Istana Tamalate Dijaga Kelabang Merah

196 dibaca

Istana Tamalate Kerajaan Gowa, ini terakhir kali dijadikan sebagai rumah jabatan dan dihuni raja terakhir Gowa Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lololang Sultan Muhammad Kadir Aidir yang saat itu sekaligus menjabat Kepala Daerah Tingkat II Gowa. Tepat pada tanggal 12 September 1973 mengubah fungsi istana menjadi Museum Balla Lompoa yang berarti rumah besar atau rumah kebesaran.

MUSEUM ini menyimpan serta memajang koleksi benda-benda dan foto-foto dimulai dari Raja pertama I Mangngi Mangngi Daeng Mattutu, di ruang utamanya terpampang peta besar Indonesia, dituangkan ini pula pengunjung bisa melihat silsilah utuh dari raja-raja pertama sampai raja terakhir.  Terpajang pula foto-foto raja dan permaisuri termasuk raja atau Sultan Hasanuddin yang kesohor, pajangan alat-alat perang berupa tombak, badik dan si bajigur merah meriam kuno, payung Lalong Sipue (payung yang digunakan hanya saat pelantikan raja), pakaian, bendera kebesaran termasuk beberapa lembar lontar kuno.
Di tempat ini pula tersimpan koleksi dari Kerajaan Gowa seperti Mahkota Kerajaan, gelang cincin, kalung, keris dan badik yang bersanding dengan ukiran batu berlian, intan maupun permata. Juga seperangkat piring kue berjahar rapi dengan penutup warna merah sebagai ubah rampe  kelengkapan pesta yang diadakan oleh pihak kerajaan.
Di sini juga ada standarisasi tempat penyewaan baju adat Gowa, bisa dipakai untuk merasakan dan menikmati suasana seperti orang’ keluarga kerajaan. Seperti saat posmonews.com nimbrung foto bersama dengan keluarga Jogjakarta yang punya Bandara, mejeng asik. Di sini juga disediakan souvernir seperti sarung sutra, t-shirts sebagai barang kenangan dari Gowa.
Dalam tulisan beberapa waktu lalu posmonews.com terfokus pada aura yang mengelilingi kereta kuda angin yang luar biasa energi keunguannya. Di sekitaran rumah induk kerajaan Gowa. Sorot mata tertuju pada pojok belakang tepatnya di sisi kanan belakang. Saat itu si anak Edy yakni  Nadia Jago Timur selalu menunjuk arah itu, sambil tangan kirinya menutup matanya.

Gerombolan Kelabang Merah
Atas ulah Nadia, sang ayah lalu menggendong untuk diajak menepi.  Akhirnya posmonews.com ditemani Daeng Ireng dan salah satu polisi yang menjaga menuju ke arah sana. Ada bau amis, bau pesing dari bangun kecil tak berlampu ini. Ada sesuatu spesial di tempat ini, ada energi yang menarik untuk segera diurai.
Akhirnya seijin Daeng, rapalan doa-doa pendeteksian. Subhanallah… sekumpulan kelabang spesial berwarna merah menyala, ada keganjilan. Kelabang itu tidak merayap, tetapi berdiri setengah tegak bergoyang-goyang, ingatan pada gerakan Jacky Chan saat memerankan dan memperagakan jurus dewa mabuk dengan irama suling dan dentuman beduk besar.
Beberapa saat kemudian penunggu Istana Tamalate ini, siapa sebenarnya kelabang-kelabang itu? Setelah menghirup udara sejenak, akhirnya si Daeng membuka rahasia tadi. Menurutnya kelabang itu sebenarnya pengawal dan penjaga Istana Tamalate, yang sebenarnya penjelmaan pangeran. Karena setia dan suka di tempat kelembaban menjelma menjadi kelabang. Tugasnya adalah sebagai penjaga istana dari tangan-tangan jahil, apabila ada maling yang mencuri pasti akan berhadapan dan berkelahi dengan ribuan bala kelabang ini. Sampai sekarang kesaktian Pangeran Kelabang Merah ini menjadi fenomenal, sehingga maling tak ada yang berani mengusik atau mencuri di lingkungan Istana Tamalate ini.
Keterkenalan museum Balla Lompoa ini menambah daya tarik Makasar sebagai Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, ini semakin intens dan semakin profesional dalam pengelolaan satu atap dan terpadu, serta menyediakan kepentingan hajat publik terpenuhi dan mudah digunakan. Tidak seperti kemarin toilet tak ada air tapi taripnya 2000-an sudah diminta, belum lagi satu bangunan Museum Balla Lompoa ditarik dengan tarip berbeda dan orang berbeda, jadinya kami membayar 3 kali ditempat yang sama ditambah biaya toilet yang dijaga anak di bawah umur. ARIFIN KATIQ