Lagi, Banjir Merendam Desa- Desa di Aliran Bengawan Solo

▪︎JATIM – POSMONEWS.com,-
Akibat hujan deras yang melanda di sepanjang aliran Bengawan Solo, membuat ratusan desa di tepian Bengawan Solo, teramdam banjir.
Di wilayah Tuban, Bojonegoro, Lamongan dan Gresik, Jawa Timur, sejak Sabtu (17/5/25) hingga Senin (19/5/25) masih digenangi luapan air dari Bengawan Solo.
Di sejumlah wilayah di Kabupaten Tuban, dilaporkan empat kecamatan terdampak cukup parah, yakni Kecamatan Soko, Rengel, Plumpang, dan Widang.
Kepala Pelaksana BPBD Tuban, Dr. Drs. Sudarmaji, mengungkapkan bahwa banjir mulai terjadi sekitar pukul 21.00 WIB. Air sungai meluap dan menggenangi sejumlah desa, jalan poros desa, lahan pertanian, bahkan fasilitas umum.
“Tim langsung turun ke lapangan untuk melakukan pendataan. Kami juga berkoordinasi dengan perangkat desa dan Trantib kecamatan untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Sudarmaji dalam keterangan tertulis, Minggu (18/5/2025).
Di Kecamatan Rengel, banjir merendam beberapa desa. Desa Tambakrejo mengalami genangan sepanjang 3 km di jalan poros desa dengan ketinggian air 20–50 cm. Sekitar 110 hektare sawah, satu SD dan satu TPQ turut terendam hingga 40 cm.
Desa Kanorejo mencatat satu rumah milik warga bernama Mulyono yang terdampak. Sawah seluas 217 hektare terendam hingga 80 cm.
Sementara di Desa Ngadirejo, Karangtinoto, Sawahan, dan Maibit, ratusan hektare lahan pertanian ikut terdampak. Namun rumah warga dilaporkan aman.
Di Kecamatan Soko, genangan dilaporkan terjadi di beberapa titik, termasuk Desa Kenongosari dan Sandingrowo. Lahan sawah dan perkebunan seluas puluhan hektare terendam, dengan ketinggian air rata-rata 30–50 cm.
Di Widang, tiga rumah warga Desa Simorejo terendam air setinggi 15 cm. Desa lainnya seperti Ngadirejo dan Patihan juga mengalami hal serupa, dengan genangan di lahan pertanian dan jalan lingkungan.
Kecamatan Plumpang turut terdampak. Di Desa Kebomlati, jalan poros desa dan dua dusun tergenang air hingga 30 cm. Satu rumah warga dan fasilitas umum seperti MTS Islamiyah juga terendam. Total sekitar 80 hektare sawah terdampak di desa ini.
Desa Kedungsoko dan Klotok juga melaporkan beberapa rumah terendam, termasuk fasilitas TK yang tergenang setinggi 10 cm.
BPBD Tuban terus melakukan monitoring dan pendataan di lapangan.
Sementara itu banjir luapan Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, mulai turun, Jumát (26/2/2016). Tinggi muka air (TMA) di papan duga Taman Bengawan Solo (TBS) yang Kamis kemarin menyentuh titik 14.10 di atas permukaan laut (dpl), kini berangsur-angsur menurun di titik 13.95 dpl.
Meski begitu, Pemkab Bojonegoro meminta agar masyarakat di bantaran bengawan untuk tetap meningkatkan kewaspadaannya karena air sekarang ini bergeser di wilayah timur.
Menurunnya debit air di wilayah Barat Bojonegoro ini menjadi peningkatan tinggi muka air di wilayah wilayah timur. Akibatnya, beberapa kecamatan di wilayah timur dilaporkan tergenang.
Antara lain Kecamatan Kapas meliputi Desa Bogo dengan jumlah lahan tergenang 21 hektar (Ha). Kecamatan Trucuk sebanyak dua yang berdampak yakni Desa Guyangan dengan jumlah sawah tergenang seluas 20 Ha yang ditanami padi berusia 30 hari, dan Desa Trucuk luas lahan tergenang 2 Ha dengan usia tanam 30 dan 40 Hari serta tiga jalan poros desa sepanjang 500 M.
“Banjir di wilayah ini leiih disebabkan air dari Kali Kening yang meluap akibat tersogok Bengawan Solo,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Andik Sudjarwo, Jumát (26/2/2016).
