Berita Utama

Trah Giri Bakal jadi Bupati

Pulung Pilkada Lamongan
di Ponpes Sunan Drajat Giri Noto (1)

Pilkada (Pilbup) Lamongan besar kemungkinan akan diikuti tiga kontestan yakni paslon Yuhrohnur Efendi-Kiai Abdul Rouf, Kartika Hidayati-Saim dan Suhandoyo-Suudin. Trio cabup yang terdiri dari Kartika Hidayati (Wabup), Yuhrohnur Efendi (Sekkab) dan Suhandoyo (mantan politisi PDIP) mewakili kalangan birokrat yang juga disebut putra-putri terbaik kota soto ini.

Bagaimana kans mereka untuk memenangi gelaran pesta demokrasi ini? posmonews.com mencoba melihat pandulum versi Gus Lukman Rahmatullah, pemangku Ponpes Sunan Drajat Giri Noto.

Keterkaitan Lamongan dengan sejarah Sunan Giri (Gresik), memuat wartawan posmonews.com menggali benang merah tokoh-tokoh pemerintahan yang memangku daerah ini sejak era Ronggo Hadi (Tumenggung Surajaya) hingga sekarang di pemerintahan Bupati H. Fadeli, S.H, MM. Rangga Hadi adalah pemegang tampuk kepemimpinan pada tahun 1556-1569.

Tumenggung Surajaya diangkat sebagai Adipati Lamongan pertama dengan masa kepemimpinan tahun1569-1607 dan tanggal 26 Mei 1569 ditetapkan sebagai Hari Jadi Lamongan. Tumenggung Surajaya disebut juga mbah Lamong, dari sinilah asal nama kota Lamongan.

Jika di zaman Tumenggung Surajaya diangkat oleh Sunan Giri, namun di era sekarang jabatan bupati itu harus ditempuh melalui demokrasi yakni pilihan rakyat secara langsung.

Menariknya bahwa dalam pesta demokrasi ini tokoh-tokoh yang mencalonkan dirinya sebagai bupati atau wakil bupati ini terlibat dalam kompetisi (perang, red) baik itu secara fisik maupun metafisik (spiritual, religi, dll).

Seorang calon pemimpin harus siap berkompetisi dengan bekal fisiknya. Artinya ketokohan, keilmuannya dan prestasinya. Sedangan dalam pandangan metafisik (maaf, jangan berasumsi pada hal-hal yang berbau mistik, red), seorang pemimpin juga harus memiliki kharisma, bekal ilmu kepemimpinan, filosofi sosial, ngelmu spiritual, juga religiusitasnya tidak diragukan.

Dua syarat yang mungkin sudah dimiliki oleh ketiga Cabup Lamongan, namun masih ada satu hal lagi yakni kedunungan wahyu (kewahyon), dilingkupi pulung (keberuntungan), dalam bahasa religi sudah tinakdirkan. Kisah-kisah di era sejarah raja-raja, adipati hingga presiden, gubernur, bupati, bahkan kepala desa pun dalam merengkuh jabatannya itu selalu dihubungkan dengan wahyu dan pulung.

Menyoal mitos wahyu atau pulung ini, Gus Luqman, pengasuh Padepokan Sunan Derajat Giri Noto di Desa Dradah Blumbang Kec. Kedungpring Kab. Lamongan Jatim, mengatakan bahwa orang-orang pinilih sebagaimana halnya Satrio Piningit itu pasti kadunungan wahyu. Sama halnya dengan sejarah pendirian pondok pesantrennya ini, Gus Luqman juga melalui laku fisik maupun batin sehingga ia bisa mewujudkan cita-citanya itu di tahun 1999.

Gus Luqman yang ditilik dari nasabnya, adalah keturunan Sunan Giri ke 16, dari Brawijaya V, turun 14 urut lanang ini dalam pendadarannya harus nyantri di beberapa kiai ternama di tanah air, sehingga ketika ia mentas dari Kawah Candradimuka ini lalu mendirikan Ponpes Sunan Drajat Giri Noto.

Selain keterkaitannya dengan Mbah Sunan Giri, Gus Luqman juga mendapat dhawuh gaib dari Mbah Sunan Drajat untuk mendirikan rumah ibadah dengan memakai nama beliau, Sunan Drajat. Sedangkan Giri, artiya gunung, juga mengkaitkan dengan trahnya. Nata, artinya raja (pemimpin).

“Napak tilas ponpes saya ini, pertama, memang terkait dengan trah kami dari Giri. Kedua, saya juga mendapat dhawuh gaib dari Mbak Kanjeng Sunan Drajat. Beliau berkata, aku gawekno omah, mergo omahku wis panas. Lalu saya biat pondok ini, karena dulu banyak orang datang di tempat ini meyakini sebagai makam Mbah Drajat. Dan para peziarah itu mengaku memang sering ditemui oleh beliau baik secara langsung maupun isyarat mimpi,” tuturnya.

Jadilah di tahun 1999 Pondok Pesantren Sunan Drajat Giri Noto didirikan.Selain dua tokoh wali songo itu yang memberi dhawuh gaib, Gus Luqman juga dapat isyaroh dari Mbah Joko Yudho. Tokoh ini adalah yang mbabat alas di wilayah Dradah Blumbang ini yang diyakini sebagai prajurit Kasultanan Demak yang berpangkat Senopati.

Keterkaitan Giri yang menjadi pepundhennya itu, maka ketika ditanya posmonews.com perihal siapa tokoh Cabup Lamongan yang berpeluang. Gus Luqman menjawab, sebagai sisik melik. “Yang jadi nanti, ia yang masih Trah Giri,” tegasnya.
(bersambung). DANAR SP

Related Articles

Back to top button