Kemendikbud Dinilai Menghina Sejarah

• Soal KH. Hasyim Asy’ari Hilang dari Kamus Sejarah
Orang paling penting bagi kaum nahdliyin (masyarakat Nahdlatul Ulama), KH Hasyim Asy’ari, tak ada di Kamus Sejarah Jilid I yang disusun Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud).
Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid menyebut zondernya nama Hasyim Asy’ari di kamus tersebut murni karena ketidaksengajaan. Kamus itu adalah proyek gagal yang kadung masuk proses tata letak karena mengejar tenggat tahun anggaran yang habis pada 2017, meski diketahui belum rampung.
KH. Hasyim Asy’ari sejatinya adalah pendiri NU pada 1926 sekaligus tokoh pergerakan prakemerdekaan. Ia tokoh penting dalam gerakan 10 November di Surabaya bersama Bung Tomo yang kelak diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Di kalangan Nahdliyin, Hasyim Asy’ari dijuluki hadratus syaikh, nama lain dari maha guru atau karib disapa Mbah Hasyim. Chairul Anam, dalam bukunya ‘Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama’ (2008) mengisahkan bahwa Bung Tomo hingga Jenderal Sudirman bahkan kerap sowan atau berkunjung ke Pesantren Mbah Hasyim di Tebuireng, Jombang.
Selain mendirikan NU, Hasyim Asy’ari berperan penting dalam mengembangkan sistem pendidikan pesantren. Model pendidikan itu kelak masyhur di lingkungan warga nahdliyin hingga saat ini.
Pesantren adalah pusat pendidikan agama Islam yang mengharuskan peserta didik dan guru tinggal bersama dalam sebuah lingkungan khusus. Sebuah lingkungan pesantren biasanya terdiri asrama, langgar, dan tempat ibadah seperti masjid.
Muhammad Rifai dalam ‘KH Hasyim Asy’ari: Biografi Singkat 1871-1947 (2009), menyebut Pesantren Tebuireng juga melahirkan partai-partai besar seperti Masyumi, MIAI, serta laskar-laskar perjuangan seperti Sabilillah, Hizbullah, dan lain-lain di era kemerdekaan.
KH. Hasyim Asy’ari adalah kakek dari mendiang Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang merupakan putra dari Wahid Hasyim. Nama terakhir juga merupakan tokoh pergerakan sekaligus menteri negara di Kabinet Pertama.
Hasyim wafat pada 21 Juli 1947. Dan 17 tahun kemudian, pada 1964 ia ditetapkan sebagai pahlawan pergerakan nasional lewat surat keputusan Presiden RI No.284/TK/Tahun 1964, tanggal 17 November.
Penghinaan Sejarah
Pengamat Hukum dan Tata Negara Universitas Trisakti Radian Syam menilai, hilangnya nama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Hasyim Asyari dapat dikatakan sebagai upaya radikalisme, karena radikalisme bukan hanya melakukan penyerangan fisik tapi juga penyerangan pikiran.
“Saya melihatnya ini sebuah penghinaan bagi sebuah sejarah, bahkan kita dapat dikatakan sudah mulai melupakan apa yang telah para tokoh bangsa ini lakukan bagi kita sebagai generasi muda,” katanya, Selasa (20/4/2021).
Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan Kamus Sejarah Indonesia Jilid I yang disebut menghilangkan pendiri NU, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari masih dalam tahap penyempurnaan dan belum resmi diterbitkan. Baca juga: Kamus Sejarah Indonesia, KH Cholil Nafis: Meskipun Draf kok Kiai Hasyim Tidak Ada
Radian menjelaskan andai para tokoh tidak melakukan perjuangan maka tidak menutup kemungkinan Indonesia masih terjajah oleh penjajah. Terlebih menurutnya, KH. Hasyim Asyari bukan hanya milik NU tapi juga milik bangsa Indonesia, karenanya, tak perlu lagi diragukan kesalehan dan keilmuan nya KH. Hasyim Asyari.
Melihat kondisi ini seharusnya pemerintah, lanjutnya, harus lebih hati-hati dalam merumuskan kebijakan terlebih menyangkut sejarah.
“Kita ada dan kita bisa menjadi bangsa yang besar dan/atau menjadi negara demokrasi itu karena sejarah. Kita tidak dapat melupakan bahkan menghilangkan sejarah,” katanya.
Mengutip ucapan bijak, Radian mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghormati jasa dari para pahlawannya dan menjadikan sebagai sejarah dalam kemajuan bangsa.
Diprotes Keluarga
Kamus Sejarah Indonesia Jilid I buatan Kemendikbud menuai protes dari beberapa kalangan lantaran tidak memuat perjuangan pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari. Cucu Pendiri Ponpes Tebuireng, Jombang tersebut khawatir terjadi distorsi sejarah yang akan membuat generasi bangsa kehilangan akar rumputnya.
“Kami sempat membicarakan itu walaupun lewat daring dengan keluarga. Kami mempertanyakan itu juga. Ini hilang atau sengaja dihilangkan. Makanya kami mempertanyakan ke pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud,” kata Cucu KH. Hasyim Asy’ari, M Irfan Yusuf Hasyim saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (20/4/21).
Putra KH. Yusuf Hasyim ini menjelaskan, keluarganya akan segera bersikap terkait tidak dimuatnya nama KH Hasyim Asy’ari di Kamus Sejarah Indonesia Jilid I. Melalui Pengasuh Ponpes Tebuireng, pihaknya akan melayangkan surat ke Kemendikbud untuk menanyakan maksud penghilangan nama mendiang kakeknya itu.
“Kami tidak ingin buku sejarah yang dibaca anak-anak kita nanti ada distorsi yang mengakibatkan kehilangan sejarah. Kalau kehilangan sejarah, anak-anak kita akan kehilangan akar rumputnya. Akan jadi apa anak-anak kita kalau kehilangan sejarah,” terang Irfan.
Ia berharap, Kamus Sejarah Indonesia ditulis secara lurus dan objektif. Kemendikbud sebagai pembuatnya diminta selektif memasukkan tokoh-tokoh ke dalam kamus tersebut.
Ia berharap, Kamus Sejarah Indonesia ditulis secara lurus dan objektif. Kemendikbud sebagai pembuatnya diminta selektif memasukkan tokoh-tokoh ke dalam kamus tersebut.
“Sejarah itu harus lurus. Yang layak masuk kita masukkan, yang belum layak masuk jangan dipaksakan masuk. Jangan sampai sejarah itu menjadi his story atau ceritanya dia, sejarah itu harus menjadi our story,” tandasnya.
Sebelumnya, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid menyebut Kamus Sejarah Indonesia Jilid I tidak pernah dicetak dan diterbitkan secara resmi.
“Buku Kamus Sejarah Indonesia Jilid I tidak pernah diterbitkan secara resmi. Dokumen tidak resmi yang sengaja diedarkan di masyarakat oleh kalangan tertentu merupakan salinan lunak (softcopy) naskah yang masih perlu penyempurnaan. Naskah tersebut tidak pernah kami cetak dan edarkan kepada masyarakat,” kata Hilmar dalam keterangannya yang diunggah di situs Kemendikbud, Selasa (20/4/21).
Hilmar menuturkan naskah Kamus Sejarah Indonesia Jilid I disusun sebelum Nadiem Makarim menjabat sebagai Mendikbud. Hingga kini belum ada rencana penerbitan kamus sejarah dimaksud.**(za)