Di Kecamatan Balen jumlah desa tergenang meliputi Desa Pilanggede dengan kerugian jalan lingkungan tergenang 30-45 cementer sepanjang 100 M, sawah dengan tanaman padi umur 60 hari seluas 10 Ha, sawah tidak ada tanaman seluas 70 Ha, tegalan 70 Ha, pekarangan 7 Ha, dan SDN tergenang setinggi 10 – 15 cm.
Di Desa Sarirejo sawah seluas 24 Ha dengan tanaman padi berusia 3 minggu, serta lahan tidak ada tanaman seluas 50 hektare. Desa Kedungbondo sawah tanaman padi yang tergenang seluas 8 Ha dengan umur 40 – 70 hari, jalan poros sepanjang 50 meter dengan kedalaman 35 – 45 cm.
Kemudian Desa Lengkong sawah tanaman padi yang tergenang seluas 15 Ha, jalan poros sepanjang 200 meter dengan kedalaman 20 – 35 cm. Desa Kedungdowo sawah tanaman padi berumur 20 – hari yang tergenang seluas 10 Ha, pekarangan 2 Ha, jalan poros sepanjang 300 meter, jalan lingkungan 800 meter dengan kedalaman 25 – 40 cm, dan dua makam Islam.
Desa Sekaran jumlah sawah tanaman padi seluas 10 Ha berumur 30 – 40 hari, pekarangan 10 Ha, jalan lingkungan sepanjang 100 meter, satu makam Islam dan halaman SDN dengan kedalaman 25 – 35 cm. Desa Prambatan sawah tanaman padi tergenang 5 Ha.
Selain itu, banjir juga menggenai wilayah Kecamatan Kanor yakni Desa Cangakan meliputi sawah ditanami padi berumur 25 hari seluas 56 Ha, Jagung seluas 10 ha, jalan dusun sepanjang 50 meter dengan kedalaman 15-20 cm. Desa Tambahrejo meliputi lahan persawahan padi berumur 20 hari seluas50 Ha dan tegalan yang ditanami jagung seluas 15 Ha.
Sementara di Kecamatan Baureno banjir juga menggenangi Desa Kalisari yang meliputi jalan Dusun Mojopencol sepanjang 2 Kilo Meter Kkm) dengan rata-rata ketinggian air 30-70 cm, rumah tergenang 4 rmh dengan ketinggian air rata-ata 10-30 cm, SDN Kalisari ruang kelas tergenang 10 cm dan halaman sekolahan ketinggian air 60 cm, dan Dusun Sekalang jalan poros yang tergenang sepanjang 1.5 Km dengan ketinggian air 50-70 cm. Desa Tanggungan meliputi Jalan tergenang sepanjang 600 meter dengan ketinggian air 40-50 cm.
Desa Kadungrejo meliputi Jalan lingkungan tergenang sapanjang 200 m dengan ketinggian air 20-40 cm.
Sedangkan hujan deras yang terjadi di Kecamatan Modo membuat sungai desa setempat meluap. Akibatnya, 3 desa di Kecamatan Modo mengalami banjir.
Data yang dihimpun menyebutkan, 3 desa di Kecamatan Modo yang kebanjiran akibat luapan sungai setempat itu adalah Desa Kedungrejo, Sambangrejo dan Karangpilang. Di 3 desa ini banjir merendam jalan desa dan juga areal persawahan.
“Curah hujan yang tinggi di wilayah Desa Yungyang, Pule dan sekitarnya menyebabkan air mengalir ke arah desa Kedungrejo, Sambangrejo, dan Karangpilang. Setiap tahun, saat hujan lebat, air memang mengalir ke sana. Ini adalah pola yang berulang,” kata Plt Kepala BPBD Lamongan, Joko Nursiyanto.
Intensitas curah hujan yang cukup tinggi di Lamongan dalam minggu ini mengakibatkan air sungai meluber. Dua desa di Lamongan terdampak luberan air dan menyebabkan jalan dusun dan halaman gedung sekolah terendam air.
Data yang dihimpun dari BPBD Lamongan menyebutkan, sungai di Lamongan yang meluber adalah Sungai Kruwul yang mengalami kenaikan debit air karena curah hujan yang tinggi. Penyebab lainnya, adalah limpasan air dari Waduk Gondang sehingga air meluber ke area ruas jalan desa dan fasilitas umum.
