Buyut Lebai Diizinkan Ajarkan Islam

223 dibaca

Kampung Loloan berjarak sekitar 90 kilo meter dari Kota Denpasar dimana besar penduduknya berprofesi sebagai pedagang dan nelayan. Kampung Loloan merupakan daerah yang dikenal sebagai pemukiman Muslim sejak lama. Kampung ini dikenal sebagai kampung kuno dan merupakan wilayah umat Islam terbesar di Kabupaten Jembrana. Keberadaan kampung Loloan ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya Bugis dan Melayu yang dibawa oleh sejumlah tokoh di masa lalu.
Diketahui bahwa keberadaan komunitas Muslim di Desa Loloan ini bermula dari kedatangan sejumlah pasukan dari Bugis sekitar 4 abad yang lalu. Prajurit yang menganut agama Islam inilah yang kemudian memilih untuk menetap di sebuah muara kampung di wilayah Perancak, bukti peninggalan ini dapat ditemui dengan adanya Sumur Bajo pinggir pantai. Setelah berhenti sebentar di daerah tersebut, orang-orang Bugis ini kemudian membuat pemukiman melalui jalur Sungai Ijo Gading.
Hubungan antara penganut Islam dan Hindu di Bali memang telah terjalin harmonis sejak lama. Sebab itulah atas izin penguasa Jembrana, I Gusti Arya Pancoran, kelompok Bugis – Melayu ini  diizinkan menempati daerah Loloan. Selaian itu, kedatangan seorang ulama besar dari tanah Melayu bernama Buyut Lebai juga membuktikan hubungan kampung Islam di Bali dengan dunia luar telah terjalin sejak lama. Makam Buyut Lebai sendiri bisa ditemukan di Jalan Gunung Agung, Loloan Timur, Jembrana.
Karena jalinan hubungan baik dengan penguasa setempat, Buyut Lebai diperkenankan untuk  mengajarkan agama melalui dakwah. Penggunaan Bahasa Bugis dan Melayu di Kampung Loloan masih cukup terasa hingga sekarang sekalipun mulai terasa mengalami kelunturan.
Kampung Pegayaman, Buleleng
Kehidupan sehari-hari masyarakat Muslim Pegayaman, Buleleng, tak ubahnya seperti kehidupan di Bali pada umumnya, yang nampak berbeda hanyalah rumah ibadah. Hal ini justru menjadi hal yang cukup unik karena simbol-simbol adat Bali seperti subak, seka, banjar, dipelihara dengan baik oleh kelompok Muslim. Akulturasi agama dan tradisi di Bali nampak harmonis, bahkan termasuk pula dalam pemberian  nama-nama anak mereka. Nama-nama seperti Wayan/Putu, Made, Nyoman, Nengah, Ketut tetap diberikan sebagai kata depan yang khas Bali. Sehingga telinga kita merasakan hal yang unik saat mendengar nama Ketut Abdul Karim, Nyoman Abdurrahman, dan semacamnya.
Asal mula penduduk kampung Pagayaman ini dipercaya berasal dari para prajurit Jawa atau kawula asal Sasak dan Bugis beragama Islam yang dibawa oleh Raja Buleleng pada zaman kerajaan Bali. Tinggal di daerah berbukit yang dikelilingi pepohonan yang rindang, Penduduk Muslim Pagayaman yang berjumlah sekitar 5000 jiwa ini tekun menjaga adat istiadat leluhur di tengah bergulirnya arus kemajuan zaman..
Yang sedikit berbeda dari kebiasaan komunitas Muslim lainya di Bali, di Pagayaman, shalat Tarawih dilakukan menjelenag pukul 22.00 WITA dengan alasan memberikan kesempatan kepada para wanita yang memiiki banyak kesibukan untuk mempersiapkan diri. Jika lebaran tiba, perayaan Idul Fitri di Pagayaman juga dipengaruhi oleh tradisi Bali yang kental berupa pakaian atau pun asesoris yang dikenakan.
Kampung Gelgel, Klungkung
Kampung Gelgel dipercaya sebagai permukiman muslim tertua di Bali. Dari kampung Gelgel inilah sejarah lahir dan tumbuhnya komunitas Islam di Pulau Dewata. Desa Gelgel terletak di Kabupaten Klungkung, sekitar enampuluh kilometer arah timur Denpasar. Di kampung ini banyak ditemukan jejak-jejak penyebaran Islam, salah satunya adalah Masjid Nurul Huda, sebuah  Masjid tertua di Bali, sehingga tidak mengherankan Gelgel disebut sebagai kampung Islam.
Salah satu keunikan Desa Gelgel adalah terdapat aturan bahwa kepala Desa hanya boleh dijabat oleh orang yang beragama Islam. Saat ini setidaknya ada sekitar 280 kepala keluarga atau sekitar 700 jiwa yang hidup di desa tersebut. Selain itu, di Desa Gelgel, terdapat tradisi “Rodatan” yakni sebuah pentas  musik ISlami yang dimainkan warga sekitar pada bulan-bulan tertentu.
Islam diyakini sudah menyebar di Desa Gelgel sejak lama. Penduduk sekitar percaya bahwa sejarah masuknya Muslim ke desa mereka berawal saat Raja Gelgel, Ketut Dalem Klesir, berkunjung ke Majapahit. Saat pulang ke Klungkung, Ketut Dalem dikawal empat puluh prajurit muslim dari Majapahit. Sebagian prajurit ini kemudian tak kembali ke Majapahit. Dengan seizin raja, mereka memilih untuk menetap di Klungkung, mendirikan Masjid Nurul Huda, dan berketurunan. Pasukan Muslim MAjapahit inilah yang dipercaya sebagai penyebar Islam pertama di Bali.es danar pangeran