Berita Utama

Problematika Peziarah di Makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim, Gresik, Jawa Timur

▪︎ Terminal Wisata Kumuh dan Dua Kali Bea Masuk Tol

▪︎ Oleh: Wiwin Nurhayati

(Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura)

▪︎ GRESIK – POSMONEWS.COM,-
Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim terletak di Jalan Malik Ibrahim, Desa Gapuro Sukolilo, Kota Gresik, Jawa Timur. Sunan Maulana Malik Ibrahim merupakan nama asli dari Sunan Gresik dan sebagai pemimpin para Wali Songo serta wali tertua.

Ia dianggap sebagai salah satu tokoh yang pertama kali dalam menyebarkan agama Islam di Jawa. Ia juga dikenal dengan Makdum Ibrahim As-Samarkandy. Karena nama tersebut, ia diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada abad ke-14. Versi lain Syekh Maulana Malik Ibrahim berasal dari Magribi atau Maroko, Afrika Utara.

Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim menjadi objek wisata religi dan ikon Kota Gresik sebagai kota wisata wali. Banyak wisatawan yang datang untuk berziarah ke makam tersebut.

Ciri Khas Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim tidak berdiri sendiri malainkan dikelilingi oleh pemakaman keluarga dan umum. Di bagian sebelah barat kompleks makam terdapat makam Bupati Gresik pertama, yakni Raden Pusponegoro dan keluarga. Dengan ciri khas yang menjadi daya tarik wisatawan, baik dari bentuk batu nisan maupun bahannya.

Batu nisan bergaya nisan Gujarat yang terbuat dari batu marmer berbentuk lunas kapal khas Gujarat. Sedangkan, model tulisannya banyak dijumpai di negeri Gujarat.

Lokasi Makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim di Kabupaten Gresik, Jawa Timur ini hingga sekarang tetap menjadi daya tarik bagi peziarah dari seluruh Indonesia. Setiap hari ratusan hingga ribuan peziarah berkunjung untuk berdoa dan mengenang salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Namun, di tengah banyaknya pengunjung, ada beberapa masalah yang dihadapi baik oleh peziarah maupun pihak pengelola.

Salah satu keluhan utama yang sering disampaikan oleh peziarah adalah jarak antara tempat parkir dan kompleks makam yang cukup jauh. Mereka harus melanjutkan perjalanan sekitar 3 hingga 5 kilometer dari area parkir menuju makam dengan transportasi tambahan.

Seorang peziarah, Muhammad Ali Hamzah, asal Palembang, menuturkan pada Penulis, bahwa ia datang bersama keluarga besar yang terdiri dari sekitar 18 keluarga, dengan total 24 orang termasuk anak-anak. Dia menyebutkan bahwa perjalanan menuju Gresik membutuhkan waktu satu hari satu malam.

“Ini adalah satu keluarga besar, ada juga anak-anak. Perjalanan dari rumah ke sini memakan waktu satu hari satu malam,” kata Muhammad Ali Hamzah ketika ditemui di area Pendopo Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Dia mengaku telah melakukan ziarah ke makam para Wali Songo sejak lama, dan ia berpergian untuk berziarah hingga belasan kali dalam setahun.

“Saya sudah ziarah sejak tahun 1997 hingga sekarang. Dalam setahun, saya bisa pergi 10 sampai 12 kali,” ujarnya.

Menyoal fenomena jarak parkir bus dengan makam yang dianggap cukup jauh, Muhammad Ali Hamzah menilai pengaturan ini masih dapat diterima asalkan dikelola dengan baik.

“Jika itu sudah menjadi aturan, tidak masalah. Jarak jauh tidak jadi masalah, yang penting teratur dan memudahkan,” ujarnya.

Ia juga membandingkan situasi sekarang dengan masa lalu, ketika kendaraan dapat diparkir langsung dekat makam tanpa adanya aturan yang jelas.

“Dulu kendaraan bisa parkir dekat makam. Namun sekarang pengunjung semakin banyak, jadi perlu diatur. Saya pikir sekarang jauh lebih teratur,” tambahnya.

Untuk mengatasi masalah jarak tersebut, pengelola menyediakan layanan transportasi shuttle yang dikelola oleh koperasi yang bekerja sama dengan Perum Damri. Layanan ini beroperasi selama 24 jam dengan pergantian sistem.

Salah satu petugas lapangan yang bisa ditemui Penulis, Usman, menjelaskan bahwa tarif shuttle ditetapkan sebesar Rp.13. 000 per orang untuk perjalanan pulang pergi.