Dua desa yang terdampak luberan Sungai Kruwul itu adalah Desa Kemlagigede dan Desa Turi yang masuk dalam wilayah Kecamatan Turi.
Di Desa Kemlagigede, luberan air menyebabkan jalan poros sepanjang lebih kurang 400 meter tergenang air dengan ketinggian air sekitar 5 cm. Di Desa Turi, luberan air sungai mengakibatkan fasilitas umum, yaitu SDN Turi tergenang dengan ketinggian air lebih kurang 10 cm.
“Sungai Kruwul mengalami kenaikan debit air yang disebabkan curah hujan tinggi ditambah limpasan air dari Waduk Gondang sehingga air meluber ke area ruas jalan dan fasilitas umum berupa gedung SD,” kata Kadis Kominfo Lamongan, Sugeng Widodo saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (16/5/2025).
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, aparat TNI dan Polri dari Kecamatan Turi terus melakukan pemantauan di lokasi yang terendam banjir. Pemantauan dilakukan seperti di sepanjang aliran sungai dan di jalan-jalan yang terendam air.
“TRC BPBD Lamongan terus berkoordinasi dengan unsur jajaran terkait untuk menentukan langkah selanjutnya. TRC BPBD Lamongan juga menuju ke lokasi kejadian untuk melakukan assesment dan monitoring ketinggian air,” ujarnya.
Dari keterangan petugas di lapangan, air akan surut jika curah hujan yang ada di wilayah Lamongan selatan turun. Jika ada peningkatan curah hujan di wilayah selatan, maka di pastikan banjir juga akan berdampak pada rumah rumah dan lahan sawah warga.
Sementara itu di Kecamatan Bungah, Gresik, hujan yang mengguyur kawasan hulu Bengawan Solo dalam beberapa hari terakhir kembali menimbulkan banjir di sejumlah titik rawan di Kabupaten Gresik.
Kali ini, air meluap hingga menggenangi kawasan pemukiman warga di Desa Bungah, Kecamatan Bungah, pada Minggu (18/5) hingga Senin (19/5). Ketinggian air dilaporkan mencapai 30 hingga 50 sentimeter.
Genangan air mulai masuk ke area rumah warga sekitar pukul 11.30 WIB. Kondisi ini sontak menghambat aktivitas masyarakat dan menimbulkan kekhawatiran akan potensi banjir susulan.
Meski demikian, sejumlah anak-anak di lokasi banjir justru memanfaatkannya sebagai arena bermain air, terlihat membawa ember, pelampung, bahkan berenang di tengah genangan yang merendam jalanan desa.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gresik, F.X. Driatmiko Herlambang, mengonfirmasi bahwa banjir yang terjadi merupakan imbas dari meluapnya aliran Bengawan Solo.
Menurutnya, fenomena ini sudah diprediksi, menyusul peringatan waspada yang dikeluarkan beberapa hari sebelumnya akibat meningkatnya intensitas curah hujan di daerah-daerah yang dilewati aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa itu.
“Beberapa hari terakhir Bengawan Solo memang sudah dalam status waspada. Debit air meningkat karena hujan terus turun di beberapa daerah hulu,” jelas Moko, sapaan akrabnya.
Lebih lanjut, Moko menyebutkan bahwa Desa Bungah termasuk salah satu kawasan yang paling rentan terhadap bencana banjir luapan. Selain letaknya yang berdekatan dengan aliran sungai, desa ini juga belum memiliki sistem tanggul pengaman yang memadai. Akibatnya, saat debit sungai naik, air dengan mudah masuk ke area persawahan dan permukiman warga.
“Kondisi makin diperparah karena belum ada tanggul di desa tersebut. Banjirnya mudah datang, tapi sulit surut karena langsung menggenangi lahan pertanian dan area permukiman,” ungkapnya.
Hingga saat ini, BPBD Gresik masih melakukan pemantauan di lapangan dan bersiaga jika kondisi semakin parah. Belum ada laporan warga yang mengungsi, namun tim reaksi cepat disiagakan untuk membantu evakuasi dan distribusi logistik jika diperlukan.
Fenomena banjir tahunan ini kembali mengingatkan pentingnya pembangunan infrastruktur tanggul dan saluran air yang terintegrasi, khususnya di wilayah yang kerap menjadi langganan banjir seperti Bungah. Warga pun berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah agar bencana ini tidak terus berulang setiap musim hujan.▪︎(ZUB/DANAR SP)


