Berita

Euforia HJL- 457, Lupakan Pusaka Lamongan Keris Mbah Jimat

▪︎ Pegiat Budaya : Disbudporapar Kurang Peka

▪︎ LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Kabupaten Lamongan berada dalam keramaian, sukacita, euforia dan berpesta karena sedang berulang tahun. Dirgahayu yang ke- 457 ini tepat pada tanggal 26 Mei 2026 esok hari, yang akan ditandai dengan upacara Kirab Pataka dan Pasamuan Agung.

Acara penyerahan selubung Pataka ini akan dimulai dari Gedung DPRD Lamongan dikirab mengelilingi kota dan berakhir di Pendopo Lokatantra. Dilanjutkan Pasamuan Agung yakni napak tilas sejarah, dimana Ronggo Hadi diwisuda oleh Sunan Giri ke 4 (Sunan Prapen) bergelar Tumenggung Surajaya pada tanggal 26 Mei 1569 M silam.

Diantara gemerlap dan gegap gempita berbagai kegiatan HJL, termasuk acara budaya, spiritual dan ritual, nun di salah satu tempat dimana tersimpan Pusaka Lamongan Keris Mbah Kiai Jimat, seakan berada dalam kesunyian yang meratap.

Benarkah keberadaan Keris “Korowelang” Mbah Jimat yang merupakan salah satu benda keramat Simbol Lamongan ini  sudah terabaikan? Apakah otoritas terkait dalam hal ini Dinas Kebudayaan, Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Lamongan lalai dan kurang peka sehingga ritual di Gedong Pusaka tidak masuk dalam agenda HJL.

Pantauan langsung media ini bersama pegiat budaya spiritual Mas Adi Irawan di Gedong Pusaka Mbah Jimat di Jl.Sunan Giri Gg. Pusaka, Groyok Lamongan kondisinya sangat memprihatinkan. Baik tempat (Gedong Pusaka) yang harus segera direnovasi dan ada back up kegiatan tahunan berupa Jamasan Pusaka yang akan berlangsung pasca salat Idul Adha, Rabu (27/5/2026) nanti.

Sedangkan menurut juru kunci Gedong Pusaka, Ibu Wahyu Widowati, kegiatan rutin tahunan berupa Jamasan Pusaka Mbah Jimat sudah berlangsung dari pinisepuh, sehingga ia berharap ada perhatian dari pemangku wilayah dan dinas terkait.

“Jika toh Jamasan Pusaka yang rutinitasnya digelar pasca Idul  Adha, tentu bisa dimasukkan di sela-sela agenda HJL. Misalnya di kegiatan lain-lain namun tetap bersinergi dengan kepanitiaan HJL. Sehingga juru kunci dan kelompok panitia kecil di Gedong Pusaka dimudahkan persiapannya. Misalnya biaya jamas dan uborampe, dll yang diperlukan ada perhatian dari mereka, ” katanya.

Selama ini pemangku Godong Pusaka, Bu Widya (panggilan akrabnya, red) sedikit kesulitan meski ia tidak keberatan untuk menggelar Jamasan pusaka leluhur Lamongan itu.

Karena ia mengaku sudah tugas yang diemban itu merupakan amanah dari kakek hingga mendiang suaminya. Bu Widya merasa tetap terpanggil untuk merawat pusaka yang tidak sekadar disakralkan, tetapi juga dihormati sebagai warisan hidup.

Yakni Keris Korowelang Mbah Jimat yang diyakini berasal dari masa Sunan Giri dan pernah digunakan oleh para adipati atau pemimpin Lamongan di masa lampau.

Jadi, masih menurut Mas Adi yang juga putra sejarahwan, dan budayawan ternama Lamongan H. Achmad Chambali (alm) ini selayaknya sejarah itu tidak dilupakan atau terputus. Karena pusaka Mbah Jimat ini adalah simbol resmi daerah Lamongan,
sebuah identitas yang mengikat masa lalu dengan masa kini.

“Anda sekarang bisa melihat pusakanya, juga ritualnya (jamasan, red). Tetapi tidak semua bisa memahami nilai yang tidak kasat mata itu.

Artinya bukan persoalan mistis,
tapi tentang Mbah Jimat ini merupakan simbol hubungan manusia dengan sejarah dan keyakinan. Jadi yang dijaga bukan hanya kerisnya, tapi makna di baliknya.

Karena ketika tradisi dan sejarah itu berhenti, diputus, sejatinya
bukan fisik pusakanya yang hilang,
melainkan jati dirinya,” tukasnya. (bersambung).▪︎[DANAR SP]

Related Articles

Back to top button