Menteri Basuki Merestui Merger PT. HK- PT. WSKT
▪︎JAKARTA – POSMONEWS.com,-
Kabar rencana merger BUMN Karya, PT Hutama Karya(Persero) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) kabarnya sudah mendapatkan restu dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono.
“Bersama dengan Pak Bas (Basuki Hadimuljono) dan Menteri BUMN Erick Thohir kan sudah disepakati ini. Jadi, kami harus atur lagi kira-kira waktunya karena harus dilihat pembukuan yang sehat HK dan Waskita,” ucap Sekretaris Kementerian BUMN, Rabin Indrajad Hattari saat di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/8/2024) lalu.
Menanggapi hal itu, Juru Bicara Kementerian PUPR, Endra S. Atmawidjaja, menuturkan bahwa pembahasan tersebut memang telah dilakukan beberapa waktu belakangan. Sayangnya, Endra belum dapat mengonfirmasi mengenai restu Menteri Basuki atas peleburan PT. HK dan PT. WSKT tersebut.
“Katanya sudah, tapi saya belum baca tuh keputusannya. Iya baru satu itu HK dan WSKT, tetapi saya enggak pernah ikut pembahasan itu,” jelasnya.
Lebih jauh Endra menjelaskan, pada dasarnya rencana peleburan itu dilakukan untuk menyehatkan posisi keuangan antar BUMN Karya. Berdasarkan catatan Bisnis, Menteri BUMN Erick Thohir sempat menyampaikan bahwa pihaknya sudah bersurat kepada Menteri PUPR Basuki Hadimuljono perihal rencana penggabungan BUMN Karya.
“Saya sudah kirim surat ke Pak Basuki dan sudah direviu oleh Menteri Keuangan [Sri Mulyani]. Kami menunggu saja prosesnya dari Kementerian PUPR,” ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Adapun, Kementerian BUMN di bawah komando Erick Thohir memang berencana melebur perusahaan pelat merah konstruksi dari 7 perusahaan menjadi tiga klaster.
Selain Waskita dan Hutama Karya, BUMN Karya yang bakal dilebur adalah PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero).
Skemanya, Adhi Karya akan menjadi induk holding bagi Brantas dan Nindya. Selanjutnya Kementerian BUMN bakal ‘mengawinkan’ PTPP dengan Wijaya Karya.
▪︎Kapan Dieksekusi?
Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Mahendra Sinulingga, mengatakan eksekusi penggabungan BUMN karya, khususnya antara HK dan Waskita masih akan menunggu peralihan pemerintahan baru.
“Merger BUMN Karya juga menunggu pemerintahan baru, tapi tetap dikejar mudah-mudahan tahun ini,” ujarnya saat ditemui di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (20/8/2024).
Arya memperkirakan merger antara HK dan Waskita Karya bisa terlaksana pada Oktober 2024. Artinya, lini masa tersebut mundur dari rencana awal Kementerian BUMN. Eksekusi ini melorot dari rencana awal yang menargetkan proses integrasi rampung pada Juli–September 2024.
▪︎Kinerja HK dan WSKT
Dikutip dari Bisnis.com bahwa
dari laporan keuangan semester I/2024, kinerja WSKT dan HK saling bertolak belakang. WSKT berkutat dengan kerugian, sedangkan HK mencetak rekor laba. WSKT tercatat membukukan rugi bersih sebesar Rp 2,15 triliun pada semester I/2024, membengkak 4,18% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari posisi rugi sebesar Rp 2,07 triliun pada semester I/2024.
Sedangkan rugi WSKT pada semester I/2024 itu disebabkan membengkaknya beban keuangan. Beban keuangan bagian rugi bersih perseroan tercatat sebesar Rp 2,29 triliun, naik 10,60% YoY.
PT. WSKT membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 4,47 triliun, turun 15,19% YoY. Pendapatan jasa konstruksi berkontribusi paling besar yakni senilai Rp 3,12 triliun, turun 28,17% YoY. Selanjutnya ada pendapatan dari penjualan precast sebesar Rp 610,96 miliar dan pendapatan jalan tol senilai Rp 463,34 miliar. Sisanya berasal dari pendapatan properti, penjualan infrastruktur, pendapatan hotel dan sewa gedung.
