Tafakur, Konsepsi Islam Jalan Menuju Tuhan (9)

397 dibaca
Wewarah bab Ketuhanan ini mengulas perihal jalan. Yaitu jalan menuju Tuhan. Menuju Robbul Izzati. Jalan yang bisa dilalui menuju Tuhan ada dua arah. Jalannya orang awam dan satunya jalannya orang-orang yang terpilih. Tinggal kita mau memilih jalan yang mana?

Orang yang terpilih diibaratkan serpihan jarum, sedangkan Tuhan adalah magnet raksasa yang siap menarik jarum yang dilepas. Jadi, orang-orang pilihan itu bukan karena usaha/ikhtiar yang bersangkutan, tetapi Allah-lah yang menghendaki. Serpihan jarum tidak mungkin berjalan menuju magnet dengan sendirinya, tetapi magnet itulah yang menarik jarum menuju kepada-Nya. Orang yang dipilih, yang dikehendaki Allah, sejak di dalam kandungan sudah diberi keistimewaan.

Bagaimana keistimewaannya itu?
Tokoh sufi mashur Abu Jazid al-Bisthami, misalnya. Ayahnya adalah seorang pemuka negeri. Sejak dikandungan ibunya, ia selalu meronta-ronta. Menendang perut ibunya begitu sang ibu menelan makanan yang subhat, apalagi makanan yang haram. Ibunya bercerita, Yazid berlaku demikian terus sebelum sang ibu memuntahkan semua makanan yang ditelannya.

Imam Syafi’i, dalam riwayat disebutkan, beliau berada dalam kandungan ibunya selama 4 tahun. Begitu umurnya 7 tahun, sudah hafal Alqur’an. Ia menjadi ahli hujjah yang disegani. Bahkan menjadi salah seorang imam ahli Fiqih yang mazhabnya juga dianut di Indonesia. Dan masih banyak lagi keistimewaan-keistimewaan hamba-hamba Allah SWT lainnya.

Sementara jalan yang dilalui orang awam, adalah jalan syari’at. Mengerjakan shalat, berpuasa, berhaji, berzakat, juga bekerja, berkeluarga, dan bermasyarakat. Beramal saleh menjauhi yang haram dan mencegah kemunkaran. Serta yang lain-lainnya. Sedangkan jalan yang khusus, jalannya orang yang terpilih, yang melewati adalah orang-orang yang menjauhi dunia. Orang yang meninggalkan keramaian dunia adalah para zahid, para sufi yang melakukan Uzlah, menyepi ditengah keramaian atau ditengah kesepian dengan jalan memperbanyak shalat, puasa, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an untuk merenangi dan menyelami kedalaman samudera Makrifatullah yang menyimpan mutiara Nur Allah.

Shalat

Bagaimana ibadahnya para zahid, para sufi itu?
Mengenai shalat, mereka selain mengerjakan shalat fardhu yang lima waktu, juga memperbanyak shalat-shalat sunah lainnya. Tak meninggalkan shalat malam. Selain shalat sunah rawatib, juga shalat sunah nafil, yaitu shalat sunah tambahan yang mengiringi shalat lima waktu, yang tidak termasuk dalam shalat sunah rawatib. Kemudian mengerjakan shalat isra’, dhuha, shalat hajat, shalat tahajud yang raka’atnya tidak terhitung tergantung dari masing-masing. Dan pada bulan Ramadhan selain shalat sunah yang macamnya seperti tersebut di atas, ada shalat sunah khusus yaitu shalat Tarawih. Jumlah rakaatnya paling sedikit 8 rakaat, paling banyak tergantung kemauan, bisa 100 s/d 1000 rakaat setiap malam jika mampu.

Puasa

Ibadah bagi zahid, kaum sufi, masih ada sederetan macam puasa harian hingga tahunan. Puasa Ramadhan sebulan penuh, puasa sunah 6 hari awal bulan Syawal setelah Idul Fitri.  Kecuali yang diharamkan, seperti  puasa 3 hari sebelum bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Puasa tahunan, yaitu hari-hari Arafah (selama bulan Dzulhijjah), hari Asyurah, yaitu 10 pertama bulan Dzulhijjah, 10 hari pertama bulan Muharam, dan sebanyak mungkin berpuasa di bulan Sya’ban.

Puasa bulanan, yaitu berpuasa pada hari pertama, pertengahan bulan, dan akhir bulan setiap bulannya. Selain itu, ada juga yang disebut puasa ayyam bayad, yaitu pada hari ke 13 , 14, 15 dari setiap siklus bulan.

Puasa mingguan, yang paling baik adalah puasa pada hari Kamis, Jumat dan Senin. Puasa harian, Rasulullah SAW melarang puasa harian. Cara yang paling baik adalah puasa sehari dan makan sehari. Rasulullah SAW bersabda, “Kekayaan dunia dipersembahkan kepadaku. Aku menolaknya dan berkata kalau aku akan tetap menahan lapar (berpuasa) selama satu hari dan makan (berbuka) pada hari berikutnya. Sewaktu aku berbuka aku berdoa kepada Allah dan sewaktu berpuasa aku mencari keridhaan Allah.” Kemudian beliau meneruskan sabdanya, “Tidak ada puasa yang lebih baik dari puasa tersebut.”

Namun, untuk meningkatkan ketaqwaannya, para zahid senantiasa berpuasa setiap harinya. Tidak berpuasa hanya pada hari-hari yang diharamkan. Puasa harian boleh-boleh saja asalkan tidak menyiksa diri dan mampu.

Shalat dan berpuasa, menimbulkan kenikmatan tersendiri bagi orang-orang khusus. Karenanya kelezatan beribadah itu dirangkai dengan dzikir. Keterlenaan di alam dzikir, membuat, menimbulkan kelezatan rasa nurani. Bagi tingkatan makrifatnya yang sudah tinggi, hatinya bisa mengeluarkan cahaya. Dan cahaya itu keluar melalui bibir, yang menerangi ruangan. Sementara dirinya tidak menyadari lantaran mata terpejam. (bersambung). Bung Yon N.