Karomah Tinggi, Kakak Ipar Sunan Ampel

191 dibaca

Di Dukuh Kupang, Surabaya, Jatim,  terdapat satu makam yang dikeramatkan oleh warga sekitar. Banyak cerita yang berkembang dari mulut ke mulut. Dipercaya jasad yang bersemayam di makam tersebut merupakan sosok yang selalu melindungi warga Dukuh Kupang dari malapetaka. Benarkah?

Tidak mudah untuk menemukan makam yang umurnya sudah ratusan tahun ini, karena harus melewati gang padat penduduk dan berliku-liku. Jika ada peziarah yang ingin datang ke makam ini sebaiknya bertanya pada penduduk setempat. Apalagi peziarah yang berasal dari luar kota dan belum mengetahui seluk-beluk Surabaya.

Karena nama Makam Mbah Keramat Dewo sudah tidak asing bagi warga Dukuh Kupang. Setelah menelusuri gang-gang kecil, nampaklah sebuah pohon beringin besar. Di bawah pohon yang besar dan rimbun tersebut terdapat sebuah bangunan dengan ukuran sekitar 4×6 meter. Di tembok terdapat tulisan “Mbah Keramat Dewo”.

Saat masuk ke dalam, aroma bunga semerbak memenuhi ruangan tersebut. Setelah itu nampak sebuah makam dengan panjang kurang dari 2 meter dan keramik berwarna hijau serta kain putih yang menutupi makam, mungkin agak berbeda dengan makam keramat yang lain. Biasanya makam memiliki 2 penanda (Maesan) namun dimakam ini cuma memiliki satu maesan di satu sisinya dan sisi yang lain langsung menempel dengan tembok.

Moch. Anshori, juru kunci makam menjelaskan bahwa karomah orang yang berada di makam masih bisa dirasakan sampai sekarang. Diterangkan pula bahwa dulu kala pernah ada seseorang yang ingin membersihkan serta merawat makam tersebut, namun saat orang itu ingin memberi maesan pada sisi yang lain, orang tersebut tiba-tiba sakit. Sakit orang tersebut tidak kunjung sembuh dan semakin bertambah parah. Dalam waktu 40 hari akhirnya orang tersebut meninggal.

Selain itu juga pernah ada 2 orang yang meninggal karena memotong pohon yang ada di areal makam. Saat itu makam sekitar tahun 1990 dan belum terlihat seperti sekarang, dulu belum ada bagunan seperti pondok dan masih berupa makam yang tidak terawat. Namun anehnya, meskipun tidak terawat, lingkungan sekitar makam sekitar 5 meter selalu nampak bersih padahal kalau dipikir secara logika hal tersebut sangat tidak mungkin karena makam berada di bawah pohon.

Penyelamat Para Pejuang

Moch. Anshori menambahkan, bahwa jasad yang ada di dalam makam tersebut benar-benar diakui kesakralannya. Diyakini juga Mbah Dewo merupakan kakak ipar Sunan Ampel dan masih memiliki hubungan dengan Mbah Karimah yang berada di dekat makam Kompleks Kembang Kuning. Diceritakan oleh juru kunci makam, dahulu pada saat jaman peperangan berlangsung di Surabaya, banyak sekali para pejuang yang berlari dan berlindung di daerah makam ini. Entah mungkin itu merupakan satu strategi para pejuang bersembunyi di daerah perbukitan sehingga bisa melihat musuh dari jarak jauh.

Lama-kelamaan musuh pun tahu posisi persembunyian para pejuang, berondongan peluru melesat ke segala penjuru. Para pejuang pun berusaha untuk membalas dengan peralatan tempur seadanya. Namun anehnya tidak satupun para pejuang yang tertembus peluru, menyentuh kulitpun tidak. Setelah perang selesai mereka yang selamat kembali ke makam yang ada di tempat persembunyian untuk mendoakan dan berterima kasih kepada Allah karena telah memberi bantuan dan keselamatan. Akhirnya makam tersebut diberi nama Makam Mbah Keramat Dewo yang  berarti makam dewa tua yang dikeramatkan atau makam tua seorang dewa yang dipercaya memiliki ilmu linuwih.

Menyukai Wayang

Selain memiliki ilmu linuwih, Mbah Keramat Dewo juga merupakan salah satu orang yang hidup dijaman wali. Beliau sangat menyukai pertunjukan wayang, hal tersebut dapat dilihat setiap kali acara Haul Mbah Keramat Dewo pada tanggal 29 Agustus.“Mbah Keramat Dewo itu juga mensyarkan ajaran Islam di Tanah Jawa dengan menggunakan media Wayang” tutur H. Moch. Anshori. Namun sayang tidak ada satupun yang mengetahui nama asli Mbah Keramat Dewo. “Untuk nama asli saya tidak tahu, cuman saya pernah mimpi didatangi Mbah Dewo, perawakannya tinggi, memakai jubah putih dan bersorban,” Imbuhnya.

Haul Mbah Keramat Dewo sesungguhnya tanggal 22 Agustus dan saat itu dihadiri oleh Kyai Umaidi Maksum dan Ustadz Buchori sebagai penceramah. Dan ini merupakan Haul ke 24 dengan pagelaran wayang kulit bertema “Wahyu Purbaning Sejati” dan didalangi oleh Ki Bambang Sugiyo Ssn dari Sidoarjo dan Ki Anom Surono Ssn dari Rembang.Cahya/Haris