Berita

Lestarikan Kearifan Adat, Warga Lamongan Gelar Sedekah Bumi

▪︎LAMONGAN-POSMONEWS.COM,-
Tradisi adat Sedekah Bumi masih tetap dilestarikan warga petani di pedesaan sebagai simbol rasa syukur pada Tuhan, hasil bumi (panen) melimpah, sekaligus berharap dihindarkan dari musibah, balak dan penyakit.

Tradisi Sedekah Bumi di wilayah Lamongan selatan itu tetap digelar warga di Dusun Pilangbango, Desa Baturono, Kecamatan Sukidadi, pada hari Sabtu (20/8/2022) kemarin.

Ritual syukuran para petani ini selalu digelar pasca panen dengan warga membawa tumpeng, makanan, jajanan tradisional dan buah di letakkan di tampah. Kemudian dibawa ke telaga dusun konon diyakini sebagai punden desa.

Meski tak ada bukti kesejarahan yakni bukti makam tokoh. Namun, masyarakat menyebut bahwa di tempat ini adalah tempat moksa sang tokoh yakni Eyang Dipo. Warga setempat dipercaya sebagai tokoh sakti trah dari Majapahit.

Mitos inilah yang dituturkan sebagai folklor oleh para pinisepuh pada warga setempat sehingga setiap tahun selalu digelar ritual sedekah bumi.

Seniman, Kasun Pilang Bango pada media ini menuturkan dengan menggelar tradisi tersebut warga mengharap hasil panennya selalu melimpah. Selain itu dijauhkan dari hama dan penyakit seperti walang sangit, wereng, tikus, serta berbagai hama lainnya.

“Sedekah bumi di dusun kami rutin kami gelar, dan sebisanya nanggap wayang kulit. Apalagi jika situasi darurat. Warga akan gotong-royong peduli untuk iuran nanggap wayang,” kata Seniman.

Ada keanehan jika dusun ini menggelar wayangan, kadang di situasi kemarau tiba-tiba hujan turun.

Menguat pandangan Kasun, tokoh agama Pilangbango, Modin Suriyanto mengatakan tradisi sedekah bumi selain melestarikan budaya Jawa, agar warga selalu bersabar dan syukur pada Yang Maha Pencipta.

“Selain syukuran juga sebagai ajang silaturahmi, agar warga juga selalu guyub rukun sehingga kehidupan sehari-harinya bisa tenteram dan damai,” lanjutnya.

Sedangkan budayawan Lamongan, Ki Wiros Bardan memberi tanggapan untuk pelestarian adat budaya dan tradisi di Lamongan ini tetap didukung pemerintah dan para tokoh adat.

Ki Bardan melihat tradisi sedekah bumi di Lamongan misalnya, sudah berganti menjadi upacara yang bernafaskan Islam. Hal ini sesuai dengan prinsip ajaran Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yakni melestarikan nilai-nilai lama yang baik, dan mengambil nilai baru yang lebih baik.

“Di acara Sedekah bumi biasanya para warga juga menggelar tahlilan dan kirim doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama di masyarakat setempat untuk kirim doa keluarga dan para leluhur terdahulu,” tukasnya.**(DANAR SP)

Related Articles

Back to top button