Berita Utama

Spiritulitas Suro Nyirep Pandemi Covid 19

Nusantara masih dilingkupi pagebluk Covid 19 atau yang lebih akrab disebut corona. Suasana sedih, prihatin dan duka masih menggelanyut di langit negeri. Karenaitulah di moment Suro 2020 ini para pinisepuh, tokoh adat- kejawen dan pelaku spiritual di samping ngalab berkah Suro juga melakukan ritual khusus agar bisa nyirep pagebluk corona itu dari bumi Indonesia.

Bulan Suro hari ini, jatuh pada Kamis Pon, tanggal 20 Agustus 2020 M, yang bertepatan dengan 1 Muharram 2020, atau tahun baru Islam 1442 H. Dalam sejarah Suro, bagi kalangan kejawen (Jawa ortodok) dipahami sebagai sandyakalaning akar budaya Jawa (masa kekalahan orang Jawa). Acuhannya adalah ketika Raja Mataram, Sultan Agung Hanyakrakusuma pada tahun 1633 (1555 Caka) meleburkan 1 Suro menjadi 1 Muharram. Karena peristiwa inilah mereka menyebut sebagai simbol kekalahan wong Jowo.

Lalu, dikaitkannya dengan Serat Sabdopalon. Terutama di warga penghayat kejawen Budha Jawi Wisnu yang mengaku sebagai agama Jawa, di salah satu kitabnya yang bernama Cantrik Mataram menyebut datangnya agama Budhi.

Saat itulah Sabdopalon – Nayagenggong yang merupakan abdi Brawijaya V yang moksa di puncak Lawu akan datang menagih janji yakni berupa datangnya pagebluk. Nah apakah Covid 19 ini adalah manifestasi dari nubuat keramat itu?

Terlepas dari mitos leluhur Majapahit itu, datangnya bulan Suro bagi masyarakat Jawa tetap dianggap bulan yang sakral. Suro diidentikan dengan ritual-ritual keramat seperti laku tirakat di tempat mistis, laku (pasa/puasa) kungkum, jamasan pusaka, gemblengan karoragan dan ilmu jaya kawijayan lepas sangkan paraning dumadi (kesaktian, red), ruwatan murwakala, larung sesaji, atur sesaji, dll. Ritual ini diarahkan untuk keselamatan diri, keluarga, dan negeri.

Selain di keraton Yogyakarta, Surakarta yang sama-sama memiliki tradisi kirab, mubeng benteng. Namun di Surakarta yang paling menarik adalah kirab Kerbau Bule Kiai Slamet. Beberapa tempat yang diyakini memiliki daya metafisis juga menjadi tempat untuk laku, seperti Gunung Lawu, pemandian (sumur) Jolotundo di lereng Gunung Penanggungan (Jawa Timur), Pemandian Pengging, Pantai Parang Kusumo (Yogyakarta), Tugu Sa Telu di Kali Garang (Semarang), dll.

Hakikat Suro bagi kalangan spiritual dipahami sebagai waktu yang tepat untuk menggembleng ilmu hikmah, kewalian, kasepuhan dan kadigdayaan, dll. Tidak heran jika pada bulan Suro ini banyak spiritualis mengadakan gemblengan ilmu, penurunan ilmu, pengijazahan, baiat ilmu.

Seperti pengalaman tabloid posmo yang kini bermetaforfosa menjadi posmonews.com, di setiap Bulan Suro pasti mengundang para pembacanya untuk menggelar Gemblengan Ilmu Hikmah yang menghadirkan guru-guru spiritualis ternama di tanah air.

Salah satu guru gemblengan itu adalah KH. Muh. Muzakin (Gus Zakky Al Sekanory), pengampu Ponpes Dzikrussyoifa’ Asma Brojomusti, Sendangagung, Paciran, Lamongan sehingga posmonews.com mencoba untuk meminta kajian hikmah di Bulan Suro tahun ini.

Menururnya, bulan Suro tahun ini sangat baik sebagai moment untuk intropeksi diri dengan cara eling lan waspada. Hikmahnya, manusia tidak boleh sombong, jubriya, ojo dumeh, karena manusia terbukti lemah ketika Allah memberi teguran berupa mahkluk gaib ( tak kasat mata, red) berupa virus corona atau Covid 19. Dalam khasanah spiritual, penyakit ini disebut pagebluk sehingga manusia harus mencari usada baik secara fisik maupun batin.

“Nah, di bulan Suro inilah sebagai waktu yang tepat untuk melakukan ritual usada Nusantara. Saya sudah jauh hari memberi usaha batin (religi) berupa amalan sebagai tolak balak. Yakni berupa amalan khusus yang harus dibaca setiap selesai salat 5 waktu. Lalu ditambah dengan membaca ayat kursi 7x, Insya Allah pandemi Covid 19 itu akan jablas dari negeri kita,” tutur kiai yang juga Ketua Umum JCW (Jatim Corruption Watch) Provinsi Jawa Timur ini.

Amalan yang dimaksud menurut Gus Zakky sudah banyak di share ke berbagai kiai, santri, sahabatnya dan beberapa media termasuk posmo. Namun jika masih kurang jelas dan mendetail Gus Zakky pun bersedia melayani jika memang pembaca posmo ingin bersilaturahmi di pondoknya.

Gus Zakky, selain disebut Kiai Jin dikenal juga sebagai penghusada. Di pondoknya, ia biasa menangani pasien ketergantungan narkoba, orang gila, stress, dan penyakit nonmedis lainnya.

“Mumpung juga bulan Suro. Monggo jika bersilaturahmi. Sama-sama belajar ilu juga mencari solusi bagaimana pagebluk Covid 19 ini segera oncat dari bumi Nusantara,” tukasnya. (DANAR)

Related Articles

Back to top button