Pariwisata

Fenomena “Embun Upas” dan Jembatan Kaca Wisata Bromo

▪︎ Mampu Tingkatkan Kunjungan Wisata saat Libur Sekolah Juni 2026

▪︎ BROMO – POSMONEWS.com,-
Fenomena langka terlihat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.  Lautan pasir dan tanaman di sekitar kaldera Gunung Bromo tampak memutih akibat diselimuti lapisan tipis mirip salju. Begitu juga dengan Jembatan Kaca dipastikan mulai beroperasi bagi wisatawan pada libur sekolah akhir Juni 2026.

Fenomena langka dikenal masyarakat lokal sebagai embun upas atau frost ini muncul lebih awal seiring masuknya musim kemarau di Indonesia. Suhu udara di kawasan Gunung Bromo dilaporkan mencapai 2 – 5 derajat celsius menjelang subuh.

Fenomena ini menjadi daya tarik luar biasa bagi para pemburu matahari terbit (sunrise). Hamparan pasir yang biasanya berwarna abu-abu gelap berubah menjadi hamparan putih berkilau saat terkena sinar matahari pagi. Danau-danau kecil di sekitar padang savana juga tampak membeku di bagian permukaannya.

Embun upas terjadi ketika embun yang terbentuk pada malam hari membeku karena suhu udara yang sangat dingin. Fenomena tahunan ini selalu jadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin melihat Bromo dengan suasana berbeda.

Menurut data BMKG, fenomena embun upas ini terjadi karena adanya aliran angin monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering ke wilayah Indonesia.

Di dataran tinggi seperti Bromo, hilangnya awan di malam hari menyebabkan panas bumi terlepas ke atmosfer secara maksimal. Akibatnya, suhu udara di permukaan tanah turun sangat drastis hingga melewati titik beku, mengubah embun pagi langsung menjadi kristal es.

▪︎ Jembatan Kaca Dibuka Juni 2026

Sementara itu Jembatan Kaca di kawasan Gunung Bromo dipastikan mulai beroperasi untuk wisatawan pada libur sekolah akhir Juni 2026. Kepastian itu menyusul penandatanganan perjanjian sewa aset Barang Milik Negara (BMN) antara Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) dan CV Sinergi Permata Semesta.

Penandatanganan kerja sama dilakukan di kantor BB TNBTS pada Kamis (11/6/2026). Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan masa sewa pengelolaan berlaku selama lima tahun.

“Kontrak sewa berlaku selama lima tahun, mulai 11 Juni 2026 hingga 10 Juni 2031,” ujar Rudijanta.

Aset yang disewakan meliputi area jembatan kaca seluas 2.429 meter persegi, kawasan shuttle dan sarana pendukung seluas 791 meter persegi, serta jembatan pejalan kaki berlantai kaca seluas 360 meter persegi.

Infrastruktur tersebut dibangun Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan diserahterimakan kepada Kementerian Kehutanan pada Oktober 2025. Jembatan kaca itu disiapkan untuk mendukung pengembangan kawasan wisata Bromo Tengger Semeru yang masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Menjelang pembukaan, pengelola akan melakukan inspeksi menyeluruh dan perawatan praoperasional guna memastikan seluruh fasilitas aman digunakan wisatawan selama musim liburan.

Direktur Utama CV Sinergi Permata Semesta, Achmad Ridho, mengatakan operasional jembatan akan mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) yang disusun Balai Geoteknik, Terowongan, dan Struktur.

“Operasional jembatan akan mengacu pada SOP Balai Geoteknik, Terowongan dan Struktur untuk menjamin keselamatan pengunjung,” kata Ridho.

Selain menyiapkan aspek keselamatan, pihak pengelola juga berkomitmen menjaga kelestarian kawasan konservasi dan melibatkan masyarakat sekitar dalam pengembangan destinasi wisata tersebut.

Dengan mulai beroperasinya jembatan kaca pada akhir Juni mendatang, kawasan Bromo akan memiliki tambahan atraksi wisata baru yang diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan mendorong perputaran ekonomi masyarakat.▪︎(FEND)

Related Articles

Back to top button