Berita Utama

Kejayaan Putra Daerah

• Perang Metafisik Pilkada Jatim (2)
Meski telah mendaftar ke KPUD masing-masing, namun masih ada juga kemungkinan paslon ini terpental karena persyaratan administratif dan kesehatannya. Tetapi prosentasenya sangat kecil, mengingat kesiapan para calon bupati dan wakil bupati di setiap daerah itu sudah sangatlah perfek. Tinggal selangkah lagi mereka akan ditetapkan KPUD, dan selanjutnya akan mmasukpada fase undian nomor paslon.

Tentang nomor paslon ini nantinya akan ramai dalam penafsiran spiritualitas. Posmonews. com juga berencana untuk menurunkan tulisan khusus tentang peruntungan paslon berdasarkan nomor undian Pilkada itu. Namun sebelum ke fase itu, posmo mencoba mewawancarai narasumber tokoh Kasepuhan Ponorogo, Ki Joko Bodo (Arjuna Nusantara) , pemangku Kedaton Tunjungseta Wengker, yang berada di Desa Crabak, Slahung, Ponorogo, Jawa Timur.

Prediksi Ki Joko Bodo terkait Pilkada Jawa Timur disebutnya akan sangat ramai karena pada periodesasi pemilihan tahun 2020 ini munculnya fenomena gerak alam. Dayanya membuka kesadaran warga yang akan memilih pemimpinnya itu tanpa dipengaruhi oleh uang. Warga masyarakat akan memilih pemimpin idolanya sesuai hati nurani dan meninggalkan iming-iming money politic.

“Gerak alam ini juga menggerakkan kesadaran manusia, untuk lebih transparan dalam memilih pemimpin yang benar-benar diharapkan bisa membawa kemaslahatan. Tidak lagi terpesona dengan materril (uang). Framenya bahwa kesadaran warga itu sesuai dengan ketetapan hukum alam, ” tutur Ki Joko Bodo.

Adapun tentang wangsit atau pulung Pilkada Jawa Timur, menurut spiritualis yang beberapakali meraih gelar posmo award dan penghargaan spiritual lainnya ini, sudah diritualkan oleh Ki Joko Bodo sebagai hakikat pulung kedamaian dunia. Tujuannya Laku lampah batin ini ia lakukan pada tanggal 10 Muharram 2020, 10 Suro di puncak Gunung Pringgitan.

Joko Bodo melakukan ritual, panyuwunan yang universal. Wangsit itu adalah menata umat seluruh dunia. Dhawuh yang diterimanya disebutnya dengan nama PANCA RASA, yang terdiri dari 5 point, yakni : 1. Sadar. 2. Saleh. 3. Sabar
4. Syukur. 5. Ikhlas. Lima konsep ini berlaku untuk semua umat. Termasuk juga 2 pilihan dari wangsit agung itu, yakni pertama, Dihancurkan. Ataukah Direhalitasi. Jika memang direhailitasi ya harus butuh kesiapan fisik, mental maupun spiritual.

“Panca Rasa ini bisa berlaku update hingga di setiap zaman. Jadi siapapun yang nalisir saka bebener (menyalahi aturan) 5 konsep itu akan sebagaimana hukum seleksi alam, maka akan tergilas oleh alam,” sambungnya.

Sebenarnya ada keterkaitan wangsit Panca Rasa ini dengan kegiatan Ki Joko Bodo, pada tanggal 20-02-2020 di Menteng Jakarta, ia membacakan teks Deklarasi Peradaban Baru. Hal ini dimaksudkan untuk menata peradaban moral manusia.

Sedangkan penjabaran Panca Rasa ini jika dikaitkan dengan Pilkada, bahwa frame kesadaran masyarakat itu juga meninggikan nilai putra daerah yang berpeluang besar bisa menjadi pemimpin di wilayahnya. Mengapa? Dalam hukum alam, jelas akan memilih dan berpihak pada orang yang mengerti dan memahami daerahnya.

“Konsep kesadaran masyarakat untuk tidak memilih orang asing (luar) yang tiba-tiba datang ke daerah Anda, dengan segudang uang. Bisa membeli suara Anda hingga ia jadi pemimpin. Dalam konsep Panca Rasa, itu tidak akan terjadi. Karena disebut melanggar ketetapan hukum alam itu. Jadi untuk Pilkada Jatim tahun ini calon pemimpin yang asli putra daerah, memiliki kans kemenangan dan kejayaan, ” tukasnya. (bersambung)
*DANAR SP*

Related Articles

Back to top button