankan jika kemudian Seno Nugroho muda tumbuh dan berkembang, serta dibesarkan dalam aura dan atmosfir wayang kulit purwa.

Meski mendapat banyak pengetahuan, pemahaman, dan ketrampilan mendalang dari ayahnya. Ditambah ilmu dari SMKI (Sekolah Menengah Kesenian Indonesia) Yogyakarta (sekarang SMKN 1 Kasihan). Namun Ki Seni Nugroho mengaku, dia bisa menjadi dalang yang popular karena ‘ngangsu kawruh’ (belajar) kepada Ki Mantep Sudarsono, yang sudah dianggapnya sebagaimana ayahnya sendiri. Memang, gayung bersambut. Sebab, sebelumnya Ki Mantep Sudarsono mengatakan jika mendapat pesan khusus dari Ki Suparman, untuk ikut mendidik Ki Seno Nugroho.

Jauh sebelum masa pandemi Covid-19, nama Ki Seno Nugroho sudah melejit di antara daftar nama-nama dalang favorit masyarakat ‘sutresna’ (pandemen) wayang kulit purwa. Di antaranya melalui streaming channel you.tube. Ki Seno Nugroho bukan hanya dalang luring (luar jaringan), yang tatap muka langsung dengan penggemarnya. Tapi juga dalang daring (dalam jaringan), yang juga melaksanakan pentas secara virtual/online. Lengkaplah sudah, Ki Seno Nugroho sebagai “Dalang Kombinasi Luring dan Daring”.

Gayanya yang ‘sersan’ (serius tapi santai) dan suka guyon (humoris), membuat tampilannya kian memikat generasi muda, khususnya generasi milenial yang maniak gadget (khususnya android). Saat pentas luring pun, Ki Seno Nugroho nyaris selalu ‘diburu’ oleh anak-anak muda untuk menonton penampilannya ‘sedalu natas’ (semalam suntuk). Demikian pula saat pentas daring/online, nyaris selalu membludak followers-nya. Otomatis juga kebanjiran ‘like’ dan ‘subscribe’ dari para penggemarnya. Bahkan juga kebanjiran komentar/tanggapan.

Di era wabah Virus Corona, ketika para seniman termasuk para dalang wayang kulit purwa vakum, bahkan kosong pemasukan, Ki Seno Nugroho muncul secara fenomenal. Allah SWT memberikan berkah solusi: pentas wayang ‘climen’ (tanpa penonton) yang disiarkan secara ‘live’ (langsung) melalui streaming channel you.tube. Ki Seno Nugroho bukan hanya mampu untuk ‘survive’ (bertahan), tapi juga secara spektakuler mampu untuk eksis. Ki Seno Nugroho menjadi salah satu dalang yang ter-eksis pentas virtualnya.

Kecintaannya kepada wayang kulit purwa sudah mendarah-mendaging, ‘mbalung-sumsum’, merasuk dalam jiwa dan raga hingga akhir hayatnya. Kepiawaiannya membuat harmonisasi pergelaran wayang bersama para wiyaga/pangrawit (penabuh gamelan) dan para sinden, sungguh luar biasa. Menyatu dalam cipta, rasa, dan karsa, serta karya. Manunggal dalam wirupa, wiraga, wirama, dan wirasa.

Ki Seno Nugroho juga telah berinovasi, berkreasi, dan berimprovisasi. Di antaranya memadukan gaya pedhalangan Surakarta dan Yogyakarta. Bukan hanya mengombinasikan, tapi sudah mampu menggabungkan (konvergensi) ‘gagrag’ pedhalangan Mataraman tersebut. Juga, menyelaraskan antara carita (cerita), antawacana (artikulasi), sabetan (teknik memainkan wayang), dan sulukan (lagu, laras, wirama, dan gendhing) menjadi harmonisasi sajian yang penuh rasa, suasana, dan lebih hidup (terasa punya ruh).

Dengan dukungan ‘sanggit’ (daya kreativitas/hasil olah pikir) yang proporsional dan profesional.
Demikian pula, kompetensinya untuk komunikasi publik, juga luar biasa. Tidak sekadar menyampaikan sapaan. Namun sudah bisa membangun interaksi-komunikasi yang penuh retorika secara massal.

Ki Seno Nugroho sudah mampu ikut mendidik masyarakat melalui profesinya sebagai ‘dhalang’ (ngudhal piwulang : memberi pelajaran). Dengan menanamkan watak/karakter budi pekerti luhur/akhlakul karimah/akhlak mulia sebagaimana pesan moral/amanat dalam pentas wayang yang sarat, bahkan penuh dengan nilai-nilai luhur yang adiluhung.

‘Sugeng tindhak’ (selamat jalan) Ki Seno Nugroho. ‘Murub ing kasedhan jati’ (memasuki alam setelah kematian). Semoga husnul khotimah. Aaamiin.

• Penulis adalah pecinta wayang dan Kaur Humas SMP PGRI 1 Buduran, Sidoarjo.

Related Articles

Back to top button