“Satu tiket Rp13. 000 per orang, sudah termasuk pulang pergi. Satu armada bisa menampung sekitar 20 penumpang,” tutur Usman.
Ia juga menambahkan bahwa tingkat kunjungan peziarah sangat dipengaruhi oleh waktu tertentu.

“Biasanya ramai pada hari Jumat hingga Minggu, atau pada bulan-bulan tertentu dalam kalender Jawa. Saat bulan puasa malah cenderung sepi,” ujarnya.

Dari penuturan Usman, ternyata masalah jarak terminal/ parkir bus peziarah di kawasan Pelabuhan, Gresik itu sudah dipahami para peziarah. Yang menjadi perhatian dan masukan dari peziarah justru masalah perawatan, kebersihan area yang masih terlihat kumuh dan banyak genangan air jika hujan.

Dari area makam, Penulis mencoba menyambangi kawasan Terminal bus Wisata (Religi) Syekh Maulana Malik Ibrahim di kawasan, Lumpur, yang masuk area Pelabuhan Gresik.

Di tempat ini penulis mencoba mewawancarai salah satu Guide Wisata Religi, Fauzan, asal Magelang, Jawa Tengah. Ia yang memandu rombongan peziarah, menilai bahwa sistem transportasi yang sekarang ini cukup aman dan lebih teratur dibandingkan sebelumnya. Dari segi keamanan dan kenyamanan, sudah cukup baik. Tidak kacau seperti sebelumnya dengan banyaknya ojek.

Namun, Fauzan mengingatkan tentang pentingnya kebersihan dan penataan lingkungan yang perlu ditingkatkan. Juga masalah keamanan harus tetap juga diperhatikan.

“Mungkin ke depan bisa lebih dirapikan dan dijaga kebersihannya, terutama setelah hujan karena ada genangan air. Selain masalah jarak dan kebersihan, kurangnya petugas keamanan resmi juga menjadi perhatian,” tuturnya.

Dari area parkir bus dan ruang tunggu peziarah, Penulis menuju area transportasi shuttle. Meski belum dilengkapi dengan pos pengamanan khusus dari pihak berwenang. Namun beberapa orang manajer lapangan sudah siap menerima kehadiran pendatang (peziarah), termasuk penulis.

Adalah Bapak Israel, yang bisa memberi banyak keterangan pada penulis. Bahwa pengelolaan Ziarah Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim, sudah tertata cukup baik setelah ditangani Dinas Perhubungan. Sebelumnya memang diampu Dinas Pariwisata. Dimana pengelolaanya amburadul dan tidak transparan.

Menurut Israel, masalah jarak tempuh dari terminal wisata menuju makam sudah tidak ada kendala. Seiring penataan angkutan mini bus/ shuttle yang cukup memadai. Perbandingan dengan pengelola lama, banyak peziarah yang terlantar. Belum lagi banyaknya ojek yang menarik ongkos cukup mahal.

Masih menurut Israel, problem yang dihadapi peziarah,  tidak lagi transportasi namun keluhan saat menuju makam Syekh Maulana Malik Ibrahim harus melalui jalan tol dua kali (biaya). Karena peziarah dari luar kota biasanya berziarah ke Sunan Giri lebih dahulu, baru ke Maulana Malik Ibrahim.

“Karenanya kalau rombonganya sudah paham, rute, harusnya ke Maulana Malik Ibrahim dulu baru Sunan Giri, dan melanjutkan ke tempat lain dengan melalui tol. Kalau dulu ada jalur lewat kota, tetapi kini sudah stop. Masalah tol ini justru yang mengemuka,” katanya.

Problem lain menurut Israel, adalah kebersihan dan penataan area terminal bis yang masih terlihat kotor, kumuh dan banyak genangan air. Namun di kawasan shuttle sudah cukup baik dan bersih.

Sedangkan perihal keamanan, sampai saat ini, pengamanan masih bergantung pada staf internal.
“Keamanan berasal dari karyawan di sini, namun belum ada pos polisi yang tetap,” katanya.

Namun, Israel menekankan bahwa sejauh ini situasinya relatif aman dan gangguan serius jarang terjadi.

“Syukurlah aman, kejadian jarang,” ucapnya.

Para pengunjung dan pengelola menginginkan adanya peningkatan dalam fasilitas, seperti kebersihan area, perbaikan jalur transportasi, serta penempatan petugas keamanan resmi. Hal ini dianggap penting karena Makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim adalah salah satu tempat wisata religi utama di Jawa Timur. ***

▪︎ 7

Related Articles

Back to top button