Tafakur, Konsepsi Islam Jalan Menuju Tuhan (7)

166 dibaca

Wedaran ilmu batin ini memasuki maqam makrifat. Tingkatan tertinggi setelah maqam mahabbah. Di pelabuhan ini kita terus melakukan penyucian jiwa. Membersihkan kerak-kerak yang menempel untuk mengkilapkan ruh.

Penyucian jiwa di setiap terminal jalan menuju Tuhan, harus dilakukan secara istiqomah. Ajeg atau rutin. Waktunya juga cukup lama. Tidak hitungan bulan, tetapi tahun-tahunan. Jika sudah agak bersih dalam penyucian itu, maka pada diri seseorang akan mengalami perubahan. Bahasa awamnya memiliki keganjilan (sesuatu yang di luar kapasitas manusia). Keganjilan itu bermacam-macam. Dan setiap orang tidak akan sama.
Setelah mencuci jiwa di pelabuhan Mahabah, maka untuk meningkatkan ketakwaan harus merenangi samudra menuju pelabuhan Makrifat. Secara harfiah, makrifat artinya penyaksian. Yang disaksikan adalah kilauan keagungan cahaya Tuhan (Af’al Allah). Jadi yang disaksikan adalah kilauan/gemerlap cahaya Allah. Dan yang mampu menyaksikan bukanlah mata kepala tetapi mata hati. Sebab, bab Ketuhanan adalah soal gaib, karenanya lautan yang direnangi adalah lautan ruhani.
Berenang di lautan makrifat untuk dapat menyaksikan kilauan cahaya Ilahi, waktunya tidaklah singkat. Bahkan tidak semua orang dapat melakukan dan mempelajari. Sebab, untuk bisa berenang ke sana atas kehendak Allah. Seseorang itu memang dikehendaki Tuhan. Seorang sufi wanita yang sampai melihat kilauan cahaya Allah adalah Rabiah al-Ahdawiyah. Sejak lahir sudah ditakdirkan menjadi wanita suci. Siang malam berdoa ingin melihat Tuhan. Namun Allah memperingatkan, cukup Musa saja yang punya keinginan itu. Dan, Rabiah al-Ahdawiyah dikehendaki Allah melihat kilauan keagungan cahaya-Nya.
Dapat melihat kilauan cahaya Ilahi, sebenarnya bukanlah pelabuhan terakhir. Namun sudah sangat luar biasa, ketakwaannya melebihi orang alim yang bergelar Auliyah. Ini merupakan cita-cita para kekasih Allah. Sebab, berarti perjalanan seseorang sudah sampai pada memasuki makrifat pada Allah. Sampai pada penyaksian.

Tiga Tingkatan 

Menurut ilmu makrifat, tingkatan makrifat kepada Allah itu ada tiga, yaitu:
1. Makrifat dengan Allah.
2. Makrifat dengan dalil.
3. Makrifat ikut-ikutan (taklid)
Di dalam Aiqazhul-Himam disebukan, “Orang yang makrifat kepada Allah dengan Allah maka itulah dia ‘alim hakiki. Orang yang makrifat  dengan dalil, dia adalah orang ahli kalam, dan orang yang makrifat kepada Allah dengan taklid/ikut saja, itulah orang awam (umum).
Dari ketiga tingkatan itu, yang tertinggi adalah “makrifat kepada Allah dengan Allah.” Banyak orang menyebutnya, golongan inilah yang mencapai tingkat auliya (waliyullah). Maka, ia akan mendapatkan bermacam-macam karomah, sesuai dengan tingkatan mereka disisi Allah. Yang mengetahui benar derajat kewalian itu hanyalah Allah SWT sendiri, atau orang yang mendapat pemberitahuan Allah tentang kewalian seseorang.
Sebuah risalah menyebutkan, “Sebagian tanda-tanda makrifat dengan Allah adalah berhasil mendapat kehebatan wibawa dari Allah.” Maka siapa yang bertambah makrifatnya akan bertambah pula kehebatannya.”
Makrifat/nyufi pernah ngetren di kalangan kaum terpelajar dan eksekutif. Namun, agaknya ada kekeliruan dalam pemahaman dan penafsiran. Jika menempuh jalan makrifat, bermakrifat, sudah tidak perlu lagi menjalankan shalat. Sebab, shalat dianggapnya hanya diperuntukkan orang yang melaksanakan syariat saja. Sedangkan bagi yang sudah makrifat, syariat tidak diperlukan karena sudah bertemu dengan Allah.
Pemahaman yang demikian itu sangat keliru. Seharusnya antara syariat dan hakikat harus dijalankan bersama-sama, karena syariat merupakan ketaatan hamba kepada Allah secara lahiriah dan hakikat adalah ketaatan hamba kepada Allah secara batiniah. Menurut Imam Syafi’i, “Barang siapa melaksanakan syariat tanpa hakikat (tasawuf) adalah Fasiq, sedangkan barang siapa melaksanakan hakikat tanpa syariat adalah Zindiq. Tetapi barang siapa yang berpegang keduanya, maka itulah yang benar.”

Mengenal Diri

         
Untuk berenang di lautan makrifat, ada ajaran pengenalan. Dianjurkan untuk mengenal. Yang dikenali bukan Tuhan, tetapi dirinya sendiri. Syech Amin al-Kurdi menegaskan: “Ketahuilah bahwa pengenalan diri adalah suatu urusan yang penting untuk setiap pribadi. Karena sesungguhnya siapa yang mengenali dirinya sendiri, niscaya ia dapat mengenal Tuhannya, yaitu mengenal dirinya yang hina, lemah serta fana. Dengan itu dia dapat mengenal Tuhannya yang bersifat mulia, kuasa dan kekal abadi. Siapa yang jahil terhadap dirinya berarti ia jahil pula terhadap Tuhannya.”     
KH Haderanie H.N dari Barito, Kalteng, dalam bukunya memaparkan wejangan gurunya mengenai pengenalan diri sebagai berikut: “Orang yang tidak mau mengetahui dirinya sama dengan sebuah karung kosong melompong. Kita ini harus tahu, apa asli diri dan apa nama asli diri ini. Dimana letaknya tanah asal Nabi Adam AS yang ada dalam diri dan apa nama tanah itu. Alam semesta semuanya ada di dalam diri, ada matahari pada diri, matahari yang bergerak dan tidak bergerak, ada angin, air, sungai, tanah, besi, besi kuning, neraka, surga, semuanya ada di dalam diri kita sendiri.
Siapa yang tidak mengetahui surga di dalam diri dan nama surga itu, janganlah dia berharap untuk dapat merasakan surga. Jibril, Mikail, Izrail, Asrafil ataupun Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, semua berada dalam diri dan ada pada nama asli masing-masing.
Siapa yang ingin jagoan, haruslah mengetahui apa nama asli Izrail Pencabut Nyawa dan nama asli Sayyidina Ali RA, dan harus tahu dimana letaknya di dalam diri. Ka’bah juga ada dalam diri kita sendiri. Siapa yang mengetahui letaknya pada diri dan nama asli Ka’bah itu, meskipun tidak pergi berhaji ke Makkah, sama saja nilainya dengan naik haji….”
Artikel ini telah tayang di tabloid posmo pada tahun 2003 secara bersambung. Dengan judul : Tafakur, Konsepsi Islam Jalan Menuju Tuhan. (bersambung). Bung Yon N.