Seiring dengan meningkatnya pendapatan, WSKT mampu menekan beban pokok penjualan menjadi Rp 3,87 triliun, turun 19,42% YoY. Alhasil, laba bruto WSKt sebesar Rp 595,49 miliar. Setelah dikurangi sejumlah beban, termasuk beban keuangan bagian dari rugi bersih yang sebesar Rp 2,29 triliun, rugi sebelum pajak WSKT menjadi Rp 2,56 triliun.
Adapun, total liabilitas WSKT ialah sebesar Rp 82,01 triliun, turun 2,35% dari Desember 2023, sementara aset WSKT ialah sebanyak 91,10 triliun, turun 4,70% dibandingkan posisi akhir 2023. Dari lantai bursa, saham WSKT telah disuspensi lebih dari 1 tahun. Alasan suspensi Waskita lantaran perseroan gagal membayar utang obligasi jatuh tempo yakni Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap IV Tahun 2019 Seri B senilai Rp 1,36 triliun, dengan bunga tetap 9,75% per tahun.
Surat utang ini memiliki jangka waktu lima tahun, dengan masa jatuh tempo 16 Mei 2024. WSKT kini berburu dengan waktu untuk keluar dari tekanan keuangan dan risiko delisting jika disuspensi hingga Mei 2025.
▪︎Kinerja Hutama Karya
Di sisi lain, Hutama Karya atau HK mencetak laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 388,41 miliar pada semester I/2024, naik signifikan jika dibandingkan capaian semester I/2023 yang senilai Rp 23,36 miliar. Laba HK itu lebih besar jika dibandingkan emiten konstruksi pelat merah lainnya seperti ADHI yang sebesar Rp 13,77 miliar ataupun PTPP yang sebesar Rp 182,41 miliar.
Sedangkan HK melaporkan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 12,44 triliun pada semester I/2024, turun tipis dari posisi Rp 12,48 triliun pada semester I/2023. Namun, HK mampu menekan beban pokok pendapatan menjadi Rp 10,61 triliun, turun 3,07% YoY.
Setelah dikurangi sejumlah beban lain termasuk biaya keuangan yang senilai Rp 1,16 triliun, laba periode berjalan menjadi sebesar Rp 396,43 miliar.
Direktur Utama Hutama Karya, Budi Harto, mengatakan bahwa total aset perusahaan sebesar Rp 188,77 triliun, naik kenaikan 28,79% (YoY). Dari sisi EBITDA, perusahaan membukukan realisasi sebesar Rp 1,7 triliun, sementara ekuitas perusahaan meningkat signifikan.
“Posisi ekuitas hingga adalah Rp135,62 triliun dengan peningkatan 57,87% YoY atau sebesar Rp 49,7 Triliun. Peningkatan ekuitas ini diiringi dengan penurunan liabilitas perusahaan sebesar 12,40% YoY, yang kini mencapai Rp53,2 triliun,” ujarnya dalam keterangan resmi baru-baru ini.
Budi menjelaskan kenaikan ekuitas dipengaruhi oleh dua faktor utama. Pertama, pada akhir tahun 2023, perusahaan berhasil kembali menerima Penyertaan Modal Negara (PMN) yang berkontribusi pada peningkatan ekuitas. Kedua, raihan laba bersih yang berhasil dibukukan pada semester I/2024, menunjukkan peningkatan signifikan dari periode yang sama di tahun 2023.
Adapun, penurunan liabilitas disebabkan oleh pelunasan pinjaman terkait Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) atas hasil dari asset recycling pada akhir Juni 2023 lalu.
“Ini juga merupakan upaya perusahaan dalam mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan serta kemampuannya dalam menghadapi tantangan ekonomi dan industri,” jelasnya.
Hingga sejauh ini, HK memperoleh kontak baru sebesar Rp 12,4 triliun di mana segmen dengan kontribusi terbesar pada perolehan kontrak baru bersumber dari sektor Jalan dan Jembatan sebesar 69,54%, disusul sektor proyek infrastruktur air sebesar 16,24%.
“Proyek-proyek BUMN mendominasi perolehan kontrak baru Hutama Karya dengan kontribusi mencapai 71,53%, disusul oleh proyek pemerintah sebesar 21,09% dan proyek swasta sebesar 7,38%. Hutama Karya optimistis dapat terus mengejar kontrak baru di sisa tahun 2024 sesuai target,” imbuhnya.▪︎[FEND]



