Nyebal Pakem, Pentas Wayang Kulit HJL Ke-455, Gelar Lakon Kidung Madali
▪︎LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Setiap orang yang menonton pagelaran wayang kulit pasti berpikir akan lakon pakem Ramayana dan Mahabarata. Dua lakon tersebut sudah demikian akrab bagi para pecandu wayang kulit di tanah air dan dimainkan oleh para dalam pesohor hingga lokal.
Namun selain lakon pakem, wayang kulit juga mengenal lakon carangan atau rekaan. Seperti Lakon Kidung Madali yang akan digelar dalam rangka Hari Jadi Lamongan (HJL) ke-455, Sabtu (1/6/2024) malam ini.
Publik wayangmania di daerah lain pasti bertanya-tanya bagaimana isi lakon Kidung Madali ini?
Ternyata lakon Kidung Madali mengkisahkan tentang sejarah Mahapatih Gajah Mada. Lakon wayang ini juga sudah pernah digelar (dipentaskan) di Situs Sitinggil Majarejo, Kecamatan Modo dengan diprakarsai oleh Paguyuban Wilwatikta. Saat itu, lakon Kidung Madali dibawakan dalang Ki Ardhi Poerboantono dari Malang, Sabtu (27/1/2024) silam.
Kidung Medali dimulai dari kisah kelahiran Gajah Mada. Lakon Kidung Madali ini berkisah tentang Gajah Mada ketika Mada kecil, yang hanya seorang diri menangis keras di gunung Ratu, Ngimbang. Itu dipercaya sebagai tempat lahir dan bertumbuhnya Jaka Mada.
Kemudian datanglah Ki Gede Sidowayah untuk menolong. Saat itu didapati ternyata sang bayi tersebut menangis di samping ibunya yang sudah meninggal dunia.
Ki Gede Sidowayah menolong bayi tersebut dan memakamkan jasad perempuan yang merupakan ibu dari Gajah Mada. Ki Gede Sidowayah juga menemukan kotak yang berisi mahkota dan pakaian ratu sehingga sejak saat itu gunung tersebut di beri nama Ratu. Lalu, Ki Gede Sidowayah membawa bayi tersebut ke Modo dan dititipkan ke Mbok Rondo Wora Wari. Juga menyimpan kotak yang berisi mahkota dan pakaian ratu tersebut. Mada kecil dididik oleh Ki Gede Sidowayah sampai pada akhirnya bisa menjadi prajurit Majapahit.
Saat menjadi prajurit dan mendapatkan posisi menjadi pimpinan prajurit itulah, Ki Gede Sidowayah membuka kisah tentang penemuan bayi di samping jasad ibunya serta menemukan kotak berisikan mahkota tersebut kepada Gajah Mada dan beberapa elite Majapahit.
Lakon wayang ini terus berlanjut hingga terbongkar siapa Gajah Mada dan sosok yang ada di Gunung Ratu. Dan episode berlanjut saat bagaimana Gajah Mada mampu membawa kejayaan Majapahit bersama Raja Hayamwuruk.
Menurut pengamat budaya Arie Groyok lakon wayang di HJL ke-455 ini mencoba menguatkan tokoh sejarah lokal yang disebut membawa kejayaan Lamongan.
“Maknanya ingin melegitimasi tokoh leluhur, ksatria dan sejarah Lamongan. Salah satunya Gajahmada yang dalam cerita tutur diakui berasal dari Modo, Lamongan. Padahal dalam sejarah yang berdasarkan data, buku literatur, prasasti, dll asal usul Gajahmada memiliki banyak versi,” katanya.
Sedangkan sumber lain, di kalangan tokoh budaya spiritual yang tidak ingin disebutkan namanya, memandang kurang pas jika HJL menggelar lakon di luar pakem atau Nyebal Pakem.
“Kalau umumnya wayangan di hari jadi suatu daerah, banyak pilihan lakon seperti Tumurune Wahyu A hingga Z, atau tokoh siapa Mbangun negaranya, dll itu semua ada pakemnya.
Di tahun lalu HJL menggelar lakon Kresna Gugah, sangat bagus dan luar biasa. Dalangnya juga asli Lamongan Ki Sinarto, S.Kar, MM yang juga Kepala Dinas Pariwisara Jatim, dengan sinden kelas Nasional dan Internasional. Jika tahun ini berubah dan dirasa ada kemunduran ya mudah-mudahan tidak jadi tengara,” tegasnya.▪︎[DANAR SP]


