Tafakur, Konsepsi Islam Jalan Menuju Tuhan (3)

189 dibaca

Terminal berikutnya yang harus dilalui oleh seorang salik adalah Faqr. Terminal ini dituju setelah menyucikan diri di terminal zuhud.  Dari terminal Zuhud, seseorang yang berjalan menuju Allah akan meneruskan perjalanannya ke terminal Faqr (kefaqiran). Dalam menjalani kefaqiran/ kemiskinan, seseorang tidak harus hidup menggembel. Tetapi mau menerima apa adanya. Suasana hati biasa-biasa saja, antara saat punya sesuatu dan tidak punya, bahkan ketika kelaparan sama sekali tidak menggerutu atau bersedih. Malahan mensyukuri kondisi keberadaannya.
Bagaimanakah kefaqiran yang dimaksudkan? Orang yang faqir adalah mereka yang membutuhkan apa yang tidak dimilikinya. Dan, semua manusia membutuhkan Allah Ta’ala, karena mereka memerlukan-Nya, demi kelangsungan wujud mereka. Menurut Imam Al-Ghazali, orang miskin itu ada 5 macam, yaitu
1. Miskin karena ia memang berniat tidak menyukai dan menghindari harta dunia. Dia inilah orang Zuhud.
2. Orang yang tidak menghindari dan tidak mengharapkan harta, tapi bila ada tidak dibencinya. Itulah orang yang Ridha.
3. Apabila adanya harta lebih disukainya daripada ketiadaannya, jika datangnya harta tanpa dia berupaya mencarinya walaupun dia mampu mencarinya.
4. Ia menginginkan dan mengharapkannya, tetapi ia tidak berusaha mencarinya karena ia tidak mampu.
5. Harta yang tidak ada padanya itu harus dipunyainya, setelah ada dia berperilaku seperti orang lapar yang tidak punya beras, orang telanjang yang tidak punya baju bagi diri atau anak-anaknya. Orang yang mengalami keadaan ini, jika ia tidak punya keinginan, maka ia adalah orang Zahid yang sebenarnya.
Lebih tinggi dari semua keadaan tersebut, bila ada dan tidak adanya harta sama saja baginya, baik harta yang ditangannya sedikit atau banyak. Ia tidak peduli dan tidak menolak peminta serta tidak memikirkan kebutuhan dirinya.
Di terminal Faqr, seseorang yang berjalan menuju Allah harus menghilangkan kebutuhannya. Dengan kata lain, kebutuhan hidupnya sangat sedikit. Ia tidak akan meminta sebatas yang diperlukan dalam menyempurnakan kewajiban-kewajibannya. Bahkan, ia tidak minta sungguh pun ia tidak punya. Selagi ia mampu dan dapat bekerja, maka tidak akan makan sesuatu pemberian orang lain.
Di terminal Faqr, hari-harinya selalu diisi dengan beribadah kepada Allah Ta’ala, memperbanyak puasa, shalat-shalat sunah, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir. Sedikit tidur. Keluar masuknya nafas kehidupan selalu diisi dengan dzikir. Membaca Laa Ilaha illallah, bertasbih, membaca salawat Nabi, dan lain-lainnya.

Keutamaan Miskin

Diriwayatkan oleh Sayyidina Umar ra bahwa Rasulullah saw berkata kepada para sahabat, “Manusia manakah yang terbaik?”
Para sahabat menjawab, “Orang yang kaya harta dan menunaikan hak Allah Ta’ala pada diri dan hartanya.”
Maka Nabi SAW berkata, “Sungguh ia orang yang baik tetapi bukan itu yang dimaksud.”
Para sahabat bertanya, “Siapakah sebaik-baik manusia ya Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Seseorang Faqir yang memberikan tenaganya.”
Sebuah kabar yang masyur disebutkan, “Orang yang Faqir dari umatku masuk surga 500 tahun sebelum orang-orang kaya mereka.”
Diriwayatkan, Nabi Isa AS melewati seseorang lelaki yang sedang tidur di atas tanah dan dibawah kepalanya ada batu bata, sementara wajah dan janggutnya terbenam di dalam tanah dan ia memakai sarung. Orang itu berkata, “Ya Tuanku, hamba-Mu di dunia ini terlantar.”
Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Isa, “Hai Isa, tidaklah engkau tahu bahwa Aku apabila memadang kepada hamba-Ku dengan wajah-Ku seluruhnya, maka Aku jauhkan dunia seluruhnya darinya!”
Hadits tersebut menjelaskan, bahwa orang miskin dalam arti sesungguhnya, sangat dikasihi oleh Allah. Cintanya Allah kepada seorang hamba yang beriman, dibuktikan dengan dijauhkannya dunia (harta) darinya. Andai saja meminta, maka Allah akan memberi. Tetapi tidak dilakukan, karena jika kaya bisa membuatnya lupa pada Allah, lantaran cintanya beralih pada dunia.
Ada sebuah riwayat, Malaikat Jibril turun kepada Rasulllah SAW. Lalu berkata, “Ya Muhammad, Allah Ta’ala mengirimkan salam kepadamu dan berkata kepadamu: Apakah engkau suka Aku ubah gunung-gunung ini menjadi emas bagimu dan menyertaimu dimana pun engkau berada?”
Rasulullah menundukkan kepala sejenak, kemudian berkata, “Ya Jibril, sesungguhnya dunia adalah negeri bagi orang yang tidak punya negeri dan harta bagi siapa yang tak berharta, dan yang megumpulkannya adalah orang yang tak berakal.”
Jibril pun berkata, “Ya Muhammad, Allah telah menguatkanmu dengan perkataan yang kokoh.”
Nabi Isa As berjalan melewati seorang yang sedang tidur mengenakan baju longgar. Maka beliau membangunkan, “Hai orang yang tidur, bangun dan sebut nama Allah.”
Orang itupun menjawab, “Apa yang engkau inginkan dariku?” Aku telah meninggalkan dunia dari penghuninya.”
Nabi Isa berkata, “Aku mengintai ke dalam surga, maka kulihat sebagian besar penghuninya adalah orang-orang Faqir. Kulihat ke dalam Neraka, yang terbanyak penghuninya adalah orang kaya.”
Nabi berseru, “Hai orang-orang Faqir, berilah Allah ke ridhaan dari hatimu, niscaya kalian mendapat pahala karena kemiskinanmu. Kalau tidak begitu, maka engkau tidak berhasil.”(bersambung). **** Bung Yon N.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here