Dibongkar Belanda, Dianggap Benteng

274 dibaca

 Klenteng Panti Suci di Cepu ini awal mulanya dibangun oleh salah seorang tokoh masyarakat Tiongho. Didalamnya terdapat banyak patung dewa-dewa. Di antara Patung Dewa  Hian Thian Sing Tee. Pada hari ulang tahunnya banyak umat yang datang dari luar dan dalam kota untuk memperingati. Berikut ulasannya. 

Klenteng Tjien Bio  pertama kali dibangun di Ngareng tahun 1937. Atas beaya sendiri oleh tuan Liem Tjien Thwan bersama tuan Tan  Ing Liang, Tan San Tie, Tjie Bong Liem, Liem Djien Tiek, Liem Ping Bian dan Kwee Tjien Bo. Tujuannya untuk menempung umat yang ingin sembayang bersama-sama.

Tahun 1942 sebelum bala tentara Jepang masuk Indonesia, bangunan klenteng  termasuk compleks Ngareng dibongkar atas perintah Belanda dengan dalih pertahanan. Kiem Sien-Sien yang ada di dalam klenteng diboyong oleh Lecu  Tan Tjan Djiang (almarhum), ayah  dari Tuang Tang Ing Liang salah satu pendiri klenteng.

Kemudian tahun 1947 Tjien An Bio dipindahkan ke sebuah rumah tersendiri di Jl Stasiun Kota No. 5 Cepu. Tahun 1958 klenteng baru selesai dibangun  atas biaya masyarakat setempat dan penduduk pribumi yang menganut agama Konghucu. Mereka sangat  guyub dan rukun. Juga memiliki semangat yang tinggi untuk membangu sebuah klenteng.

Pembangunan klenteng  baru itu telah dapat  dilaksanakan berkat  keuletan  para promotornya, antara lain Tan San Tjhie Bong Liem, Liem Ping  Bian, Liem Djien Tik, Kwee Tjie Bo dan Tuan Tjiang Ang Ghay sebagai ahli bangunan Kong An Bio diresmikan dan mulai ditempati pada  Shagwee Djee Iet –2509. Tahun 1963 Ghia-hio yang berikutnya diadakan pada hari Sha gwee Djee Iet 2514. Tahun 1967 Nama klenteng Kong An Bio diganti nama klenteng “Panti Suci” dan diresmikan  tepat pada hari Proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1967.

Klenteng Panti Suci itu dulu diurus oleh perkumpulan Kong An Bio dan kini pengurusnya  dilakukan oleh Yayasan Rumah Ibadah Panti Suci yang tempat tinggalnya berada di luar kota. Meskipun demikian, pelaksanaan  peribadatan berjalan dengan lancar dan teratur sesuai dengan jadwal.

Rumah ibadah tersebut menempati  bangunan seluas lk 644 M2 yang terdiri  beberapa bagian dan ruangan. Yaitu ruangan pendopo, tengah, samping timur dan rumah samping barat. Ruangan  untuk peribadatan  para umat terdiri dari beberapa  altar sembayangan tempat kedudukan  para Sin Bing (para dewa atau Kongco) yang dipujanya, lengkap dengan lilin, tempat pembakaran dupa dan menancapkan hio lidi hio.

Patung Pujaan

Kedudukan  altar meja  sembayangan dengan masing-masing  patung pujaan adalah sbb: ruangan tengah terdapat YM Kongco HIAN THIAN SIANG TEE, HO SIAN KONG, ada dibawahnya. Dan disebelahnya  adalah: Thay Yang Cin Goen, Kong Tik Coen Ong, (satu meja). Makco Thian Siang Sing Bo, (lain meja), Kongco Po Sing Tay Tee (lain meja), Siantee Bi Lik Hud. Dikiri pintu tengah adalah  Kongco Moei Sin.

Rumah samping timur  ruangan berikutnya, terdapat ruangannya untuk meja altar Mak Kwan Im, ruangan berikutnya adalah ruangan Kongco No Tik Cing Sin dan Pek Ho Sin. Diruangan sebelahnya ada altar  Kongco Kwan Tik Koen. Ruangan  samping barat merupakan ruangan paling muka adalah tempat ruangan kebaktian agama Konghucu. Sedangkan bagian belakangnya terdapat kamar dapur dan kamar mandi atau toilet.

Diberanda paling depan seperti lazimnya adalah tempat untuk sembayang kepada Thian. Klenteng Panti Suci ini pujaan utama atau tuan rumahnya adalah Y.M. Kongco HIAN THIAN SING TEE. Karena itu ulang tahun klenteng tersebut  diperingati jatuh pada  tanggal dua belas tahun (Shiejit) yang diperingatinya jatuh pada tanggal dua bulan Sha Gwee Imlik menjelang Sha Gwee Djee.

Pada ulang tahun yang demikian  banyak dikunjungi umat dalam maupun luar kota. Peringatan yang dirayakan adalah Y.M. Kongco Hian Thian Siang Tee tanggal 9 Kaouw Gwee (pengurus). Y.M. Mak Kwan Im Hu Co tanggal 19 bulan Jie Gwee-Lak Gwee-kauw Gwee. Untuk lain-lainnya menurut  roseter yang rotin sembayangan biasa. Keng Hoo Peng setiap Tjhiet-gwee 20 dihalaman klenteng, untuk masyarakat.

Setelah zaman mengalami perubahan klenteng tersebut mengalami kemajuan yang cukup pesat. Kalau zaman  Suharto menjadi presiden tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dan merenovasi . Tapi kini  sudah  mengadakan berbagai kegiatan sembayangan,  bhakti social, menggelar seni Barongsai dan merenovasi bangunan agar lebih megah dan  bersih., CAHYA