Disbudporapar Kab Lamongan Terkesan Tutup Mata dan Telinga
▪︎Mengapa Gedung Pusaka Mbah Jimat Terlantar (1)

▪︎ LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Keberadaan Situs Mbah Jimat yang menyimpan pusaka lambang Kabupaten Lamongan keris Korowelang Mbah Kiai Jimat sudah ditelantarkan. Dinas terkait dalam hal ini Disbudporapar yang selama ini memiliki tanggung jawab untuk upaya perawatan, pelestarian dan sejumlah kegiatan di griya pusaka ini terkesan tutup hati, mata dan telinga.
Alih – alih terhadap nasib bangunan Griya Pusaka Mbah Jimat (GPMJ) yang kondisinya sudah memprihatinkan. Bangunannya sudah aus, lapuk dan tidak layak sehingga perlu renovasi. Bahkan tiga pintu di ruang khusus penyimpanan itupun sudah tampak bolong-bolong, keropos karena dimakan rayap. Sungguh memperihatinkan
Menurut juru kunci GPMJ, Ibu Widya, pasca terbakarnya pendopo atau griya tempat penyimpanan pusaka keris asli bernama Mbah Jimat yang dipakai dalam salah satu lambang Kabupaten Lamongan tahun 2012 itu memang belum ada renovasi yang serius atau permanen.
Dikutip dari pendapat seorang pesohor akademisi kampus ternama UGM Yogyakarta yang tidak ingin namanya disebut ini, banyak fenomena yang terjadi di depan mata kita terhadap sikap masa bodoh para pemangku otoritas (dinas terkait, red), terhadap pelestarian situs sejarah dan budaya di beberapa daerah.
Contoh adalah situs GPMJ di Lamongan yang memprihatinkanndan terlantar, sehingga menjadi sorotan berbagai pihak. Anehnya. otoritas terkait dalam hal ini adalah Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) tidak ada respon apalagi turun, melihat kondisi GPMJ.
Hal tersebut dikatakan oleh pegiat sejarah dan budaya dari Lesbumi Bang Yon dan Adi Irawan, yang mengatakan pasca ritual Jamasan Pusaka Mbah Jimat, tidak ada tanggapan dari dinas yang kini diampu Siti Rubikah tersebut.
“Sejauh ini masih belum ada respon dari Dinas. Kabar yang menggembirakan dari dinas terhadap keberlangsungan GPMJ dan kegiatan di dalamnya. Seperti yang didiskusikan oleh pengurus/ panitia jamasan terkait usulan anggaran jamasan, insentif jurukunci dan pengajuan renovasi GPMJ, ” kata pria bernama asli Suyono ini.
Kisah mantan lurah Sukomulyo, Kab. Lamongan, H. M. Yusuf Anez, SH menuturkan pengalamannya saat ia menjabat, meski bukan di wilayahnya namun ia selalu ikut mendukung kegiatan di GPMJ.
Begitupun yang dilihatnya kegiatan jamasan itu sangat antusias, termasuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata saat itu di era bupati M. Syafii As’ari dan M. Farid, mendukung penuh kegiatan Jamasan Pusaka Mbah Jimat.
“Saya menjabat lurah di Sukomulyo selama 13 tahun, sangat hafal dengan kegiatan di GPMJ. Karena saya juga terlibat dalam kepanitiaan, karena memang diminta untuk mendukung acara tahunan ini. Nah, saat itu memang ada anggaran khusus untuk kegiatan Jamasan di GPMJ. Kalau sekarang diabaikan bahkan ditelantarkan, ya itu dinas yang harus tanggung jawab. Apalagi keris Mbah Jimat ini sangat bersejarah, sebagai ikon Lamongan, tentunya harus tetap dilestarikan, ” tuturnya. (bersambung). ▪︎[DANAR SP]
