OPINI

Dari Tangisan Monalisa hingga Horor Selepas Tahlil

▪︎ Oleh : Danar S Pangeran (Jurnalis dan Kabiro posmonews.com di Lamongan)

JIKA Anda kangen dengan kabar yang trending topik di Lamongan, sepekan dan mengakhiri bulan Maret 2026, di Minggu keempat ini, ada yang menarik untuk menjadi perenungan. Selain kabar banjir di Bengawan Njero yang sudah mulai surut dan meninggalkan jejak-jejak infrastruktur (jalan, red) yang rusak akibat genangan air selama hampir empat bulan tersebut.

Dari catatan penulis, ada dua peristiwa menarik di kota soto Lamongan, yakni
kasus Nyonya Mon dan Horor Selepas Tahlil. Meski sudah banyak pembaca mengikuti pemberitaan dua topik tersebut, namun ada baiknya penulis angkat kembali untuk yang masih ketinggalan informasi.

Per Maret 2026, terjadi kasus yang melibatkan Ny. Monalisa, seorang wanita yang bukan tokoh terkenal di karya lukisan Senyum Monalisa, hasil goresan tangan Leonardo da Vinci. Monalisa yang akhirnya oleh media disingkat Ny, Mon, berasal dari Brondong, Lamongan yang mendadak viral karena terjerat permasalahan hutang rentenir dan koperasi harian (KPR), koperasi perkreditan rakyat, atau yang lebih akrab dengan sebutan Bank Thithil.

Monalisa, warga Dusun Brondong, RT 01 RW 04, Desa Brondong, Kecamatan Brondong, Lamongan, terlilit hutang kepada rentenir (tetangga) dan koperasi harian yang bunganya sangat tinggi.

Kasus ini mendapat perhatian setelah viral di media sosial karena keluhan mengenai beratnya bunga hutang yang ditanggung,

Apalagi, setelah dia mendatangi Ipda Purnomo, polisi Lamongan yang sudah ternama memiliki konten di medsos. Keluh kesah Ny. Monakhirnya terekspose dan akhirnya menjadi bola api panas yang menggelinding di ruang publik.

Gayung bersambut, ketik pihak Polsek Brondong bersama unsur Forkopimcam (Camat dan Lurah) melakukan penjemputan dan mediasi untuk membantu menyelesaikan masalah ini.

Camat dan Lurah Brondong sepakat menyelesaikan sisa hutang Ny. Monalisa secara gotong royong. Selain penyelesaian hutang, dua anak Ny. Monalisa yang sempat putus sekolah akan dikembalikan ke sekolah untuk melanjutkan pendidikan.

Topik kedua, adalah menyoal film dengan genre horor yang kembali menjadi trending di warga Lamongan, terutama kalangan remaja (millenial hingga Gen Z, red). Yakni film besutan Adriano Rudiman berjudul Setelah Tahlil yang telah tayang di layar lebar Indonesia.

Sebenarnya film Selepas Tahlil ini sudah tayang di bioskop tanah air sejak 10 Juli 2025. Film ini telah mencatatkan lebih dari 170 ribu penonton dalam satu pekan penayangannya.

Film ini mengangkat latar sebuah desa di Jawa Timur yang kental dengan ritual adat, simbol-simbol kematian, serta unsur spiritual kejawen. Hal tersebut memperkuat atmosfer mistis di sepanjang cerita yang msih diyakini di keseharian masyarakat desa. Tentang selamatan dari 3,7,40, 100, 1000 hari, tahlilan, hingga hantu gentayangan orang yang meninggal.

Menjadi menarik karena, film ini mengadopsi cerita mistis di Jawa Timur, dengan setting Surabaya dan Lamongan, yang sempat viral setelah dibahas di sebuah podcast, tiga tahun silam. Mengisahkan tentang Saras dan Yudhis yang mengalami duka mendalam karena kematian sang Ayah, sekaligus teror horor yang menyertainya.

Syahdan pasca kematian ayahnya, muncul teror yang dialami kakak beradik Saras dan Yudhis. Pasalnya, ayah mereka, meninggal mendadak. Hingga muncul perdebatan mengenai tempat pemakaman sang ayah. Saras ingin menguburkan ayahnya di Surabaya, di sebelah makam ibunya. Namun, keinginan terakhir almarhum justru berbeda. Ia meminta untuk dimakamkan di kampung halamannya, Lamongan.

Ketegangan di antara dua saudara ini pun mulai terasa, dan keputusan soal pemakaman menjadi titik awal dari berbagai kejadian di luar nalar yang kemudian mereka alami.

Hingga malam tahlilan pun berlangsung. Momen yang yang seharusnya berlangsung tenang dan khusyuk tiba-tiba berubah mencekam. Di tengah lantunan doa para pelayat, jenazah Hadi tiba-tiba bangkit. Sontak, hal itu membuat semua orang panik dan ketakutan.

Tak sampai di sana, peristiwa aneh masih berlangsung di keesokan harinya, di mana jasad Hadi yang diletakkan di ruang tengah rumah mendadak lenyap. Kepanikan semakin menjadi ketika diketahui bahwa jenazah tersebut telah berada di rumah Paklek mereka di Lamongan, seolah berpindah tempat dengan sendirinya.

Dari sinilah teror dimulai. Sejak saat itu, kejadian-kejadian aneh mulai menghantui Saras dan Yudhis. Saras, yang selama ini tak percaya hal-hal gaib, mulai diganggu mimpi-mimpi buruk dan tanda-tanda yang tidak bisa dijelaskan logika. Ia perlahan mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang belum selesai terkait kematian ayah mereka.

Sementara Yudhis lebih dulu meyakini bahwa semua gangguan ini berakar pada masa lalu yang belum terselesaikan. Ketegangan makin memuncak saat mereka menemukan sebuah surat wasiat yang disembunyikan di kamar sang ayah.

Surat itu mengungkap konflik lama dalam keluarga, termasuk rahasia dan luka yang selama ini tertutup rapat sebagai misteri yang harus diungkap.***

Related Articles

Back to top button